Blog informasi seputar dunia pendidikan

Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2016

Inilah Enam Strategi Meningkatkan Mutu Madrasah


Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag (2016) yang dilakukan di tiga Madrasah Tsanawiyah (MTs) yaitu MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru menemukan enam strategi peningkatan mutu pendidikan di madrasah.

Pertama, pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered). Strategi ini lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa yang menekankan pada keaktifan belajar murid, bukan pada keaktifan mengajar guru.

Kedua, pengelolaan kesiswaan yang berfokus pada pelayanan terhadap peserta didik agar mereka berhasil dalam mengikuti proses pembelajaran dan sekaligus dapat memberi harapan semua pihak.

Ketiga, pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan. Pengelolaan ketenagaan bertujuan untuk mendayagunakan tenaga-tenaga kependidikan secara efektif dan efisien guna mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan.

Keempat, pengelolaan sarana prasarana, mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa madrasah yang paling mengetahui kebutuhan sarana dan prasarana, baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemuktahirannya, terutama sarana dan prasarana yang sangat erat kaitannya dengan proses belajar mengajar secara langsung.

Terkait penyediaan sarana prasarana di tiga MTs, dimana MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru telah menyediakan beragam fasilitas penunjang peningkatan mutu pendidikan diantaranya mulai dari penyediaan ruangan belajar, kantor kepala, TU dan guru, laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, gedung olahraga, lapangan upacara, ruang Bimbingan Konseling, ruang UKS/M, sangar pramuka, sanggar seni, perpustakaan, masjid, tempat parkir, pos keamanan, pagar.

Kelima, pengelolaan pembiayaan. Keuangan di madrasah merupakan bagian yang amat penting karena setiap kegiatan membutuhkan dana. Madrasah juga harus diberikan kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.

MTsN 2 Bandar Lampung dan MtsN Bukit Raya dana yang digunakan selain adari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), juga dari para donatur, keterlibatan orang tua, juga bantuan dana dari Pemda dan lembaga DPRD. Sedangkan MTs Al-Hikmah Bandar Lampung, dana banyak berasal dari kharismatik Kyai pesantren Al-Hikmah Bandar Lampung yang membuat masyarakat mau membrikan sumbangan dana untuk peningktan mutu madrasah.

Keenam, output yang diharapkan. Madrasah harus memiliki output yang diharapkan. Output madrasah adalah prestasi madrasah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di madrasah. Output madrasah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non akademik (non academic achievement).

Terkait output yang prestasi di madrasah, tiga MTs yang telah diteliti memiliki peserta didik yang mumpuni di bidang akademik, dimana peserta didik telah mendapat NEM yang bagus dan meraih berbagai kejuaraan di antaranya kejuaraan olimpiade matematika, fisika, biologi. Begitu pula dengan prestasi nonakademik, dimana ketiga Mts yang diteliti telah memiliki penghargaan mulai dari tingkat nasional, tingkat propinsi dan tingkat kab/kota, misalnya kejuaraan pramuka, PMR, seni tari, Silat, Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ).

 
Share:

Sabtu, 29 Oktober 2016

Para Guru, Inilah 7 Kunci Mencerdaskan Murid

 Ilustrasi proses belajar mengajar di kelas.

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur Dr. KH Asep Saifuddin Abdul Chalim menyebutkan sejumlah tips agar murid-murid sukses dalam menyerap ilmu pengetahuan.

Menurut Kiai Asep, kunci pertama adalah al-jiddu wal muwazhabah atau berkesungguhan dan ajeg dalam berkesungguhan. Berkesungguhan dan terus berkesungguhan.

Misalnya tidak benar apabila murid tidak diberi pekerjaan rumah (PR). Tetapi PR harus merangsang bersangkutan untuk kelanjutan proses belajar, tidak berhenti saat di sekolah saja.

“PR itu harus dimulai dari yang mudah, kemudian yang setengah sulit, baru agak sulit. Tetapi yang mudah itu bisa menggiring pada yang setengah sulit,” jelasnya, Kamis (27/10) di Mojokerto.

Kedua, taqlilul ghidza atau menyedikitkan makan. Murid harus dibiasakan jangan banyak makan atau makan tidak boleh sampai kekenyangan. Sebab menurut ilmu kedokteran, kenyang itu datang 10 menit setelah makan. “Sementara kenyang itu menghilangkan kecerdasan,” tambahnya.

Ketiga, mudawamatul wudlu’ yakni murid itu harus selalu mempunyai wudhu dan gurunya pun harus punya wudhu.

Keempat, tarkul ma’aashi, atau tidak boleh bermaksiat. “Di dalam Al-Quran disebutkan ‘dosa itu membebani dirimu’. Ketika seorang murid membawa pelajaran dari gurunya, membawa beban dipundaknya, secerdas apapun tidak akan mengerti dengan pelajaran yang dipelajarinya.”

Kelima, qira’atul Qurani nazhran, atau membaca Al Quran dengan dilihat Al-Qurannya. “Ketika kita membaca Al-Quran dengan melihat huruf-hurufnya, kita akan dipaksa untuk berkonsentrasi. Berkonsentrasi itu latihan kecerdasan.”

Keenam, melaksanakan shalat malam. Dengan shalat malam sebagai kendaraan untuk keberhasilan cita-cita.
Ketujuh, tidak boleh jajan di luar, di pasar. Dalam salah satu kitab kuning ada penjelasan bahwa makanan di luar lebih mendekati kepada ketidaksucian.

Jajan di luar itu di tempat terbuka, banyak orang yang melihatnya, lalu memiliki keinginan untuk memiliki atau menikmatinya. Namun tidak bisa membeli karena tidak punya uang. Kalau makanan terkondisikan seperti itu, hilang barakahnya.

“Akhirnya akan mengantuk dalam mengikuti pelajaran. Ketika kantuk dalam mengikuti pelajaran, murid tidak mungkin akan mengerti,” tegas kiai yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.



Share:

Jumat, 09 September 2016

Mendikbud Dukung Kebijakan Bupati Soal PR Diganti Tugas Kreatif

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi melarang pelajar diberikan pekerjaan rumah (PR) dan digantikan dengan tugas kreatif. Kebijakan pria yang akrab disapa Kang Dedi itu mendapat dukungan dari Mendikbud Muhadjir Effendy.

"Saya kira itu baik. Memang seharusnya seperti itu," ujar Muhadjir dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/9/2016).

Hanya saja menurut Muhadjir, itu bukan berarti Kemendikbud akan mengeluarkan kebijakan serupa untuk diterapkan di daerah lain. Namun ia menegaskan mendukung langkah Kabupaten Purwakarta tersebut yang dikeluarkan melalui Surat Edaran (SE) No 421.7/2014/Disdikpora tentang Pemberian Tugas Kreatif Produktif Pengganti Pekerjaan Rumah dan Larangan Penyelenggaraan Karya Wisata.

"Itu karena sekolah saat ini berada di dalam wilayah otonomi pemerintah daerah," kata Muhadjir.

"Tetapi semua kebijakan untuk pendidikan yang lebih bagus, pasti akan kami dukung," imbuh dia.

Seperti diketahui, Bupati Dedi mengeluarkan larangan pemberian PR dan Pemberlakuan Karya Wisata sejak SE dikeluarkan pada Senin (5/9). Kebijakan tersebut berlaku untuk sekolah SD, SMP, dan SMA/K se-Kabupaten Purwakarta.

Dalam surat edaran tersebut Dedi melarang guru untuk memberikan PR yang bersifat akademis. Namun PR diganti pada hal yang bersifat kreatif, produktif, dan sesuai dengan minat atau bakat anak.

"Kita ini terlalu memikirkan akademis, tapi sisi kreatifitas dan produktifitas tidak ada. Cukup saja hal yang akademis itu dihabiskan di sekolah, jangan dibawa ke rumah sebagai PR. Saya sering lihat anak di rumahnya malah depresi karena mengerjakan PR," ucap Dedi, Senin (5/9).

