Blog informasi seputar dunia pendidikan

Tampilkan postingan dengan label 2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2017. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2020

Simpatika Semester 2 2019-2020 Jadwal dan Jenis Layanan

Berikut ini adalah jadwal dan jenis layanan Simpatika yang akan segera dibuka.

1. Proses Operasional Simpatika

Setelah mengalami 'masa istirahat' dan persiapan selama satu bulan, maka terhitung pada tanggal 1 Februari 2020, proses operasional layanan Simpatika telah dibuka. Guru dan Kepala Madrasah dapat mulai melakukan pemutakhiran (update) data.

Update data di sini meliputi yang harus dikerjakan oleh masing-masing PTK, seperti:

  1. Keaktifan Diri dan Cetak Kartu GTK (wajib)
  2. Update Biodata PTK (jika ada)
  3. Mutasi Madrasah Induk PTK (jika ada)
  4. Alih Fungsi PTK dari Tenaga Pendidik menjadi Pendidik atau sebaliknya (jika ada)
  5. Pengajuan Sekolah Non Induk (jika ada)
  6. Registrasi PTK Baru (jika ada)

Update data yang dilakukan oleh Kepala Madrasah atau Operator Madrasah, meliputi:

  1. Mengisi Jadwal Kelas Mingguan
  2. Mengangkat Wali Kelas
  3. Mengangkat Pejabat Madrasah atau tugas tambahan (seperti Wakil Kepala Madrasah, Kepala Laboratorium, Kepala Perpustakaan, dll, jika diperlukan)
  4. Update data siswa dan rombel (jika ada perubahan data)
  5. Melakukan Persetujuan Registrasi PTK Baru (jika ada)
  6. Melakukan Persetujuan Pengajuan Sekolah Non Induk (jika ada)
  7. Melakukan Non Aktif PTK (jika ada)

Proses pemutakhiran data tersebut di atas, harus dilakukan sebelum Kepala Madrasah mencetak S25 (Keaktifan Kolektif).




2. Verval Ijazah S1/DIV, S2, hingga S3

Verval Ijazah S1/DIV, S2, hingga S3 ini merupakan hal yang baru. Layanan ini akan dibuka mulai 3 Februari 2020.

Ketika seorang PTK login ke akun simpatika-nya, maka akan muncul notifikasi untuk mengajukan Verval Ijazah untuk riwayat pendidikan jenjang S1. PTK tinggal mengklik tombol Verval Ijazah yang ada di bagian bawah notifikasi.

Untuk melakukan Verval Ijazah dapat juga dengan mengklik menu "Perubahan Data kepegawaian" >> "Verval Ijazah" >> "Ajukan Verval".

Setelah muncul kotak "Ajuan Data Verval Ijazah S1/D4", klik tombol tombol "plus (+)" jika belum ada datanya, atau klik segitiga di ujung kanan data kualifikasi pendidikan lalu klik "Ubah Data". Isikan kolom-kolom yang kosong atau salah, termasuk mengunggah file scan ijazah.

3. Keaktifan Kolektif (S25) dan Analisa Tunjangan

Fitur Keaktifan Kolektif (S25) dan Analisa Tunjangan akan dibuka pada 10 Februari 2020.

Keaktifan kolektif (S25) dilakukan oleh Kepala Madrasah melalui akun PTK miliknya setelah proses-proses sebelumnya terselesaikan. Karena setelah melakukan cetak S25, maka beberapa fitur operasional PTK akan dikunci oleh sistem (tidak dapat diedit lagi).

Sebelumnya juga, masing-masing PTK hendaknya melakukan pengecekan di menu Analisa Tunjangan. Apakah jumlah jam mengajar, ekuivalensi, dan tugas tambahan yang diampunya telah sesuai atau tidak. Utamanya dalam pemenuhan 24 JTM sebagai syarat pencairan tunjangan profesi guru.

4. SKMT dan SKBK

Setelah analisa tunjangan untuk masing-masing guru sesuai dan Kepala Madrasah Mencetak S25 hingga disetujui oleh admin Kabupaten/Kota (terbit S25b), maka PTK dan Kepala Madrasah untuk segera melakukan pengajuan SKMT hingga SKBK.

Proses yang harus dilalui dalam pengajuan SKMT ini dapat dibaca di artikel : 5 Langkah Pengajuan SKMT dan SKBK (S29) Simpatika

Prosesnya melalui beberapa tahapan yang melibatkan PTK, Kepala Madrasah, PTK lagi, hingga admin Kabupaten/Kota.

Proses SKMT hingga terbitnya SKBK (S29e) ini harus sudah tuntas sebelum sistem menerbitkan SKAKPT.

5. SKAKPT

Surat Keputusan Analisa Kelayakan Penerima Tunjangan atau SKAKPT diterbitkan secara otomatis setiap bulan bagi guru-guru yang layak menerima tunjangan. Namun khusus untuk awal semester genap ini, 

SKAKPT bulan Januari dan Februari baru akan diterbitkan pada tanggal 7 Maret 2020.

Hal ini untuk memberi kesempatan waktu kepada PTK dan Kepala Madrasah untuk melengkapi dan menuntaskan tahapan-tahapan sebelumnya. Utamanya hingga terbitnya SKBK (S29e).

Secara ringkas, jadwal dan jenis layanan Simpatika yang dibuka adalah sebagai berikut:

  1. Proses operasional dapat dimulai tanggal 1 Pebruari 2020
  2. Verval Ijazah kualifikasi lulusan S1/DIV-S2-S3 dibuka mulai tanggal 3 Pebruari 2020
  3. Keaktifan S25 dan Analisa Tunjangan dibuka mulai tanggal 10 Pebruari 2020
  4. SKAKPT bulan Januari s/d Pebruari diterbitkan pada tanggal 7 Maret 2020


Berdasar jadwal layanan Simpatika 2020 tersebut, kesemua proses yang berujung pada disetujuinya SKBK (S29e) harus sudah tuntas sebelum 7 Maret 2020. Termasuk absen elektronik simpatika.

Sumber : ayomadrasah.blogspot.com

Share:

Selasa, 24 Oktober 2017

Viral Gambar Botol Minuman Keras Berlabel Halal, MUI: Itu Hoax dan Fitnah


Beberapa hari terakhir, viral gambar botol minuman keras jenis whiskey dan anggur merah dengan label 'halal' di media sosial. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid memastikan kalau berita tersebut tidak benar.
“Berita tersebut adalah hoax dan bentuk fitnah kepada Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia, karena yang berwenang menetapkan fatwa kehalalan sebuah produk makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetika adalah MUI,” kata Zainut Tauhid melalui rilis yang diterima humas, Selasa (24/10).
Zainut Tauhid menduga label halal yang dicantumkan dalam produk minuman tersebut adalah palsu. Perusahaan produk minuman tersebut tidak pernah mendaftarkan proses sertifikasinya ke LPPOM MUI untuk diperiksa dan diaudit kehalalan produknya. 
“LPPOM-MUI yang sampai sekarang  masih memiliki kewenangan untuk menangani proses sertifikasi halal sebelum berfungsinya BPJPH, memastikan bahwa tidak pernah mengeluarkan sertifikat halal kepada produk minuman tersebut dan tidak pernah mengeluarkan label "halal" sebagaimana yang dicantumkan pada produk minuman tersebut,” tegasnya.
Tanggapan yang sama disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Melalui akun tuiternya, Menag mengatakan bahwa informasi yang disebar di dunia maya terkait label halal pada botol minuman keras itu merupakan bentuk fitnah.
"Mereka yg memfitnah telah melecehkan nalar publik. Mereka pikir publik akan begitu saja mempercayai hal yg sama sekali tak masuk akal," cuit Menag.
Akan hal ini, atas nama MUI, Zainut Tauhid meminta aparat kepolisian untuk mengusut pemalsuan label halal pada produk minuman tersebut. Aparat diminta menindak tegas pelakunya dengan memberikan hukuman yang berat jika terbukti bersalah. “Karena (pelakunya) telah menipu umat Islam dengan memalsukan label halal tanpa melalui sebuah proses dan prosedur sertifikasi yang sesuai dengan ketentuan undang-undang,” tandasnya.



Share:

Ini Alasan Pemerintah Tetapkan Hari Santri


Semarang (Kemenag) - Pemerintah sadar betul bahwa, kontribusi santri kepada bangsa dan negara ini sungguh luar biasa, penetapan hari santri adalah wujud pengakuan juga penghargaan negara kepada kaum santri atas kiprahnya menjaga dan merawat NKRI.

Demikian poin pertama tentang alasan ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh pemerintah yang disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat puncak Peringatan Hari Santri 2017 yang dipusatkan di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Sabtu (21/10) malam.

Kedua, selain pengakuan dan penghargaan negara kepada santri, maka penetapan hari santri sesungguhnya dimaksudkan sebagai penegasan peneguhan tanggungjawab santri terhadap negara.

“Jadi dengan adanya hari santri, kaum santri itu dikukuhkan untuk memiliki kesadaran yang tinggi akan tanggung jawabnya terhadap eksistensi dan masa depan bangsa negara kita tercinta. Maka dalam kesempatan baik ini, saya ingin memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh apa itu santri, kita perlu bangun persepsi bersama sehinga punya kesepahaman apa yang dimaksud santri dan mengapa negara menetapkan hari santri itu,” ucapnya.

Dikatakannya, santri awalnya adalah kaum yang memang  berkesempatan menimba ilmu di pondok pesantren yang kemudian disebut santri, dan ciri pontren di seluruh Nusantara ini setidaknya dilihat pada tiga aspek. Pertama, dimanapun pontren yang ada di Nusantara, maka Islam yang diajarkan pontren adalah Islam yang menebarkan rahmatal lili alamin, Islam yang dikenal dengan Islam moderat (wasathiyah).

Menurutnya, dimanapun pontren selalu mengajarkan paham keagamaan dengan cara mensinergikan dua pendekatan yang oleh beberapa kalangan seringkali diperhadapkan yaitu pendekatan tekstual, dan kedua, bagaimana nalar didudukkan secara proporsional dalam teks yang ada.

“Jadi kemampuan menggabungkan originalitas yang bersumber dari kitab turats yang jadi  rujukan lembaga keislaman di dunia, ini yang tidak terlepas dari teks Alquran dan Hadits lalu dikombinasikan dengan kemampuan nalar, dengan membaca perkembangan zaman sesuai konteksnya,” katanya.

“Dua hal ini selalu saling melengkapi,  bukan diperhadapkan, bukan saling menegasikan, ini penting disampaikan, ini warisan yang ditegakkan ulama terdahulu dengan kearifannya yang luar biasa, mereka mensinergikan dua pendekatan itu, dan itu yang menjadi tradisi keilmuan lalu,” ujar Menag.

Kedua, ciri pontren adalah penilaianya terhadap keragaman. Ini ciri menonjol dari pontren, santri di manapun berada, umumnya cukup bijak dalam mensikapi keragaman, karena selama di pontren mereka terbiasa menghadapi keragaman.

Selan itu, ilmu yang dikaji di pontren sendiri, begitu ragam pandangan yang dikaji santri, tidak ada pandangan tunggal selain pandangan yang sifafnya qat’i.

“Itulah yang jadi ciri bahwa santri itu tidak  mudah kagetan, terheran-heran dengan hal yang berbeda, dan ini yang jadi santri itu harus berupaya memperkuat persatuan umat. Karenanya,  setiap kita dituntut bagaimana berupaya, bagaimana menjaga persatuan dan kemauan menghormati keragaman pada diri dan pihak lain,” ungkapnya.

Ciri ketiga, dimanapun santri berada, pastilah ia orang yang cintanya ke Tanah Air luar biasa, tidak ada santri yang tidak cinta kepada Tanah Airnya, Tanah Air tidak bisa dipisahkan,  karena di Tanah Air-nyalah jadi tempat persemaian agar rahmat itu mewujud di alam semesta ini.


Share:

Rabu, 18 Oktober 2017

DOWNLOAD KISI-KISI UJIAM AKHIR MADRASAH BERSTANDAR DAERAH (UAMBD) TAHUN PELAJARAN 2017/2018


Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, pada Madrasah Ibtidaiyah akan melaksanakan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Daerah (UAMBD) untuk mata pelajaran Akidah Akhlak, Fikih, Al-Qur'an Hadist, SKI, Bahasa Arab dan lain-lain.

Berikut link untuk mendownload kisi-kisi :

KISI-KISI AKIDAH AKHLAK
KISI-KISI AL-QUR'AN HADIST
KISI-KISI FIKIH
KISI-KISI SKI
KISI-KISI BAHASA ARAB


Share:

Rabu, 04 Oktober 2017

Perkenalan Emis Online Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2017/2018

Assalamualaikum
Seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya bahwa Emis Online akan segera hadir di bulan Oktober ini. Oleh karena itu bagi kawan-kawan untuk mempersiapkan data yang dibutuhkan. Terkait mengenai hal-hal yang akan dibutuhkan bisa dilihat di artikel ini  Model Pendataan EMIS Tahun 2017/2018

Dan pada kesempatan ini, kami akan mengajak kawan-kawan khususnya OPM sedikit melihat seperti apa kira-kira emis online nanti. Nah oleh karena itu berikut reviewnya.

1. Menu Profil Lembaga







































2.  Sarpras







































3. Siswa






















Itu saja sedikit gambarannya, mari kita siap-siap saja. Dan jika sudah keluar nanti semoga ada sosialisasinya agar nanti para OPMI dapat  memahaminya. 

Terima kasih.


Sumber : kkm12.blogspot.co.id


Share:

Selasa, 03 Oktober 2017

Kemenag Targetkan 100% UAMBN Berbasis Komputer di 2018

Direktur KSKK Madrasah A. Umar.
Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama menargetkan pelaksanaan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) pada tahun 2018 pada seluruh madrasah di Indonesia sudah berbasis komputer. 

Hal ini diungkapkan Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, A. Umar saat rapat koordinasi persiapan UAMBN Berbasis Komputer di Kantor Kementerian Agama.