Dedi mencontohkan, pelajar yang seorang anak peternak bisa diberikan pekerjaan rumah seperti membuat puisi atau cerpen mengenai hewan peliharaannya sesuai bidang akademis Bahasa Indonesia. Sementara untuk pelajaran matematika, sang anak diberi tugas menghitung luas kandang miliknya agar kelak bisa membuat sendiri dengan luasan dan kualitas yang layak.

Sementara itu soal larangan karya wisata, Dedi memiliki alasan yang kuat. Menurutnya, selama ini karya wisata malah membebankan para pelajar seolah hal tersebut bersifat wajib. Sementara pelajar yang tidak ikut karya wisata dibebankan dengan tugas yang tidak relevan.

"Judulnya saja karya wisata atau study tour tapi kan itu intinya hanya main. Terus yang tidak ikut disuruh bikin makalah yang susah-susah biar kesannya mending ikut dibanding mengerjakan itu. Lebih baik piknik ya piknik saja, tidak ada keharusan," tutup Dedi. 


Share:

Kamis, 28 Juli 2016

GURU JANGAN MINDER DENGAN MINIMNYA INFRASTRUKTUR

Sekolah yang baik tidak identik dengan infrastruktur yang baik akan tetapi justru terletak pada gurunya yang baik dan berkualitas. Hanya guru yang berkualitaslah yang akan merubah kendala minimnya sarana prasarana menjadi sebuah tantangan untuk kreatif. "Karena itu marilah serentak memperbaiki guru", ujar Dr. H. Mohsen, MM selaku pejabat sementara (Pjs) menggantikan Direktur PAI sebelumnya Dr. Amin Haedari yang memasuki masa purna tugas sejak bulan Juli 2016. Di depan 60 peserta kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru PAI SD Angkatan 5 di Surabaya, 26 Juli 2016 Mohsen berharap selesai mengikuti pelatihan para GPAI mampu menebar keberkahan untuk sekelilinya terutama di daerahnya masing-masing di Jawa Timur.

Pelatihan Kompetensi Guru yang diselenggarakan Direktorat PAI merupakan upaya memperbaiki kemampuan guru yang terukur waktunya. Dengan didampingi instruktur yang mumpuni dan pendekatan assesment (penilaian) diharapkan para guru akan mendapatkan pengetahuan sekaligus skill yang memang menjadi kebutuhan saat ini. "Di negara maju, pendidikan tidak dimulai dengan kurikulum awal, akan tetapi berdasar pada kebutuhan apa di saat ini?" tambah Mohsen. Untuk itu agar guru berhasil, ia memberikan motivasi menarik. "mengajar jangan hanya dianggap tugas tapi bagian dari kesenangan sekaligus seni dalam kehidupan. Jika tidak dijadikan seni, maka mengajar tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri."

Sementara itu Kasubdit PAI SD Dr. Halfian Lubis, dalam pembukaan acara menyampaikan bahwa program PKG yang berbasis ICT ini merupakan upaya penting dalam mengatasi 5 permasalahan guru PAI yang lazim yakni rendahnya penguasaan materi keilmuan, lebih menekankan ranah kognitif, belum memadainya pengunaan media, sumber dan sarana, penguasaan metode yang masih berfokus pada guru (teacher centered learning) dan penguasaan ketrampilan penilaian pembelajaran yang masih rendah.



Share:

Selasa, 26 Juli 2016

Membuat Perpustakaan Rumah

Membaca itu penting sekali untuk perkembangan intelektual dan jiwa anak-anak. Besar kemungkinan semua orang tua setuju. Tapi apakah anggukan setuju tersebut selalu diikuti dengan kegemaran membaca? Belum tentu. Mengapa bisa begitu.

Banyak kemungkinan yang membuat kesadaran pentingnya membaca tidak diikuti dengan kegiatan membaca. Satu di antaranya adalah soal akses terhadap bacaan. Maka dari itu, jika ada seorang anak tidak gemar membaca, jangan langsung dikatakan bahwa ia malas. Tapi bisa jadi karena memang tidak ada bahan bacaan yang harus dibaca.

Selain akses, dalam konteks budaya baca di kalangan anak-anak tergantung pula pada faktor keteladanan. Hanya dari orang tua yang gemar membaca sajalah dapat dijumpai anak-anak yang suka membaca.  Lantas bagaimana caranya menyediakan akses bacaan kepada anak-anak sekaligus memberi keteladanan kepada mereka? Salah satu caranya adalah dengan membuat perpustakaan rumah (home library).

Mendengar kata perpustakaan, jangan Anda bayangkan layaknya perpustakaan umum yang dikelola perguruan tinggi dan pemerintah yang mensyarakatkan adanya jumlah koleksi yang sekian ribu judul, lengkap dengan fasilitas penunjang lainnya. Membuat perpustakaan rumah sangat mudah, tidak memerlukan biaya besar, karena perpustakaan rumah bisa berupa pojok baca atau satu ruang/kamar layaknya kamar tidur yang peruntukkannya untuk membaca.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan bagian mana dari ruang rumah yang akan dijadikan home library. Ada beberpa pilihan, mulai dari ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dan serambi belakang. Saya pribadi lebih memilih ruang makan sebagai ruang baca sekaligus.

Pertimbangannya sederhana, karena kebetulan ruang makan menjadi ruang yang paling sering menjadi tempat kami berkumpul. Jadi sambil makan, kita bisa sambil membaca. Meja dan kursi di ruang makan bisa sekalian dijadikan meja baca.

Langkah kedua, siapkan tempat untuk meletakkan buku. Tidak selalu harus dengan membeli rak buku. Cukup gunakan almari perabot makan yang bermeja rendah, lalu belilah penjepit buku 2-3 pasang yang harganya tak lebih dari Rp 50 ribu, dan Anda sudah bisa memiliki rak buku. Kalau Anda mau repot sedikit, bisa juga Anda  membuat rak buku sederhana dengan membeli papan 4-5 lembar, dengan model kotak berpartisi. 

Langkah ketiga, buat label khusus berupa stiker dari kertas warna yang ditempel di punggung atau jilidan buku. Label tersebut berfungsi untuk menandai kategorisasi bacaan, misalya buku untuk orang tua, buku untuk anak-anak dan lain-lain. Jadi Anda tidak perlu membuat katalogisasi layaknya perpustakaan. Selain ribet, untuk jumlah koleksi buku di bawah 1.000 judul, kita masih bisa dengan mudah mengakses buku tanpa sistem katalogisasi.

Langkah keempat, sepakati jam membaca bersama Anda dengan anak-anak. Jika memungkinkan, Anda bisa mengadakan bedah buku spontan. Anda bisa bercerita kepada buah hati Anda tentang buku yang sedang atau telah selesai Anda baca. Lain waktu, Anda bisa gantian meminta anak-anak untuk menceritakan buku yang mereka baca. Anda bersama anak-anak juga bisa merencanakan (menulis tema atau judul) buku-buku baru apa saja yang akan dibeli pada saat ke toko buku di tiap awal bulan. Dengan demikian anak-anak merasa dilibatkan dalam memperkaya jenis bacaan dan koleksi buku di perpustakaan rumah. Harapannya, rasa cinta mereka kepada aktivitas membaca semakin tinggi.



Share:

Kamis, 21 Juli 2016

Jadikan Kader Police Care Student, 1.000 Siswa SMA & SMP Direkrut


1.000 Siswa SMA dan SMP di Pamekasan, Madura, dijadikan kader Police Care Student atau siswa pelopor keselamatan lalu lintas. Mereka direkrut dan dilantik bersama di Taman Arek Lancor dihadiri seluruh kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan setempat.

"Saya harap kalian mampu menjadi pelopor diantara kawan-kawan sekolah untuk lebih peduli pada keselamatan berlalu lintas. Sebab, dari sekian
kali terjadinya kecelakaan, juga melibatkan siswa dan pelajar sekolah. Jadilah pelopor keselamatan lalu lintas yang trengginas di sekolahmu," pesan Kapolres Pamekasan, AKBP Nowo Hadi Nugroho kepada ribuan siswa, Kamis (21/7/2016).