"UAMBN Berbasis Komputer merupakan salah satu bentuk respons Kementerian Agama terhadap perkembangan teknologi dan penguatan karakter siswa-siswi madrasah. Dengan berbasiskan komputer ini, UAMBN akan memacu integritas, kejujuran, dan kedisiplinan siswa-siswi madrasah dalam ujian," ungkap A. Umar, Senin (02/10).

"Teknologi adalah hal baru yang baik. Dan ujian adalah hal lama yang baik. Substansi ujian harus tetap dijaga dan dikreasikan dengan teknologi. Tentu saja dengan tujuan yang baik, yakni integritas, kejujuran dan kedisiplinan," lanjutnya.

Pada tahun 2017, sebanyak 4.408 madrasah yang sudah melaksanakan UAMBN (MTs dan MA). Tahun depan, 16.943 MTs dan 7.260 MA di seluruh Indonesia ditargetkan sudah menerapkan UAMBN Berbasis Komputer. Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah, Basnang Said, mengaku sudah berkoordinasi dengan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah di Kanwil Kemenag Provinsi untuk menyiapkan anggaran UAMBK tersebut.

Kemenag melalui Direktorat KSKK Madrasah juga akan melaunching aplikasi rapor digital untuk RA, MI, MTs, dan MA.  Aplikasi ini dibuat untuk menghindari perbedaan format rapor antara satu madrasah dengan madrasah lainnya.


Share:

Senin, 02 Oktober 2017

Kemenag Susun Kisi-Kisi USBN PAI 2017/2018


Bogor (Pendis) - Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI), Ditjen Pendidikan Islam mulai bersiap menyambut pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional untuk mata pelajaran PAI (USBN PAI) Tahun Pelajaran 2017/2018 mendatang. Bertempat di Bogor, 27 s/d 29 September 2017 sebanyak 50 guru PAI (GPAI) pilihan dari jenjang SD, SMP dan SMA/SMK yang tergabung dalam Tim Pusat Penyusunan kisi-kisi USBN PAI juga membuat anchor items (soal-soal utama) sebanyak 25% yang menjadi wewenang Kementerian Agama (pusat). Sementara 75% soal USBN PAI sendiri akan menjadi tugas Kanwil Kementerian Agama di masing-masing provinsi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 3 tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Satuan Pendidikan, USBN mulai dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2016/2017 untuk beberapa mata pelajaran salah satunya Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Kasubdit PAI pada SD/SDLB yang juga menjadi Ketua Pokja USBN Direktorat PAI, Ilham menjelaskan para GPAI yang diundang sebagai penyusun merupakan tim inti di tingkat pusat yang akan membuat 4 output dokumen penting terkait pelaksanaan USBN PAI yaitu kisi-kisi umum (blue print), kisi-kisi anchor items sekaligus anchor items sebanyak 25% soal yang akan menjadi soal wajib dan terakhir Prosedur Operasional Standar (POS) yang akan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan USBN PAI.

Hadir pada kegiatan narasumber Halfian Lubis yang merupakan salah satu konseptor USBN PAI di lingkungan Direktorat PAI pada tahun 2008. Seperti diketahui kebijakan USBN PAI sudah lahir sejak Tahun Pelajaran 2008/2009 sebagai upaya penting peningkatan mutu sekaligus penilaian PAI dan mengukur pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran PAI. "Kisi-kisi umum dan anchor items yang berhasil disusun selama 3 hari ini akan diserahkan ke Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk mendapat pengesahan dan selanjutnya dikirim ke provinsi dan ditindaklanjuti dengan membuat master soal. Ketiga dokumen dibuat dalam 2 versi yakni berbasis Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 untuk menyiasati kebutuhan sekaligus kondisi di lapangan," jelas Halfian.

Rapat koordinasi yang berhasil dibentuk antara pihak Kemenag, Kemendikbud dan BSNP pasca keluarnya Permendikbud Nomor 3 tahun 2017 menegaskan bahwa penyusunan kisi-kisi dan master soal USBN PAI tetap menjadi wewenang dan tanggung jawab Kementerian Agama berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan pasal 3 ayat 2. Direktorat PAI menyusun anchor items sebanyak 25% sementara Kanwil Kemenag Provinsi bertanggung jawab menyusun kisi-kisi khusus sekaligus 75% master soal dengan memberdayakan GPAI dari KKG dan MGMP PAI. Tugas terakhir adalah merakit soal tersebut untuk dibuat dalam beberapa paket guna menghindari terjadinya kebocoran soal. Untuk materi soal USBN PAI disepakati terdiri atas 2 jenis yakni 40 soal pilihan ganda dan 5 soal essai. Karena dikelola oleh provinsi, maka jadwal USBN PAI harus serentak di semua kabupaten/kota.

Asrijanty, selaku narasumber lain dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud pada kegiatan tersebut memotivasi tim peyusun agar bisa membuat soal-soal yang berkualitas yang bisa menstimulus peserta didik dengan menekankan kemampuan menganalisis. Ia memperlihatkan beberapa contoh soal pendidikan agama dari beberapa daerah hasil evaluasi USBN tahun 2016/2017 yang dilakukan oleh Puspendik Kemendikbud. Penilaian hasil belajar di era abad 21 diarahkan pada penilaian yang mendukung kemampuan Higher Order Thinking Skill (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk menjawab tantangan jaman. "Pembelajaran bisa ditentukan dengan penilaian yang mendorong siswa berpikir kritis. Kondisi siswa di sekolah berikut cara berpikirnya akan terbentuk dengan baik sehingga mereka tidak mudah terpancing, mampu membedakan informasi hoax dan yang tidak," ungkapnya.


Share:

Sabtu, 30 September 2017

Target Penyelesaian Pembayaran TPG dan Penyiapan Buku PAI Pada Tahun 2017


Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) menargetkan di tahun 2017 ini kita akan menyelesaikan semua Tunjangan Profesi Guru PAI, termasuk yang terhutang. Di samping itu, tahun 2017 ini, kita akan konsentrasi pada perbukuan," papar Imam Safe`i, Direktur PAI Ditjen Pendidikan Islam. Pernyataan itu dikemukakan pada kegiatan Koordinasi Pelaksanaan Sertifikasi Guru PAI Angkatan kedua yang dilaksanakan di Hotel Grand Savero Bogor, 20 s/d 22 September 2017 yang dihadiri oleh kepala seksi yang menangani Sertifikasi Guru PAI dari seluruh Kanwil Kemenag Provinsi di Indonesia.
Lebih lanjut Imam Safe`i menyatakan bahwa tahun 2017 merupakan tahun terakhir pelaksanaan PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) bagi Guru PAI. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2018 tentang Guru, mulai tahun 2018 Guru PAI yang belum mendapatkan Sertifikat Pendidik maka akan dilakukan dengan PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang saat ini konsep pelaksanaan PPG tengah digodok oleh Konsorsium Sertifikasi Guru yang melibatkan sejumlah Kementerian/Lembaga. "Untuk itu, kesempatan PLPG di tahun 2017 hendaknya dapat dimaksimalkan mungkin," pinta Direktur.
Pada tahun ini juga, Direktorat PAI akan berkonsentrasi pula pada perbukuan. Sebab, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan perlu segera disusun draft Peraturan Pemerintahnya. "Kementerian Agama memiliki kewajiban untuk memastikan buku Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan terutama dalam buku teks untuk seluruh jenjang dan jalur pendidikan harus tersedia," papar Direktur PAI yang sekaligus menjabat Plt. Direktur Pendidikan Tinggi Islam.
Di samping itu, sejumlah persoalan yang dihadapi oleh Direktorat PAI, seperti kekurangan Guru PAI, regulasi yang terkait dengan Guru PAI, Pengawas, dan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum, kurikulum, sarana ibadah di sekolah dan lain-lain agar menjadi perhatian dan dipahami oleh seluruh stakeholder Direktorat PAI baik di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota," papar Direktur.

Share:

Selasa, 26 September 2017

Kata Dirjen Pendis Sarjana Non Tarbiyah Dapat Jadi Guru


Denpasar (Kemenag) --- Kabar gembira bagi para alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang ingin menekuni profesi sebagai guru. Pasalnya, para sarjana non-Tarbiyah dan Ilmu Keguruan pada waktu yang akan datang dapat menjadi guru dilingkungan Kementerian Agama RI sesuai dengan keilmuan yang dibutuhkan. 
“Sarjana non kependidikan dapat menjadi guru, namun harus mengikuti Pendidkan Profesi Guru (PPG) selama satu tahun,” kata Dirjen Pendidikan Islam Kamarudin Amin, saat memberikan arahan pada Rapat Koordinasi Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Minggu (24/09), di Denpasar. 
Langkah ini di tempuh Kamarudin sebagai upaya memenuhi kekurangan guru di Indonesia. “Kita mengalami kekurangan guru yang cukup massif secara nasional, baik untuk sekolah maupun madrasah,” ujarnya. 
“Sampai tahun 2021, kekurangan guru secara nasional mencapai 40% dari total jumlah guru se-Indonesia. Sedangkan untuk Guru Agama kita kekurangan sekitar 20.000 orang,” lanjutnya. 
Hal lain yang menjadi pertimbangan merekrut guru non kependidikan, kata Guru Besar UIN Alauddin Makasar ini adalah untuk meningkatkan kualitas guru yang ada. “Kita sedang disorot publik, karena produksi guru kita dianggap kurang memenuhi harapan masyarakat. LPTK dipandang belum mampu mencetak guru-guru yang professional,” paparnya. 
Undang-Undang tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) berwenang menyelenggarakan program sertifikasi guru melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk guru mata pelajaran keagamaan, mata pelajaran umum, dan guru kelas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
LPTK adalah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan atau sebutan sejenis sebagai unsur pelaksana akademik di lingkungan PTKI yang diberi mandat oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan akademik sarjana pendidikan dan pendidikan profesi guru (PPG).
Alumni Born University Jerman ini meminta Pimpinan PTKIN untuk membantu upaya reformasi LPTK sehingga kebijakan, program, dan kegiatan yang mendorong terjadinya perubahan secara mendasar, sistemik dan sistematik dapat diwujudkan. Ini penting dalam rangka mewujudkan LPTK bermutu dan berdaya saing. 
Reformasi LPTK, kata Kamarudin, akan dilakukan secara fundamental mulai dari rekrutmen mahasiswa, pengembangan kurikulum, dosen, dan infra struktur penunjang kualitas LPTK.
Kamar mengaku sejumlah donor internasional akan berkomitmen membantu meningkatkan kualitas guru di bawah Kementerian Agama melalui reformasi LPTK, salah satunya World Bank, Usaid Prioritas, dan Lembaga SES Jerman.
Kegiatan Rapat Koordinasi Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dilaksanakan pada tanggal 24-26 September 2017 dengan menghadirkan Rektor dan Ketua PTKIN se-Indonsia. Tampak hadir mendampingi Plt. Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Imam Safei, Kasubdit di lingkungan Diktis dan sejumlah Kepala Seksi serta Jabatan Fungsinal Umum.


Share:

Sabtu, 23 September 2017

Kemenag Jajaki Pengelolaan Dana Pensiun Syariah Untuk Guru Honor


Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah menjajaki pengelolaan dana pensiun syariah untuk guru madrasah non PNS. Hal ini dibahas dalam pertemuan antara tim Direktorat GTK Madrasah dan tim Industri Jasa Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 
Pertemuan ini dalam rangka sosialisasi dana pensiun syariah untuk guru madrasah oleh OJK. Direktur IKNB-OJK Mochamad Mukhlasin, mengatakan bahwa tunjangan hari tua atau dana pensiun sangat penting. Bagi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak perlu kawatir dengan dana pensiun. Akan tetapi bagi guru swasta atau yang tidak memiliki penghasilan lain, akan kesulitan ketika tidak memiliki dana pensiun. 
Dikatakan Mukhlasin, jaminan di lembaga swasta itu masih sangat minim. Kami melihat perlunya kerjasama menggandeng kepala sekolah, guru untuk mulai aware terhadap persiapan menghadapi masa tua lewat dana pensiun. 
“Bagaimana kita mempersiapkan masa tua. Cara yang lebih mudah adalah dengan mengikuti program dana pensiun. Dana pensiun tidak terkena pajak,” ujar Mukhlasin di Jakarta, Rabu (20/9). 
Langkah awal yang perlu dilakukan, lanjut Mukhlasin, adalah mengenalkan guru-guru untuk merencakanan keuangan di masa tua. Pihaknya ingin difasilitasi untuk bertemu dengan guru-guru atau jaringan madrasah, untuk mengenalkan atau membantu lembaga pendidikan yang sudah memiliki pengelolaan dana sendiri. 
Menurutnya, perlu dipetakan rencana sosialisasi, potensi, minat dan guru-gurunya di mana. “Mungkin awalnya kami sosialisasi ke sekolah swasta yang sudah mapan. Karena pengalaman kami orang yang memikirkan dana pensiun adalah guru yang sudah memiliki income cukup besar,” sambung Mukhlasin. 
Kasubdit Bina GTK MI/MTs Kidup Supriyadi menyampaikan bahwa di Indonesia ada sekitar 700ribu guru swasta. Tinggal nanti meyakinkan guru-guru untuk mempersiapkan masa pensiun. 
“Saya pikir ini cukup besar untuk dikelola. Saya kasihan melihat guru honor, ketika sudah tidak mengajar nasibnya menjadi tidak jelas,” tuturnya. 
Hal senada juga disampaikan oleh Kasubdit Bina Guru MA/MAK, Siti Sakdiyah bahwa Dit GTK secara prinsip senang dan mengapresiasi program Pengelolaan Dana Pensiun Syariah Untuk Guru Madrasah yang coba ditawarkan oleh OJK. Menurutnya guru-guru madrasah perlu diproteksi dalam hal pengelolaan dana pensiun. 
“Akan tetapi saya berharap pengelolaan dana ini perlu diawasi dan dijaga juga, biar lebih safety,” sambung Sakdiyah.