Acara yang dipusatkan di jantung Kota Pamekasan itu, mendapat perhatian sejumlah pejabat Pemkab Pamekasan. Diantaranya, Kadishub
Mohamad Zakir dan Kasatpol PP Didik.

"Pelajar sekolah menengah, baik menengah pertama maupun menengah atas dan sederajat merupakan elemen penting dalam masyarakat berlalulintas.
Peranan siswa sangat penting membantu polantas untuk mewujudkan masyarakat yang tertib berlalulintas. Jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas," tambah kapolres.

Kapolres Pamekasan melakukan dokumen kerjasama dengan kepala dinas pendidikan serta kepala kementerian agama Pamekasan. Kerjasama untuk mewujudkan Kota Pamekasan yang tertib lalu lintas. Utamanya keselamatan berlalu lintas di kalangan pelajar. 



Share:

Rabu, 20 Juli 2016

Menentukan Sistem Pendidikan di Indonesia


Dengan ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki kondisi alam yang berbeda. Mulai dari pegunungan, hingga laut dan pantai. Perbedaan kondisi alam tersebut pun seharusnya menjadi dasar untuk menentukan sistem pendidikan.

"Anak-anak Indonesia kan ada yang tinggal di dekat gunung sampai pantai. Kenapa pendidikan yang ada tidak disesuaikan saja dengan kondisi tempat mereka tinggal. Kenapa standarnya harus menggunakan gedung sekian luasnya dan sejumlah standar lainnya. Kalau yang tinggalnya di Papua bagaimana?" ujar Konsultan ACDP Indonesia untuk Studi Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu PAUD, Dr Gutama dalam diskusi ACDP, "Apa Itu Sekolah Ramah Anak dan Mengapa Itu Sangat Penting?" di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (20/7/2016).

Menurutnya, sekolah ramah bukan hanya terbentuk dari standar-standar fisik seperti memiliki gedung sekolah dan fasilitas lengkap. "Namun sekolah ramah adalah sekolah yang bisa menyesuaikan kondisi mereka," ujarnya.

Gutama juga berpendapat bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi akar bagi terbentuknya pendidikan yang baik di masa mendatang. Apalagi masa PAUD adalah anak-anak dengan usia emas, sehingga perlu diberikan stimulasi yang tepat.

"Di Singapura, mereka sudah memperhatikan pendidikan sejak anak masih di dalam kandungan. Mereka juga sadar bahwa PAUD adalah fondasi untuk membentuk orang-orang hebat di masa mendatang. Anak usia dini itu membutuhkan stimulus yang terus menerus," katanya.

Gutama mengakui, perkembangan teknologi telah membuat metode pembelajaran menjadi lebih bervariasi dan mudah. Namun tetap saja, peran guru tidak boleh tergantikan.

"Teknologi boleh menjadi bagian dari pendidikan, tapi kunci dari pendidikan itu sendiri adalah guru. Karena gurulah yang akan memberikan inspirasi kepada siswanya," tambahnya.



Share:

Rabu, 29 Juni 2016

Menerapkan Metode Debat dalam Pembelajaran, Bagaimanakah?

Ilustrasi debat kelompok siswa dalam proses pembelajaran.

Aktivitas pembelajaran berbasis interaksi dan keaktifan siswa harus terus dilakukan oleh guru agar kapasitas kepercayaan diri siswa meningkat. Dalam hal ini, mewujudkan kecerdasan psikomotorik tidak kalah pentingnya dengan kecerdasan kognitif dan afektif. Justru, ketiga kecerdasan yang masuk dalam Taksonomi Benyamin S. Bloom ini dapat ditumbuhkan dalam satu metode saja, yakni metode debat.

Metode debat dalam pembelajaran di sekolah ini tidak seperti debat pada umumnya yang terkesan otot-ototan tanpa memberikan substansi. Tetapi debat untuk keperluan pembelajaran siswa yakni diterapkan dengan sistematis dan terstruktur oleh guru sehingga siswa dapat memahami esensi berdebat. Langkah ini dilakukan agar proses berdebat tidak menonjolkan egoisitas, melainkan intelektualitas dengan berbagai argumen dan data.

Memahami esensi debat juga penting agar terhindar dari yang namanya debat kusir, yaitu debat persoalan sesuatu yang ujung-ujungnya menyerang pribadi dan individu sehingga menimbulkan permusuhan. Rasionalitas debat dapat dipahami melalui filososfi permainan sepak bola. Esensi debat mereka yaitu saling memainkan dan merebut bola dengan berbagai taktik dan teknik yang digunakan sehingga menghasilkan gol. Mereka saling respect tanpa mencederai lawan dengan sengaja. Setelah permainan selesai pun, mereka saling berjabat tangan bahkan kerap kali bertukar jersey satu sama lain walau salah satu tim menderita kekalahan.

Falsafah permainan sepak bola tersebut bisa menjadi pijakan filosofis dalam memaknai debat yang berkualitas sehingga menghasilkan keputusan yang bermanfaat. Karena dalam proses debat sejatinya muncul solusi atau kemungkinan persoalan baru yang dapat dikaji ulang sebagai sebuah penemuan. Semua harus terakumulasi oleh fasilitator debat yaitu guru.

Secara teoritis, Hendrikus (1991) seperti dikutip Sigit Setyawan (2013) menjelaskan bahwa debat secara umum adalah untuk mencapai kemenangan untuk satu pihak. Dalam proses pembelajaran, kemenangan argumentasi oleh siswa dapat ditentukan melalui keputusan guru sebagai juri atau voting oleh orang yang diangap paling sesuai dengan topik bahasan. Namun, perlu dicatat bahwa terma kemenangan di sini bukan berarti mengalahkan yang lain. Karena esensi debat akademis yaitu memunculkan solusi dan menemukan persoalan baru yang perlu dikaji ulang dan diteliti.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin debat kurang mendatangkan banyak manfaat. Namun dalam kegiatan belajar mengajar, metode ini dapat digunakan untuk membahas materi, permasalahan, ide-ide, agar siswa dapat memahami atau merumuskan pokok pikiran orang lain maupun dirinya sendiri. Selain itu, metode debat juga dapat digunakan untuk mencari penyelesaian atas suatu masalah agar siswa mengevaluasi, membandingkan, atau mendemonstrasikan kemampuan berpikirnya dalam susunan bahasa yang terstruktur.

Secara teknis, sebelum mengawali debat, guru harus menyiapkan materi atau topik debat. Kemudian guru membagi kelompok yang pro (afirmatif) dan yang kontra (negatif) terhadap topik yang dipilih. Agar proses debat berjalan dengan kondusif, guru harus membuat aturan debat yang tidak boleh dilanggar oleh masing-masing kelompok. Selain itu, guru juga harus memberikan batas waktu masing-masing kelompok untuk memaparkan argumennya, pun demikian dengan tanggapan balik kelompok lainnya.

Dalam proses debat ini, guru juga dapat memberdayakan siswa untuk menjadi pengawas waktu jika waktu yang diberikan telah selesai dengan isyarat tertentu. Terkait dengan peran juri, bisa dilakukan oleh guru sendiri atau guru menunjuk beberapa orang siswa untuk menjadi juri. Distribusi peran dalam proses debat ini juga memberikan pengalaman berharga kepada para siswa sehingga memahami proses yang terjadi.

Langkah terakhir, guru melakukan evaluasi terhadap proses jalannya debat. Tahapan ini penting agar siswa memahami dengan benar setiap proses yang terjadi. Dalam ilmu pedagogik, hal ini termasuk usaha menerapkan konsep learning by doing, belajar sambil melakukan. Kerap kali konsep ini lebih mudah membuat para siswa memahami suatu materi karena mereka terlibat langsung dalam uraian konsep yang dilakukan melalui sebuah praktik. Selamat mencoba!

Oleh Fathoni Ahmad
Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta.


 
Share:

Minggu, 19 Juni 2016

Presisi Kurikulum dan Materi Penting dalam Membangun Intelektualitas

Prie GS, Budayawan Nasional asal Semarang, Jawa Tengah.
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Budayawan nasional asal Semarang, Jawa Tengah Prie GS menyampaikan orasi budaya di hadapan instruktur nasional Pendidikan Agama Islam (PAI), akhir pekan lalu di Jakarta. Pria yang juga motivator ini menjelaskan terkait ketepatan (presisi) menyusun kurikulum untuk membangun intelektualitas yang mantap secara budaya.