Share:

MIN 2 Tangsel, Dari Madrasah Sepi Peminat Jadi Favorit


Ciputat (Kemenag) --- Saat ditugaskan di madrasah negeri, Jetty Maynur mengaku sempat terheran-heran. Pasalnya, kondisi madrasah yang akan ia kelola sangat memprihatinkan. 
Padahal waktu itu sudah tahun 2007, sementara sejak tahun 1990-an, ia sudah mendirikan madrasah sendiri, cukup maju, serta meraih banyak prestasi tingkat nasional. 
Namun, kondisi ini justru membuatnya tertantang. Kalau bisa mengelola madrasah swasta dengan baik, mestinya ia juga bisa memajukan madrasah negeri. 
*** 
Sikapnya sopan. Gaya komunikasinya cukup bagus dan enerjik. Ia mudah akrab. Bicaranya lancar sekali. Beberapa kali terucap kata “Subhanallah”. Ibu dua anak ini cukup bersemangat berbagi pengalamannya dari A sampai Z. 
Senin (18/09), Jetty sempat berbagi pengalamannya merintis sekolah TK Islam dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan tim Kemenag. Bermodal dana dari ibu-ibu pengajian, ia merintis sekolah Islam untuk anak-anak. Sampai kini rintisannya menjadi salah satu sekolah swasta favorit di provinsi Banten dan mendapatkan penghargaan nasional. 
Jetty Maynur diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan berikutnya ia ditugaskan di MIN 2 Tangerang Selatan (dulu: MIN Cempaka Putih Ciputat). Madrasah negeri yang didirikan sejak 1980 dan dinegerikan pada 1993 ini tidak banyak dikenal orang. Beberapa tahun kemudian MIN ini berubah. 
Saat masa penerimaan siswa baru, para orang tua sudah mengantri semenjak sebelum subuh untuk mendapatkan formulir. Jumlah formulir yang diedarkan hanya dua kali jumlah siswa yang dterima di madrasah ini. ”Biar tidak terlalu banyak calon siswa yang ditolak,” kata Jetty. 
Kapasitas gedung dan SDM yang ada hanya bisa menampung jumlah siswa yang terbatas. Berangkat dari ustazah Ibu-Ibu pengajian saat kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat, tahun 1986, Jetty masih tinggal di komplek Pamulang Permai 2, di rumah orang tuanya. 
Kebetulan orang tuanya sedang menjalani tugas militer di Palembang. Ia tinggal sendiri. Maka ruangan tamu ia gunakan sebagai tempat mengaji. Sore untuk anak-anak itu dan maghrib untuk ibu-ibu. Aktivitas pengajian itu ia berikan di sela-sela kuliah. 
Beberapa teman kuliahnya juga diajak mengajar. Ada yang membuatnya sangat bersemangat. Waktu itu buta huruf al-Quran di komplek itu masih tinggi. Tidak hanya mengajar, bersama remaja dan ibu-ibu pengajian, Jetty turut memfasilitasi pembanguna masjid At-Taqwa Raya di sana. Setelah masjid sudah jadi pengajian di rumahnya dipindahkan ke masjid. 
Menurut ibu dua anak ini, ia menjadi ustazah karena terpaksa, karena tidak ada yang membina warga. Sebenarnya ia tidak pernah belajar lama di pesantren. Pendidikan dasar agamanya diperoleh dari seorang Ustaz keluarga yang rutin dipanggil oleh ayahnya. Ia memanggilnya “Ustaz Kribo”. Berbekal keilmuan agama dari ustaz itu ditambah apa yang diperoleh dari IAIN itulah ia menjadi ustazah di kompleknya. 
Di sela kuliah ia juga sesekali ikut belajar menjadi “santri kalong” di salah satu pesantren di daerah Bogor untuk menambah ilmu agamanya. Mendirikan RA ketika akan lulus kuliah, ibu-ibu pengajian memintanya mendirikan TK Islam. Mereka tahunya TK, bukan Raudhotul Athfal (RA). “Kasian anak-anak kami ini. Kalau sekolah di TK umum mereka tidak kenal agama,”kata Jetty menirukan ibu-ibu itu dan ia menyanggupi permintaan mereka. 
Kebayangkan mahasiswa IAIN disiapkan untuk menjadi guru sekolah menengah, tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Jetty harus “banting setir” mengajar anak-anak. Akhirnya ia mulai belajar mengenai seluk-beluk TK. Ia berkeliling dan belajar ke beberapa TK di Jakarta. Ia membuat komparasi antara TK dan RA yang ia datangi. Setelah ia yakin mengerti betul seluk-beluk TK, ia mulai bekerja. Ia membuat pemetaan dan mulai menyusun perencanaan. 
Modal untuk mendirikan TK Islam waktu itu berasal dari ibu-ibu pengajian sebesar Rp 5 juta. Modal awal itu ia gunakan untuk penyiapan tempat belajar, pembelian alat-alat mainan dan lain-lain seperti lazimnya TK. 
Juli 1993 itu mulailah TK pertama. Namanya RA As Salamah. Lokasinya di Pamulang Permai 2, sekarang masuk wilayah Tangerang Selatan. Murid pertama TK As Salamah ada 40 anak yang dibagi ke dalam tiga kelas. Waktu itu ia memanggil temen-temannya yang memang lulus PGTK, tapi karena ini TK Islam, ia mencari pengajar yang punya “ruh-ruh keislaman”. 
Anak-anak mulai ditanamkan ajaran keislaman. Anak-anak putri diajarkan memakai kerudung yang menunjukkan nuansa Raudhatul Athfalnya. 
Mendirikan MI 
Setelah TK As Salamah meluluskan satu angkatan, ibu-ibu pengajian datang lagi meminta Jetty mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI). “Sayang anak-anak kalau masuk ke SD,” kata mereka. 
Waktu itu di daerah ia tinggal, madrasah masih tidak dikenal. Yang dikenal hanya MP (Madrasah Pembangunan). Bagus tapi mahal. Ibu-ibu pengajian itu tidak sanggup menyekolahkan anaknya ke MP. Akhirnya mereka menyerahkan dana 10 juta kepada Jetty sebagai modal awal mendirikan MI. 
Tahun 1994, dengan modal itu ia mengontrak rumah tipe 36 di daerah Pamulang 2 untuk menjalankan aktivitas pendidikan. Meja kursi dan papan tulisnya dipinjam sementara dari seorang dosen IAIN. Setelah berjalan satu tahun, beberapa calon siswa baru berdatangan. Jetty bingung karena berbeda dengan TK cepat meluluskan siswanya, masa belajar anak-anak MI ini mestinya enam tahun lamanya. Dimana lagi murid-murid baru akan belajar? 
Masalah lain, sampai sejauh itu, MI yang ia kelola belum mendapatkan izin. Untungnya, tidak jauh dari MI As Salamah, ada satu MI di Ciputat yang sudah mati, tidak ada muridnya. Jetty diperbolehkan menggunakan perizinan MI mati itu. 
“Tapi saya diminta harus janji kalau sudah empat tahun harus sudah punya bangunan. Saya bilang doain ya pak empat tahun punya gedung. Alhamdulillah, akhirnya belum empat tahun kita sudah mendapat gedung. Tanahnya di daerah vasum 1200-an m2 dan bangunnya ya masih memakai dana dari murid angkatan pertama dan sumbangan orang tua,” katanya. 
Gaji guru MI waktu itu masih berasal dari dana infak seadanya, terutama dikumpulkan dari ibu-ibu pengajian. Jetty juga menghimpun dana zakat mal dari para aghniya untuk pembuatan lokal dan kesejahteraan guru. Trust masyarakat kepadanya menjadi salah satu kunci sukses bisa dipercaya menghimpun dana masyarakat.
Madrasah As Salamah terus berkembang dengan unit pendidikan RA dan MI. Pada tahun keempat, bangunan sudah bagus dan tahun keenam sudah bisa meluluskan siswanya. 
Pada 2005, madrasah ini menjadi madrasah berprestasi nasional yang memenangi berbagai kompetisi. MI ini menjadi yang terbaik di Provinsi Banten. MIN As Salamah menjadi salah satu madrasah rujukan. “Para siswanya sekarang berasal dari daerah yang agak jauh. Sekarang sudah masuk generasi ketiga. Dan denger-denger sekarang As Salamah menjadi MI termahal di Banten,” kata Jetty. Menjadi PNS, 
Mengelola Madrasah Negeri Tahun 1999, Jetty Maynur diangkat menjadi PNS Kementerian Agama dan pertama ditugaskan di MTSN Pamulang. Ia mengampu mata pelajaran Biologi. Waktu itu diriya meminta izin untuk tetap mengelola MI As Salamah karena masih dalam tahap perkembangan dan belum bisa ditinggalkan. Pagi hari ia berada di MI kemudian siangnya baru ke MTS. 
Tahun 2007 ia dipindahkan ke MIN 2 Tangerang Selatan. “Ada yang bilang ke saya, bu tolong dong perbaiki sekolah negeri,” katanya. Ia berpikir, sekolah negeri seharusnya sudah lebih baik pada masa itu. Namun ketika ia ke lokasi, ternyata MI yang akan ia kelola sangat berbeda dengan MTs Pamulang. Kondisinya masih memperihatinkan. 
“Namun justru itu menjadi tantangan bagi saya. Kata kepala kantor, coba bu, ibu kan bisa menjadikan sekolah swasta yang tadinya tidak ada apa-apa menjadi sekolah yang bagus. Sekarang ibu bisa membuktikan bahwa ibu nggak cuman bisa membuat madrasah yang awalnya dari nol tapi juga bisa benahin madrasah ini,” katanya. 
“Ketika saya ditempatkan di sini (MIN 2 Tangerang Selatan) saya bilang ya Allah madrasah negeri tahun 2007 kog masih begini. Padahal saya bikin sekolah tahun 1993 dan tahun 2005 sudah bagus dan berhasil meraih prestasi tingkat nasional,” kenangnya. 
Minggu Pertama Bertugas 
Beberapa hari bertugas, ia hanya mengamati keadaan. Ia menyewa rumah kos yang paling murah di dekat madrasah sehingga memudahkannya pulang-pergi. Persoalan yang pertama ia amati adalah sampah. 
MIN 2 Tangerang Selatan jauh dari dari kebersihan. Sampah di mana-mana. Selanjutnya ia mengamati banyak guru yang tidak disiplin. “Minggu pertama itu saya cuman mengamati keadaan. Tapi saya bertekad kebaikan yang saya lakukan di As Salamah dulu akan saya coba tularkan di sini. Saya menyapa anak-anak setiap pagi. Saya berdialog dengan para guru,” katanya. 
“Ada salah satu figur guru lelaki PNS, bertanya kenapa sih ibu datang ke sini pagi-pagi benar. Padahal kepala sekolah yang lama itu jam setengah sepuluh baru datang ke sini. Dia menyuci baju dulu, masak, dan segala macam dulu, tapi ibu jam 06.15 sudah ada di sini?” 
Lalu saya bilang, ‘Apa bapak nggak senang disambut oleh saya?’ Tugas saya kan melayani bapak dan ibu guru gitu kan? Dia kaget sekali saya mengatakan itu.” 
“Tidak hanya datang telat, pada jam istirahat beberapa guru juga pulang. Biasanya saya turut mengisi kelas yang pada kosong. Nah pas gurunya masuk sekitar 15 menit, lalu saya bilang dari mana bu, dijawab abis pulang bu masak dulu. Saya bilang, Subhanallah ini sekolah negeri benar-benar asal-asalan. Para guru juga banyak yang tidak bisa membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran),” kata Jetty. 
Termasuk yang ia amati adalah seragam yang dikenakan oleh anak MI. Seragam mereka tidak jauh beda dengan pakaian SD negeri. Anak-anak perempuannya tidak memakai kerudung dan memakai baju lengannya pendek karena waktu itu masih dibebaskan. Lalu akhlak anak-anak kepada guru juga tidak begitu baik. Semua ia catat menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. 
“Akhirnya PR itu saya petakan, mana yang bisa saya lakukan harian, mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan,” demikian Jetty. 
Mulai dari Membereskan Sampah 
Jetty memulai pekerjaannya dengan membereskan sampah. “Waktu itu saya bilang masya Allah, tempat sampah nggak ada,” katanya. Untungnya ia aktif di majelis taklim dan ia sampaikan kepada ibu-bu. “Ada yang mau infaq tempat sampah nggak? Jadi saya ditempatkan di tempat tugas baru banyak sampah berceceran di mana-mana,” katanya. 
Ada ibu yang menginfakkan 3 tempat sampah besar untuk MIN itu. “Saya senang banget itu, dan saya bilang ke anakanak, nak ayo kita buang sampah pada tempatnya. Jadi kalau istirahat saya melihat anak-anak dan mengajak ayo Nak buang-sampah pada tempatnya, buang sampah itu sedekah loh.Terus begitu setiap hari, sampai menjadi kebiasaan buang sampah pada itu hidup.” 
Setelah memberesi sampah, ia meningkat ke seragam. “Saya kasihan. Anak-anak madrasah tapi kok nggak pake kerudung, nuansa islaminya nggak kelihatan. Akhirnya saya hitung anak-anak yang nggak memakai kerudung sekitar 30-an, lalu saya ke majelis taklim dan bilang, Bu apakah ada yang mau sedekah kerudung? Masalahnya banyak murid yang berasal dari keluarga nggak mampu, anak jadi buruh cuci dan lainnya. Saya kan nggak enak juga untuk meyuruh membeli kerudung akhirnya ya ke majelis taklim itu.” 
“Lalu saya berikan kerudung titipan ibu-ibu majelis ta’lim dan bilang, Nak nanti kerudungnya kamu pakai ya! Kamu cantik deh kalau pake kerudung, saya puji.”