Di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas pendidikan ini, Prie GS memberikan uraian presisi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari perspektif tokoh dan model tidur seseorang. Dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia ini, menurut Prie penting memahami presisi dan ketenangan.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Kemenag ini, dia memaparkan satu per satu model tidur yang selama ini diamatinya, mulai dari tidurnya seorang kepala kantor hingga anak-anak. Menurut Mas Prie, sapaan akrabnya, manusia bisa belajar dari kemurnian tidurnya anak-anak.

Anak-anak, menurutnya, bisa tidur dalam posisi apapun dan dimana pun. Kemurnian ini terkait dengan kehidupan manusia yang terkadang terlalu sibuk dengan kehidupan dunianya sehingga melupakan sisi kemanusiaan pada dirinya.

“Setingkat di bawah anak-anak adalah tidurnya seorang tunawisma. Bayangkan, mereka bisa tidur dengan tenang di atas jembatan tipis yang melintang di atas saluran air. Jika gerak dan miring sedikit saja, selesai itu,” ujar Prie menerangkan foto yang ditunjukkannya melalui slide presentasi diikuti riuh tawa ratusan peserta.

Hal ini, imbuhnya, terkait dengan ketepatan dan ketenangan. Sehingga dalam menyusun kurikulum dan materi pelajaran, para pendidik hendaknya tepat dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi anak-anak, khususnya di zaman modern seperti sekarang. Dia bukan tanpa alasan, karena generasi muda sering dijadikan sasaran agitasi bagi kepentingan kelompok tertentu.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Prie dengan memaparkan tokoh nasional dan internasional dari sisi budaya presisi dan ketenangan. Dia secara apik menjelaskan presisi yang dilakukan oleh pebalap Moto GP Valentino Rossi, pebalap Formula 1 Michael Schumacher, Aktor Holywood Tom Cruise, dan penyanyi internasional Maria Carey dalam menjalani profesinya.

Prie juga menjelaskan tentang Presisi budaya dan ketenangan dari seorang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang selama ini dia kagumi. Menurut Prie, Gus Dur mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Anehnya, kata dia, Gus Dur kerap hanya melempar joke atau humor dengan tenang. “Selesai masalah,” celetuk Prie diikuti gerrr peserta.
 
 
 
Share:

Jumat, 10 Juni 2016

Hilangkan Cara Mengajar Konvensional

“Masih banyak guru memilih metode pembelajaran gaya jadul, serba menghapalkan. Diperparah dengan latihan soal tiada henti. Cara itu dinilai mematikan kreativitas. Ironisnya, masih banyak negara yang mempraktikkannya; Singapura, Tiongkok, Korea, Polandia, dan Swiss”
(Andreas Schleicher, Direktur Pendidikan dan Keterampilan dan Penasihat Khusus tentang Kebijakan Pendidikan OECD)

Jika murid dituntut di era millenium ini untuk memiliki keterampilan; kolaborasi, komunikasi, dan mencari solusi atas persoalan sebagai bekal bertahan hidup pada abad ini, mestinya guru pun begitu. Sayangnya, masih lebih banyak guru yang masih mempertahankan status quo,  mengajar dengan gaya era 80-an kata Schleicher sebagaimana dituturkan oleh Luki Aulia di halaman KOMPAS (28/03/16).

Dunia sudah berubah. Seharusnya guru memberikan tugas menantang dan memancing keingintahuan sehingga muncul kreativitas inovasi. Tetapi, untuk bisa seperti itu, guru harus luas wawasannya dan kompeten di bidangnya. Ini yang selama ini dilakukan Finlandia dan Jepang

Tidak mudah mendapatkan atau membentuk guru seperti itu, tetapi bukan tidak mungkin. Untuk memastikan guru berkualitas, langkah awalnya bisa dari menarik minat lulusan atau orang-orang terbaik agar mau menekuni profesi guru. Jika profesi guru dianggap menantang, bergengsi, atau punya masa depan maka para calon guru yang bagus nan berkualitas akan berdatangan

Guru dituntut tak hanya lihai mengajar, tetapi juga lihai memfasilitasi dan mendorong potensi setiap anak didiknya. Jadi, guru pastinya tidak kemudian berarti memberi tugas lalu murid ditinggalkan begitu saja tanpa bimbingan. Pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) ini kerap disederhanakan sebagai metode pembelajaran aktif dan mandiri. Murid disuruh cari bahan sendiri, diskusi sendiri, dan kerjakan sendiri. Bak kelas otopilot.
Problem guru yang belum tercerahkan dengan teknik fasilitasi ini, tak jarang menganggap menyulitkan dan menyusahkan. Sebagian guru beralasan kesulitan memfasilitasi anak didiknya karena sudah ribet dengan tugas mengajar, menilai, dan tugas administratif lainnya. Dan ini adalah keluhan akan tingginya tuntutan kepada guru saat ini.

Oleh karena itu, pemerintah dengan K-13-nya, harus diingatkan agar jangan hanya membicarakan kebutuhan dan keterampilan pedagogi guru, tetapi lebih banyak pada konten kebijakan pendidikan yang harus disampaikan guru. Guru yang kreatif sekalipun sering terkekang dengan kurikulum dan silabus dari pemerintah yang masih menekankan pada kemampuan dasar, seperti matematika atau sains.

Guru Kreatif
Guru Kreatif


Sekolah dan guru tak kaku mengikuti kurikulum saja. Harus fleksibel beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pasalnya, anak sekarang harus menguasai keterampilan yang menekankan pada praktik, tak hanya teori. Sekolah harus bisa menjamin anak didik hingga tidak menjadi beban negara. Mereka harus siap masuk atau menciptakan lapangan pekerjaan.

Oleh karena itu, tugas dan tanggung jawab guru kian tak mudah dan profesi guru tidak bisa lagi diisi SDM ala kadarnya. Tetapi, ini tidak berarti semua guru begitu. Banyak juga guru yang sudah baik kualitasnya, bahkan berprestasi, karena menghasilkan praktik-praktik terbaik, tetapi kinerja mereka kerap tidak tersorot karena mereka bekerja dalam sunyi.

Keterkaitannya dengan dunia kerja dengan K-13, beberapa sumber menyebutkan bahwa  di Amerika saja, selama 20 tahun terakhir, lebih dibutuhkan SDM yang memiliki keterampilan kognitif dan interpersonal. Para ekonom dunia juga mengingatkan bahwa dunia membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya mampu menganalisis masalah sendirian, tetapi juga mampu mengomunikasikan temuannya kepada orang lain di mana pun orang itu berada.

Melihat tren dunia, kualitas guru harus ditingkatkan. Pelatihan berkelanjutan wajib hukumnya diikuti pendampingan tiada akhir. Guru-guru yang dinilai sudah baik harus dikloning sebanyak-banyaknya dengan cara berbagi pengalaman dan praktik terbaik kepada sesama guru



Share:

Kamis, 02 Juni 2016

Menteri Agama Dorong Terwujudnya Sistem Pelayanan Terpadu

Foto : rmol.co
Menteri Agama memberikan perhatian besar untuk mewujudkan sistem pelayanan terpadu di lingkungan Kementerian Agama," terang Prof. Moh. Isom Yusqi, M.Ag (Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam) di hadapan para peserta Workshop Review SOP Ditjen Pendidikan Islam, Rabu, 1 Juni 2016 di Hotel Salak Heritage, Bogor. Acara tersebut akan berlangsung selama 3 (tiga) hari, yakni pada 1-3 Juni 2016.

Workshop Review SOP dibuka secara resmi oleh Isom Yusqi sekaligus membuka acara Sosialisasi Anugerah Konstitusi Tahun 2016. Dua kegiatan tersebut diselenggarakan pada waktu yang bersamaan tetapi dengan ruangan dan peserta yang berbeda. Peserta Workshop Review SOP adalah perwakilan dari tiap-tiap unit eselon II pada Ditjen Pendidikan Islam yang akan dibagi ke dalam empat kelompok untuk mereview seluruh SOP yang ada.