 “Lalu saya bilang juga kepada orang tua mereka, Pak- Bu tolong nabung ya tolong karena ini kan roknya dan celananya masih banyak yang pendek. Jadi disosialisasikan dulu budaya menabung, September ke Juli kan lumayan tuh sekitar sepuluh bulanan itu. Jadi sepuluh bulan itu digunakan untuk menabung supaya awal pembelajaran tahun depan sudah bisa memakai pakaian seragam yang lebih rapi.” Akhirnya tahun baru itu sudah mulai rapi, murid barunya juga rapi. 
Mengejar Akreditasi 
Setelah membenahi siswa, berikutya meningkat pada gurunya. Problem paling berat, para guru tidak bisa menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Ia meminta para guru cepat belajar dan berbenah. Untungnya ia tertolong, pada tahun 2007 itu madrasah ini harus menjalani akreditasi. 
“Padahal madrasah saya yang swasta saja sudah dapat akreditasi dan dapat A. Akhirnya saya tanya ke teman-teman, teman-teman akreditasinya pinginnya apa? Mereka bilang kita bisa nggak dapet A seperti sekolah ibu yang ada di sana? Saya bilang, bisa. Lalu semua berkerja sama. Jadi selama dua minggu itu kita pulang di luar jam kerja, teradang sampai jam 10 malam karena memang guru-guru nggak bisa membuat RPP. Akhirnya saya mengajari para guru membikin RPP.” 
Pada waktu itu administrasi madrasah masih berantakan, jauh dari standar. Ia kemudian membenahi kantor dan manajemen tata usaha. “Saya mengawal terus kerjasama temen-temen, dan Subhanallah ternyata kerja keras kita terlihat dan saat akreditasi kita mendapat nilai A. Tahun 2007 itu di Kanwil kami yang terakreditasi A untuk negeri hanya 3,” kata Jetty. 
Jadi proses untuk memperoleh akredtasi A itu dtempuh hanya dalam waktu sekitar 3 bulan. September 2007 ia mulai bertugas dan Desember itu sudah terakreditasi A. Dorongan ingin memperoleh Akreditasi A itu ia pompa terus sehinga semua mau bergerak, terutama guru-guru dan tenaga mudanya yang masih sangat enerjik. Meski ada yang terpental dan sampai mengajukan mutasi karena tidak siap dengan sistem baru yang ia terapkan, proses pembenahan MIN Cempaka Putih berlangsung sukses. 
Mulai Percaya Diri 
Setelah Akreditasi A sudah diperoleh, para guru dan siswa semakin percaya diri dengan madrasah mereka. Setiap Sabtu para guru belajar bersama. “Karena guru-guru yang kelas 1,2,3 itu nggak ngerti tematik, padahal waktu itu kita sudah memakai kurikulum 2006 dan kurikulum itu sudah harus tematik untuk kelas 1,2,3. Saya mencontohkan dan memberikan wawasan tentang tematik, lalu guru-guru lain saya minta menilai apa kekurangannya dan lainnya. Nah dari situ dan akhirnya mereka ngikutin. Itu berlangsung selama 6 bulan lamanya,” katanya. 
“Setelah 6 bulan alhamdulillah, mereka sudah bisa bikin silabus, perogram mingguan, dan lainnya, akhirnya saya bisa lepas pelan-pelan,” tambahnya. 
Semua proses pembenahan berjalan. Jetty Maynur melihat ada beberapa hal dasar yang harus ia kembangkan dari madrasah bersama teman teman guru lainnya. Pertama, persoalan akidah dan dasar agama para siswa harus kuat karena itu adalah basic keimanan. Jadi ketika para siswa sudah lulus, mereka tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif. 
Kedua, bagaimana madrasah mengembangkan sains dan matematik. Kedua materi ini adalah dasar kemampuan nalar. Untuk matematik dan sains ketika saat ia lihat masih lemah dan guru-gurunya tidak terlalu mahir dalam dua materi itu. Target yang ia canangkan dalam hal ini adalah meningkatkan mutu guru, karena siswa apalagi di usia MI sangat tergantung kepada guru. Ia pun meminta bantuan kepada para dosennya.
“Saya bilang tolong dong turun gunung untuk mengajar guru-guru kami konsep berhitung dan lainnya selanjutnya bagaimana mengajarkan konsep metodologi matematika,” kenangnya. 
Program Bahasa dan seni Budaya 
Berikutnya, ia mulai mengembangkan dari sektor bahasanya yakni bahasa Arab dan Inggris. Dimulai dengan percakapan bahasa Arab dan Inggris untuk harian. Jadi ketika ada siswa meminta izin, mereka harus memakai bahasa Inggris atau bahasa Arab. Jika tidak, maka mereka tidak diizinkan. Akhirnya mereka menjadi terbiasa. Ia juga bekerjasama dengan British International School di kawasan Bintaro. Kebetulan ada orang tua murid yang bekerja di sana dan mau menjadi volunteer. Setiap Sabtu ada kajian tentang ekstrakurikuler atau ekskul fun in English.
“Setiap bulan sekali guru-guru asing mereka datang ke sini entah dari Kanada, Australia, Meksiko, atau yang lain. Karena mereka beragam yang mengajar di internasional school, maka kita juga belajar banyak hal. Alhamdulillah hasilnya juara story telling yang barubaru ini setingkat provinsi Banten,” katanya. 
Berikutnya lagi yang dikembangkan adalah seni budaya. Jetty Mayur yakin dengan seni budaya akan memperhalus budi pekerti anak. Jadi anak yang suka tawuran kan bisa lebih halus oleh adanya seni budaya ini. Jadi ada seni rupa, tari, lukis, musik. Di musik ini ada marawis, band, dan drumband yang baru-baru ini dikembangkan lagi. Dan.. “Subhanallah keempatempatnya berkembang semuanya.” 
“Alhamdulillah. Sekarang bahasa sudah menghasilkan, matematika dan sains juara KSN tingkat nasional 2 kali berturut-turut untuk matematikanya,” katanya. Hal terpenting dalam semua pengembangan, termasuk dalam memacu siswa berpestasi adalah pendampingan. 
Di bidang olahraga madrasah ini juga merah prestasi di bidang renang dan catur, bahkan sampai tingkat nasional. Kelas Jauh Gedung dan ruang kelas MIN berada di Jl. W.R. Supratman Gg. Mahoni No. 58 Rt. 01/04 Kp.Utan Ciputat. Selain itu MIN Cempaka Putih juga membina kelas jauh filial di kawasan Vila Dago Pamulang. Kelas jauh ini dirikan 6 tahun yang lalu. 
“Waktu itu ada tanah vakum. Warga di sana membutuhkan sekolah dasar tapi mereka ingin sekolah yang berciri khas Islam. Akhirnya mereka datang ke Kemenag Kabupaten Tangerang. Akhirnya saya dipanggil. Ditawarkan kepada saya, ibu bisa nggak bikin sekolah tersebut?” 