H. Aceng Abdul Aziz, M. Pd (Kabag Ortala dan Kepegawaian) menerangkan bahwa arti penting dari SOP adalah untuk meningkatkan pelayanan. Dengan prosedur kerja yang jelas dan terukur akan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja pegawai. "Sudah menjadi tugas Bagian Ortala dan Kepegawaian untuk menjalankan program-program yang bermuara pada terwujudnya good government," tuturnya.

Isom Yusqi menilai bahwa kendala yang ada pada Ditjen Pendidikan Islam adalah pada aspek pengimplementasian SOP. "Kita jago menyusun SOP, tetapi lemah dalam pelaksanaannya," tegasnya di hadapan para peserta workshop. Padahal, jika seluruh unsur pada Ditjen Pendidikan Islam komitmen untuk mengikuti SOP maka peningkatan pelayanan akan terwujud.

Terwujudnya sistem pelayanan terpadu sangat ditekankan oleh Menteri Agama. Melalui penerapan pelayanan terpadu akan mampu menyederhanakan alur birokrasi yang berbelit-belit, serta akan mampu menghindari penyimpangan-penyimpangan.

Perbaikan terhadap sistem terus dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas kinerja di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam. 



Share:

Rabu, 01 Juni 2016

KALENDER PENDIDIKAN RA/MADRASAH TP. 2016/2017

Yth. Kepala Madrasah Negeri / Swasta
Se-Provinsi Banten
Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Sehubungan akan dimulainya kegiatan pembelajaran Tahun Pelajaran 2016/2017, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten telah menerbitkan Kalender Pendidikan RA, MI, MTs dan MA Tahun Pelajaran 2016/2017, maka dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Kegiatan pembelajaran Tahun Pelajaran 2016/2017 dimulai tanggal 18 Juli 2016;
  2. Kalender Pendidikan RA, MI, MTs dan MA di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten Tahun Pelajaran 2016/2017 sebagaimana tercantum dalam lampiran berikut yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari surat ini;
  3. Setiap madrasah menyelenggarakan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) selama jam belajar di madrasah pada minggu pertama masuk sekolah selama 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) hari, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 Tahun 2014 tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah;
  4. Masa Orientasi Peserta Didik Baru bertujuan untuk mengenalkan program madrasah, lingkungan madrasah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri peserta didik, dan kepramukaan sebagai pembinaan awal ke arah terbentuknya kultur madrasah yang kondusif bagi proses pembelajaran lebih lanjut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional;
  5. Masa Orientasi Peserta Didik Baru diarahkan agar peserta didik mengetahui dan memahami tata tertib madrasah serta mengetahui hak, kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai bagian dari warga madrasah untuk dapat beradaptasi dan menyatu dengan warga madrasah dan lingkungan madrasah;
  6. .......................... Dst.

DOWNLOAD KALENDER PENDIDIKAN RA/MADRASAH TP. 2016/2017


Sumber : Bidang Pendidikan Madrasah Banten
Share:

Sabtu, 28 Mei 2016

Selasa, 24 Mei 2016

Madrasah Borong 27 Medali Pada Ajang OSN 2016 Palembang

Palembang (Pinmas) —- Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2016 di Palembang sudah selesai. Sejumlah siswa telah mengukir prestasi, termasuk siswa madrasah yang berhasil membawa pulang 27 medali.

Pengumuman peraih medali berlangsung sangat meriah di Palembang Sport Convention Center (PSCC), Palembang, Jumat (20/5), bersamaan dengan upacara penutupan. Atas prestasi ini,  Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan menyampaikan apresiasi dan selamat atas prestasi siswa madrasah.

“Selamat atas prestasi yang telah diraih. Kalian telah membuktikan dakwah untuk madrasah diarena OSN. Mudah-mudahan torehan prestasi tersebut menambah semangat dan geliat siswa madrasah yang belum berprestasi dalam ajang OSN untuk senantiasa berprestasi dalam semua bidang,” kata M. Nur Kholis.

Berikut daftar siswa madrasah peraih medali pada ajang OSN 2016:  Untuk tingkat SD/MI, MIN 1 Malang meraih medali Perunggu bidang IPA. Untuk Tingkat SMP/MTs pada bidang IPA, MTs 1 Malang dan MTs Khusnul Khotimah Jatim, masing-masing berhasil meraih medali perunggu.

Sementara, pada tingkat SMA/MA, 4 medali perunggu diraih oleh MAN IC Serpong, yaitu: bidang Matematika (Muhammad Rifqi Zein), Kimia (Abdullah Muqoddam), Biologi (Ihsan Fauzan), Ekonomi (Muhammad Raihan Ramadhan). MAN IC Gorontalo meraih 5 medali perunggu, pada bidang Kimia (Izzy Granary), Biologi (Fitri Aulia Rachman), Astronomi (Mocahmmad Ilham Zamzami), dan dua medali bidang Kebumian (Azrie Ezziat Putera Muhammad dan Ana Nurul Hidayati).

Empat medali perunggu lainnya diperoleh siswa MAN 3 Malang, pada bidang Astronomi (Helmy Yoga Prakoso), Informatika/komputer (Muhammad Refindo Azhar), Geografi (Ahmad Islahudin Daliputra), dan Geografi (Moch. Sholehuddin Usni Alfaridz). Tidak mau ketinggalan, satu medali perunggu disumbangkan oleh MAN IC Jambi pada bidang Kebumian atas nama Muhammad Syamsul A.

Selain itu, siswa madrasah juga berhasil meraih 8 medali perak, yakni:  satu medali bidang Fisika diraih M Tamamul Furdaus (MAN IC Serpong),  dua medali bidang Kimia diraih M Naufal Najib Sanjaya dan Adiba Nur Asri (MAN 3 Malang), satu medali bidang Kebumian diraih Agni Shalha Ali (MAN 3 Malang), satu medali bidang Astronomi atas nama Rizqi Aldila Umas (MAN 3 Malang), bidang Ekonomi diraih Dwiki Darmawan (MAN 1 Jogja), serta dua medali bidang Geografi masing-masing diraih Almira Janissa Nerayani (MAN 4 Jakarta) dan Atika Shobrina (MAN IC Gorontalo).

Dua medali emas diraih oleh Najib Kaffin (MAN IC Gorontalo) dan Ahmad Sirojul Millah (MAN IC Serpong) pada bidang Astronomi .

OSN Palembang berlangsung sejak Senin (16/05) lalu. Melalui Vi-Con, Mendikbud Anies Baswedan yang tidak dapat hadir dalam penutupan  berharap pengalaman selama 4 – 5 hari selama mengikuti OSN dapat menjadi pembelajaran sehingga semua siswa yang telah saling berinteraksi dapat mengambil pelajaran dan refleksi bersama.

“Ambil hikmah dari semuanya, lalu bagikan pengalaman ini pada teman-teman, lingkungan, keluarga, adik-adik kelas, hingga mereka mengucapkan ingin seperti anda,” kata Anies.

“Dari Palembang kita kirimkan semangat untuk membangun ilmiah. “Kita akan bersama OSN 2017 di Pekanbaru,” tutupnya.



Share:

Ditjen Pendis Kembali Adakan Perkemahan untuk Madrasah 24-28 Mei 2016

Jakarta (Pendis) - Setelah Perkemahan Rohis dan Perkemahan Wirakarya, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam akan menggelar Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) Tahun 2016. PPMN yang untuk kali keduanya ini secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah dan dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 24 s.d. 28 Mei 2016 di Bumi Perkemahan Pantai Liang, Maluku Tengah. Demikian paparan Direktur Pendidikan Madrasah, Nur Kholis Setiawan, saat konferensi pers di lantai 6 Kementerian Agama RI, Senin (23/05/16) siang.

Alasan dipilihnya Maluku sebagai tempat berlangsungnya PPMN ini, lanjut Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini, adalah disebabkan Maluku memiliki kekhasan terutama multikulturalismenya.