Yang membuat Jetty Maynur bersemangat, tanah itu menjadi rebutan antara DKM masjid dengan pihak gereja. “Setelah itu saya bismillah, nggak apa-apa meskipun kepala kantor juga bilang kalau bangun madrasah ini nggak ada dananya sedangkan mereka dateng bulan April dan Juli harus sudah ada dan berjalan. Saya bilang kalau ini jadi gereja saya dosa juga kalau begitu. Akhirnya kita mengumpulkan dana. Kebetulan saya masih aktif di yayasan As Salamah yang sekarang sudah menjadi sekolah besar itu. Lalu saya bilang madrasah baru ini butuh tiga lokal dengan sekitar Rp 360 juta nanti saya nyicil sekitar 3 tahunan.” 
Dengan dana itu Jetty berhasil membuka 3 kelas, lalu bertambah 2 lokal tiap tahunnya. Jadi setiap tahun MIN 2 Tangerang Selatan membuka 2 kelas ditambah 2 kelas filial. Total untuk tahun ajaran 2015-2016 MIN 2 Tangerang Selatan mempunya 24 kelas dari kelas 1 sampai kelas 6. Filial MIN 2 Tangerang Selatan di Vila Dago saat ini menuju proses penegerian dari Kota Tangerang Selatan. Setelah dinegerikan madrasah ini akan berpisah dan menjadi MIN 3.
Saat ini madrasah di Vila Dago Tol (VDT) ini dikelola secara mandiri. Kepalanya madrasahnya adalah Jetty Maynur sendiri yang dibantu 3 wakil kepala (waka) di sana: Waka kesiswaan, waka sarana dan prasarana (sarpras), dan waka kurikulum.
Setiap Jumat, pengelola MIN 2 Tangerang Selatan dan pengelola kelas jauh berkumpul untuk sharing, dan sebulan sekali diagendakan pertemuan dengan pembahasan yang lebih stategis. Jadi terkait pendirian kelas jauh, awalnya Jetty merasa tertantang karena tanah kosong itu diincar oleh geraja. Selain itu di kawasan Tangerang Selatan jumlah madrasah dan SD tidak berimbang. Di kawasan Ciputat Timur saja ada 39 SD Negeri, sementara MIN cuman 1. 
Kerjasama Internasional 
Sejak tahun 2011 MIN 2 Tangerang Selatan mengikuti Program Bridge. Program ini mengemas pembelajaran tentang seni, budaya dan bahasa antara dua negara yaitu Indonesia dan Australia. Sejak itu MIN 2 Tangerang Selatan mempunyai “sister school” Marborought Primary School (MPS) Merlbourne Australia. 
Beberapa kali sejak 2011 guru-guru MIN mendapatkan kesempatan mengunjungi MPS. Sebaliknya, guru-guru MPS juga beberapa kali mengunjungi MIN 2 Tangerang Selatan. Pada Maret 2014 Jetty bersama seorang guru mendampingi lima muridnya untuk berkunjung dan belajar di MPS. Kelima anak madrasah yang belajar di MPS itu ternyata cukup pandai dan bisa mengikuti siswa MPS dalam belajar. Para siswa MPS dilatih dan dibimbing menjadi anak-anak yang berani untuk bertanya dan menjawab. Kepada para siswa MPS, para siswa MIN 2 Tangerang Selatan juga berbagi pelajaran seputar kebudayaan Indonesia dan memperagakan tari-tarian khas asal daerah Sumatera Barat. 
“Kami belajar tentang sistem belajar di sana, dan murid kami juga belajar bersama anak-anak di sana. Dan ternyata anak murid kami juga hebat nggak kalah cerdasnya dengan mereka.” Jetty bercerita, di Australia ada yang menarik. 
Mereka tidak beragama Islam, namun nilai Ilami berkembang bagus di sana. Ada disiplin, keteraturan, dan lain sebagainya. Dua bulan sekali guru-guru dan siswa MIN berkomunikasi via skype dengan pihak MPS untuk berdiskusi dengan tema-tema tertentu. “Misalkan tentang musik. Jadi dari sana menampilkan siswanya dengan alat musiknya dan di kami juga seperti itu. Jadi kita bisa bertukar budaya dengan mereka dan juga mereka tahu tentang kita dan kita tahu tentang mereka,” kata Jetty. 
Siswa Membludak Tiap Tahun 
Waktu Jetty Maynur masuk ke MIN 2 Tangerang Selatan, baru ada 290 siswa dari kelas 1 sampai 6. Masing-masing satu kelas. Sekarang jumlah siswanya sudah 495 siswa. Ditambah kelas jauh, jumlah siswanya menjadi 815 siswa. Sekarang jumlah siswa membludak. 
“Kalau pendaftaran itu kita batasi, karena kalau banyak yang tidak lulus itu kan nggak tega ya. Kalau tidak dibatasi bisa 600 an yang nggak lolos. Jadi sistem kami semisal menerima 70, ya pendaftarnya dibatasi 140 saja. Misalkan dibuka benar-benar itu bisa sedih sekali, seharusnya memang kalau pendidikan dasar itu tidak ada tes karena sebenarnya kita yang harus memfasilitasi. Cuman karena keadaan, kita nggak bisa peminatnya terlalu banyak. “ 
“Seperti tahun kemarin itu, bayangkan dari jam 4 pagi orang tua sudah antre di depan untuk bisa dapat nomor. Sebenarnya formulir baru dibagikan pukul 08.00, namun karena takut mengganggu jam belajar, kami umumkan jam 06.00 saja. Ternyata mereka antre mulai jam 4 pagi,” tambahnya. 
Demikianlah Jetty Maynur telah tercatat sebagai salah satu kepala sekolah yang telah meningkatkan nilai tawar madrasah. Ia bertekad menularkan ilmunya kepada mahasiswa KKN. “Madrasah itu nggak boleh besar sendiri karena kalau besar sendiri negeri repot jadi madrasah di sekitarnya juga harus diberdayakan,” katanya. 
Menurutnya, Kepala Madrasah itu adalah lokomotif perubahan di madrasah. “Saya bicara ke teman-teman, bagaimana caranya agar madrasah ini dicintai, dipilih oleh masyarakat, dan lain sebagainya. Sayang jika ada madrasah yang tidak berkembang. Apalagi mereka memiliki kans yang baik misalnya berlokasi di pinggir jalan,” katanya. 
Tidak berpuas dengan prestasinya sendiri. Ia tidak pernah berhenti belajar. Para guru MIN 2 Tangerang Selatan sudah mendapatkan penghargaan sebagai Guru Teladan Tingkat Propinsi Banten Tahun 2008, Guru Teladan Tingkat Nasional Tahun 2008, Guru Kreatif Alfatoun Tahun 2013, dan lain-lain. 
Namun ia tidak berpuas dengan semua hasil yang telah dicapai. Ia tidak berhenti mengadakan studi banding dan berkoordinasi dengan beberapa tokoh pengelola madrasah di Indonesia yang dinilainya telah berhasil dan sukses. Ada satu kalimat penutup yang ia sampaikan. Menurutnya, mutu madrasah itu berasal dari kualistas SDM-nya bukan fasilitasnya. Jadi keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi penghambat madrasah untuk terus bergerak maju.

Share:

Postingan Populer