"Maluku adalah salah satu contoh bahwa dengan berbagai macam agama yang "hidup" dalam satu daerah, masyarakatnya bisa hidup rukun dan damai. Termasuk juga berbagai macam suku dan ras yang beraneka ragam di sana. Maksud memperlihatkan fenomena akan multikulturalisme kepada peserta perkemahan ini dikarenakan 100% murid madrasah beragama Islam," kata alumni Pesantren Tebuireng Jombang ini.

Untuk tahun ini, ungkap Nur Kholis, akan dihadiri perwakilan dari 33 provinsi se-Indonesia dengan mengirimkan 20 (dua puluh) murid madrasah orang per provinsinya.

"PPMN II 2016 yang diikuti oleh 660 murid Madrasah Tsanawiyah atau golongan Pramuka Penggalang se-Indonesia ini bertujuan ingin menumbuhkan para kader dan paradigma pembangunan yang mumpuni, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, handal, tangguh dan terpercaya serta sanggup membangun jiwa raga-raganya demi nusa dan bangsa," terang Nur Kholis penuh semangat.

Di samping pemecahan Rekor MURI "Pelepasan Anak Penyu (Tukik) Terbanyak 2500 (dua ribu lima ratus) Ekor serta Penanaman 3000 (tiga ribu) Pohon", kegiatan normatif lain yang akan dilakukan adalah kegiatan keagamaan, kegiatan pendidikan seni budaya serta kegiatan umum lainnya, seperti api unggun dan olahraga.

Sebagaimana publik ketahui, bahwa PPMN II ini merupakan kegiatan tahunan lanjutan dari Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) I (pertama) yang telah dilakukan di Lapangan Tembak Akademi Militer (Akmil) Magelang pada tanggal 11 s.d. 15 Mei 2015 yang lalu.

Sumber : pendis.kemenag.go.id

 
Share:

Rabu, 18 Mei 2016

Ikuti Kompetisi Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah Berprestasi 2016

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa Diraktorat Jendral Pendidikan Islam melalui Direktorat Pendidikan Madrasah akan menyelenggarakan Kompetisi Guru, Kepala, dan Pengawas Madrasah Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2016. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memberikan apresiasi dan motivasi kepada pendidikan dan tenaga kependidikan dalam binaan Direktorat Pendidikan Madrasah yang telah secara terus menerus meningkatkan kompetensi, profesionalisme, kinerja dan prestasinya dalam rangka meningkatkan mutu RA/Madrasah dan mutu lulusannya.

Pembinaan apresiasi terhadap peserta yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan akan dilakukan langsung oleh Bapak Menteri Agama pada saat upacara Hari Amal Bakti Kementrian Agama tanggal 3 Januari 2017 di Jakarta. Pedoman pelaksanaan kegiatan ini selengkapnya sebagaimana terlampir ...



Share:

Selasa, 17 Mei 2016

JADWAL IMSAKIYAH RAMADAHAN 1437 HIJRIAH / 2016 MASEHI

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bulan Suci Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang sangatlah ditunggu-tunggu bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa, karena bulan puasa adalah amalan khusus untuk orang yang beriman dan bertaqwa, Jadi jika kita merasa iman dan bertaqwa maka wajiblah kita berpuasa,

Bulan Suci Ramadhan tidak lama lagi akan segera datang. Merupakan anugerah yang sangat besar karena kita masih diberikan kesempatan untuk dapat menjalankan ibadah di Bulan Suci Rahamdhan 1437 Hijriyah / 2016 Masehi.

FIRMAN ALLAH SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)


“Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185)

DOWNLOAD JADWAL IMSAKIYAH RAMADAN 1437 H


Sumber : www.al-habib.info
Share:

Jumat, 06 Mei 2016

MI. NURUL FALAH CIATER MENERIMA PESERTA DIDIK BARU TA. 2016/2017


MADRASAH IBTIDAIYAH NURUL FALAH CIATER MENERIMA PESERTA DIDIK BARU TAHUN 2016/2017


VISI
Terwujudnya Sumber Daya Manusia Yang Cerdas, Terampil, Mandiri dan Berakhlak Mulia serta Mengenal IPTEK Berlandaskan IMTAQ.

MISI 
Membina Siswa Yang Berprestasi Pada Kecerdasan, Keterampilan, Mandiri, Membekali Diri Dengan Akhlak Mulia Mempunyai Kualitas Di Bidang IPTEK dan IMTAQ.


FASILITAS
  1. Ada 11 Ruang Kelas Yang Nyaman & Layak Sebagai Ruang Utama Dalam Proses Pembelajaran
  2. Lokasi Strategis & Dapat Dijangkau oleh Kendaraan
  3. Sarana Peribadatan Berupa Masjid Yang Terletak Dalam Lingkungan Madrasah
  4. Tenaga Pendidik Yang Profesional Dengan Jenjang Pendidikan Rata-rata S1
  5. Laboratorium Komputer
  6. Perpustakaan
  7. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
  8. Koperasi Sekolah
  9. Peralatan Marawis
  10. Toilet
  11. Dan Lain-lain  

PRESTASI
  1. Juara Umum Tingkat Temu Penggalang I Kecamatan Serpong & Serpong Utara Kota Tangerang Selatan Tahun 2013
  2. Juara Umum Tingkat Penggalang Akra V Kota Tangerang Selatan Tahun 2014
  3. Juara Umum Tingkat Penggalang Akra VI Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  4. Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Indonesia Putri Madrasah Ibtidaiyah (AKSIOMA) Tk. Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  5. Juara 2 Matematika MI (KSM) Tk. Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  6. Juara 1 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016
  7. Juara 2 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016
  8. Juara 3 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016

EKSTRAKURIKULER
  • Pramuka
  • Karate
  • Futsal
  • Marawis

Sarat Pendaftaran :
- Mengisi Formulir Pendaftaran
- Foto Copy Surat Kenal Lahir / Akte Kelahiran
- Foto Copy Ijazah RA / TK
- Foto Copy Kartu Keluarga
- Pas Photo Ukr. 3 x 4 = 2 Lembar

INFO LEBIH LANJUT :
08571503766 (KHATIB, S.Ag)
081399184241 (ANDI, S.Pd.I)
082114295817 (NADIH, S.Pd.I)
085782296694(HAYATUN, S.Pd.I)
085883331336(SYAHRONI, S.Pd)

Share:

Selasa, 26 April 2016

Hindari Dampak Buruk Game Online Bagi Pendidikan




Jakarta, Kemdikbud --- Permainan di layar elektronik seperti Game Online atau Play Station bila penggunaan dan penerapannya tepat dapat memberikan dampak positif pada anak, bahkan dapat dirancang khusus sebagai media pembelajaran yang efektif bagi perkembangan kognitif, motorik maupun sosial-emosional.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyatakan ada studi yang menyebutkan bahwa anak yang terbiasa main game yang sesuai umurnya, ternyata mereka pengambil keputusan yang cepat dan berani, berlatihnya dari game.
Tetapi sebaliknya, jika anak-anak memainkan permainan untuk dewasa maka bisa menimbulkan dampak negatif. Mereka akan kecanduan karena adrenalin yang terpacu dan bisa berperilaku brutal.
"Game itu tergantung cara penggunaannya. Jangan anti game, jangan juga buta pro game. Tidak semua  game memiliki karakteristik yang cocok untuk dimainkan oleh anak semua umur.  Orangtua perlu tahu dan peduli bahwa ada sistem rating yang memberi peringatan pembelinya tentang kecocokan konten untuk dimainkan anak usia tertentu. Sehingga anak-anak terhindar dari dampak buruknya,” kata Mendikbud Anies Baswedan di Jakarta, Senin (25/4/2016).
Di Amerika Serikat misalnya, terdapat sistem Entertainment Software Rating Board (ESRB). Dalam sistem ESRB, terdapat enam kategori rating, yaitu: Early Childhood (cocok untuk anak usia dini), Everyone (untuk semua umur), Everyone 10+ (untuk usia 10 tahun ke atas), Teen (untuk usia 13 tahun ke atas), Mature (untuk usia 17 tahun ke atas) dan Adults Only (untuk dewasa), serta satu kategori antara Rating Pending. Deskripsi konten dalam ESRB pun beraneka, mulai dari Blood and Gore, Intense Violence, Nudity, Sexual Content, sampai Use of Drugs. Di kotak video game biasanya terdapat pengkategorian seperti ini, semisal "Mature 17+: Blood and Gore, Sexual Theme, Strong Language”.
Klasifikasi ini menjadi sangat penting karena prinsipnya berbagai pihak di sekeliling anak wajib bertanggung jawab terhadap anak yang termasuk kelompok rentan terhadap berbagai pengaruh teknologi. Sebagian orangtua pun amat awam terhadap model/rating game dan tidak menyadari bahwa tidak semua game cocok untuk anak semua umur, sehingga terlewat mengawasi anak-anaknya dalam memilih game.
Anies Baswedan mengharapkan orangtua menyadari tentang pengkategorian game ini, serta membimbing dan terlibat bersama anak-anaknya memilih game yang cocok bagi mereka. Tujuannya agar pada akhirnya anak memiliki media literacy - kemampuan untuk melek media - memahami alat dan konten yang mereka gunakan dan mampu memilih yang tepat dan berpengaruh positif.
Penggunaan game yang baik mampu menghibur tanpa berisiko memberikan dampak buruk, dimainkan dalam porsi yang pas dan seimbang dengan berbagai alternatif kegiatan lain. Orangtua juga perlu mahir dalam memanfaatkan video game sebagai salah satu media pembelajaran sesuai minat dan kebutuhan anak.
Anies juga mendorong para pecinta game (gamers) yang telah memahami sistem rating dalam game agar turut membantu menyebarkannya kepada para orangtua dan guru.
Tips Mencegah Kecanduan Game
Direktur Indonesia Heritage Foundations (IHF) Wahyu Farrah Dina dalam Seminar Pendidikan Keluarga Duta Oase Cinta yang diselenggarakan Kemdikbud beberapa waktu lalu berbagi tips menghindarkan anak-anak dari kecanduan game.
Pertama, Susun jadwal aktivitas anak pengganti games: seperti olahraga, seni dan aktivitas lainnya. Kedua, jauhkan peralatan dan software games secara bertahap.
“Yang juga penting, letakkan Play Station, komputer atau perangkat game online lainnya di ruang terbuka. Bukan di kamar anak,” kata Wahyu Farrah Dina. Terakhir, tentu, jangan kenalkan game kepada anak di bawah usia 8 tahun, kecuali game edukatif.***
Jakarta, Senin 25 April 2015
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Share:

Selasa, 29 Maret 2016

Dampak Internet Dan Media Sosial Pada Pendidikan (bag. 2)

Pada bagian sebelumnya, telah dijelaskan bagaimana teknologi internet dan media sosial telah dan akan mengubah peradaban manusia di abad 21. Nyaris seluruh lini kehidupan manusia modern tak bisa melepaskan diri dari pengaruh internet dan media sosial, baik yang bersifat positif maupun negatif. Termasuk juga dunia pendidikan.

Dalam pendidikan, setidaknya ada empat pihak yang terlibat, yaitu: siswa, orang tua, guru dan staf kependidikan, serta sekolah melalui pihak-pihak yang mewakilinya (mulai dari kepala sekolah, kepala dinas, hingga menteri pendidikan). Dalam proses pembelajaran, setidaknya ada empat sarana yang dibutuhkan, yaitu: kurikulum (materi dan metode pembelajaran), perangkat belajar (alat tulis, perabot, dan ruang kelas), waktu belajar, dan tempat belajar. Internet dan media sosial memberi dampak terhadap masing-masing pihak dan sarana pendidikan tersebut.

A. Dampak Positif Internet dan Media Sosial
Beberapa dampak positif internet dan media sosial di dunia pendidikan, antara lain:

1. Interaksi dan Komunikasi
Dampak terbesar pertama internet dan media sosial dalam pendidikan adalah komunikasi dan interaksi antar pihak yang terlibat dalam pendidikan. Sebelum ada media sosial, komunikasi antara guru dengan orang tua siswa lebih bersifat searah dan formal dengan frekuensi yang rendah. Umumnya hanya terjadi pada peristiwa-peristiwa tertentu seperti menjelang ujian atau pada saat pertemuan wali siswa. Namun dengan adanya media sosial, para orang tua dan guru bisa membuat kelompok obrolan (chat group) lalu saling berbagi informasi di antara mereka terkait perkembangan anak didik. Komunikasi menjadi dua arah dan terbangun mekanisme saling mengawasi antara guru dan orang tua.

Di sisi lain, komunikasi antara guru dan siswa juga menjadi lebih dekat melalui media sosial. Komunikasi guru dan siswa bisa berlanjut di luar jam sekolah dengan melalui internet dan media sosial. Interaksi guru dan siswa, khususnya di luar jam sekolah, menjadi lebih terbuka dan informal sehingga bisa membangun keakraban hubungan guru dan siswa. Aspek pengawasan dari guru terhadap siswa juga meningkat karena adanya komunikasi di luar jam sekolah.

Manusia modern yang makin tergantung pada internet dan ponsel pintar.
Manusia modern yang makin tergantung pada internet dan ponsel pintar.

2. Pertukaran Informasi
Dengan internet dan media sosial, pertukaran informasi antara pihak-pihak di dunia pendidikan bisa terjadi dengan lebih mudah dan cepat. Misalnya, pemberian tugas dari guru ke siswa bisa ditembuskan ke orang tua sehingga orang tua juga bisa mengawasi apakah anaknya melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Atau jika ada pengumuman dari pihak sekolah kepada orang tua, tak perlu ada pemanggilan orang tua ke sekolah atau menitipkan surat pada anak, karena sekolah melalui guru-gurunya bisa menyebarkan informasi tersebut langsung kepada orang tua siswa.

Dalam urusan administrasi pendidikan, internet dan media sosial juga sangat membantu. Pihak dinas pendidikan daerah hingga pusat bisa mengambil data langsung dari sekolah-sekolah melalui aplikasi internet. Atau sekolah-sekolah di seluruh daerah bisa mengirimkan data langsung ke pihak dinas pendidikan baik di daerahnya maupun ke tingkat pusat. Semuanya bisa dilakukan secara lebih mudah dan cepat melalui aplikasi internet. Biaya transportasi untuk pengiriman berkas administrasi pendidikan bisa dipangkas secara cukup signifikan.

3. Media Belajar Mengajar
Dengan sifatnya yang terbuka, internet dan media sosial merupakan media yang bagus untuk penyebaran ilmu pengetahuan. Guru tak lagi terbatas hanya mengajar siswa di kelasnya saja, tapi juga bisa menjangkau seluruh siswa di Indonesia melalui internet. Demikian juga siswanya, tak lagi terbatas hanya belajar pada guru yang itu-itu saja di kelas, tapi bisa mengembangkan ilmunya dengan belajar dari berbagai sumber di internet. Berkat internet, ruang kelas tak lagi disekat dinding-dinding yang terbatas.

Dan dengan semakin maraknya multimedia di internet, berbagi pengetahuan tak hanya dalam bentuk tulisan. Berbagai layanan multimedia di internet tersedia secara gratis. Jika malas untuk menulis, guru bisa merekam dirinya sedang mengajar dan mengunggah videonya ke internet agar bisa ditonton kembali oleh siswanya di rumah. Jika ada materi pelajaran yang agak rumit, guru juga bisa membuat video ilustrasi atau simulasi untuk membantu dan memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran tersebut. Internet membuka kesempatan bagi siapa pun untuk berbagi pengetahuan dan bagi siapa pun untuk mendapatkan pengetahuan. Tentu hal ini sangat penting dan bermanfaat bagi dunia pendidikan karena internet juga bisa menjadi kelas tempat belajar dan mengajar.

Contoh sebuah kelas belajar daring yang guru dan siswanya terpisah jarak.
Contoh sebuah kelas belajar daring yang guru dan siswanya terpisah jarak.

4. Otomasi oleh Sistem
Internet dan media sosial tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh kemampuan komputasi perangkat lunak. Tanpa perangkat lunak (umumnya disebut software atau aplikasi), internet tak ada bedanya seperti kabel listrik tanpa listrik. Perangkat lunaklah yang membuat internet sekarang begitu menarik, bermanfaat, dan penting bagi kehidupan manusia modern.

Dengan aplikasi, banyak proses yang bisa dilakukan secara otomatis oleh mesin. Berbagai proses manual yang membosankan dan melelahkan bisa diambil alih oleh mesin dengan bantuan perangkat lunak. Dan sistem yang canggih tak hanya mampu melakukan sesuatu berulang-ulang, tapi juga bisa “berpikir” dalam melakukan proses tersebut sehingga menjadi sistem yang pintar. Sistem aplikasi yang pintar sangat berguna di banyak hal, mulai dari pengolahan data, pengawasan proses, evaluasi hasil, bahkan membantu manusia dalam mengambil keputusan.

Dan salah satu keuntungan lain dari otomasi oleh sistem ini adalah berkurangnya peran manusia dalam pelaksanaan proses yang dilakukan oleh sistem tersebut. Dalam banyak hal, apalagi terkait dengan administrasi dan birokrasi, itu bisa menjadi keuntungan yang sangat penting. Apalagi di negara kita dimana birokrasi dan administrasinya cenderung berbelit dan penuh manipulasi.

B. Dampak Negatif Internet dan Media Sosial
Sebagaimana seluruh hal di dunia ini, selain mempunyai dampak positif yang bermanfaat dan menguntungkan, internet dan media sosial juga mempunyai dampak negatif yang merugikan manusia. Beberapa dampak negatif internet dan media sosial antara lain:

1. Kejahatan Daring
Sifatnya yang terbuka dan bisa diakses oleh semua orang, internet dan media sosial juga tentu mengundang orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk ikut memanfaatkan bagi kejahatan. Kejahatan di internet dan media sosial meliputi banyak hal, mulai dari kekerasan maya, pornografi, penipuan baik secara sosial atau teknis, pencurian data dan informasi, pembajakan aplikasi, perjudian maya, dan lain sebagainya, yang nyaris tak ada bedanya dengan berbagai kejahatan yang terjadi di dunia nyata. Akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh kejahatan dunia maya pun sama buruknya dengan kejahatan di dunia nyata. Selain bisa menimbulkan kerugian materiil, dalam beberapa kasus kejahatan daring bahkan berakibat kehilangan jiwa.

Karena itu, penggunaan internet dan media sosial oleh anak (siswa) perlu diawasi dan dijaga dengan ketat. Anak-anak di bawah usia 10 tidak dianjurkan untuk menggunakan internet dan media sosial. Remaja di rentang usia 10 hingga 15 tahun yang menggunakan internet dan media sosial dianjurkan di bawah pengawasan orang tua atau gurunya. Remaja di rentang usia 15 hingga 18 tahun dianjurkan untuk dipantau secara berkala untuk memastikan mereka terhindar dari berbagai bentuk kejahatan di dunia maya. Itu sebabnya hampir seluruh layanan internet dan media sosial memberikan syarat usia minimal 13 tahun, sebagian 17 tahun, untuk menjadi pengguna layanan.

2. Potensi Gangguan Kesehatan
Informasi yang tersedia di internet dan media sosial sangat beragam dan menarik. Banyak orang yang menjadi kecanduan (addicted) pada internet dan media sosial. Dalam beberapa kejadian, orang yang telah kecanduan pada internet mengalami gangguan kesehatan baik secara fisik maupun psikologis seperti layaknya kecanduan narkoba. Setidaknya banyak hal dalam kehidupan mereka yang menjadi terabaikan, seperti pekerjaan, pasangan hidup, keluarga, dan lain sebagainya.

Ilustrasi gangguan tulang akibat posisi tubuh yang salah saat ber-internet-ria.
Ilustrasi gangguan tulang akibat posisi tubuh yang salah saat ber-internet-ria.

Secara fisik, orang umumnya menggunakan perangkat untuk mengakses internet dalam posisi duduk atau menunduk dengan tangan menari-nari di atas papan ketik. Dan hal itu dilakukan dalam waktu yang panjang dan berulang. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan pada leher, punggung, dan pergelangan tangan. Orang yang terlalu sering menggunakan internet dan media sosial, tubuhnya menjadi kurang gerak yang tentu tidak baik bagi kesehatannya. Dampaknya menjadi lebih serius pada anak-anak dan remaja karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Oleh karena itu, penggunaan internet dan media sosial pada anak-anak dan remaja sebaiknya dibatasi.

3. Menurunnya Interaksi Langsung
Sebelum adanya internet dan media sosial, terutama sebelum adanya telepon seluler, interaksi manusia umumnya terjadi secara fisik, bertemu langsung satu sama lain. Perantara dibutuhkan hanya dalam kondisi-kondisi tertentu khususnya karena kendala jarak. Namun dengan adanya internet dan media sosial, terutama sejak adanya ponsel pintar, interaksi antar manusia hampir selalu melibatkan komputer. Sekat jarak dan waktu bukan lagi menjadi masalah di dunia modern. Internet memungkinkan siapa saja bisa terhubung dengan siapa saja dimana saja dan kapan saja.

Kemudahan itu membuat manusia modern bisa memilih siapa yang ingin ia hubungi di setiap saat dan waktu. Dan seringkali manusia memilih orang yang jauh secara fisik dan lebih akrab secara sosial, walaupun dengan mengabaikan manusia lain yang secara fisik lebih dekat. Fenomena anak-anak dan remaja yang lebih sibuk bermain dengan ponsel pintarnya (untuk berinteraksi dengan orang yang jauh) daripada berinteraksi dengan sekitarnya semakin jamak kita lihat di sekeliling kita. Jika ini dibiarkan maka kelak anak-anak dan remaja tersebut akan kehilangan kemampuan dan adab (manner) dalam berinteraksi dengan lingkungan dan manusia secara langsung.

4. Gangguan Konsentrasi
Ragam informasi serta ketersediaan internet juga berpotensi menjadi pengalih konsentrasi (distraction) pada manusia modern. Ada anekdot manusia modern saat tiba di kantor pukul delapan pagi lalu membuka komputernya. Alih-alih langsung bekerja, ia lebih dulu membuka Facebook atau Twitter lalu menulis komentar dan tanggapan di sana-sini, tertarik pada tautan yang muncul di media sosial lalu mengunjunginya, menerima sapaan dari teman-temannya di WhatsApp atau BBM dan terlibat obrolan lebih jauh. Ketika ia tersadar bahwa dirinya ada di kantor (untuk bekerja), jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.

Gangguan konsentrasi seperti anekdot di atas juga sangat bisa terjadi pada anak-anak dan remaja, walaupun akses mereka ke internet dan media sosial dibatasi. Seorang anak yang di hari sebelumnya sangat tertarik pada permainan di internet namun belum puas memainkannya karena batasan waktu, bisa jadi ingatan dan ketertarikannya terus terbawa di jam sekolah. Akibatnya anak tersebut terganggu konsentrasi belajarnya. Dan para guru tentu paham, mengembalikan konsentrasi belajar anak yang sedang terganggu itu bukan hal yang mudah.

                             Salah satu penyedia pendidikan daring, iTunes U dari Apple Inc.

Dengan besarnya dampak baik yang positif maupun negatif yang ditimbulkan oleh internet dan media sosial merupakan tantangan bagi dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Tantangan ini jika disikapi negatif akan menghasilkan kendala dan hambatan, namun jika disikapi positif akan menjadi peluang dan potensi untuk meningkatkan mutu pendidikan kita. Banyak keuntungan internet dan media sosial yang bisa digunakan untuk memperbaiki pendidikan dari segala sisi, mulai dari administrasi dan birokrasi, penyebaran informasi dan pengetahuan, pemerataan jangkauan, hingga pemantauan dan evaluasi. Namun keuntungan itu juga dibarengi dengan kerugian yang mengintai dan harus diantisipasi secara bijak dan tepat agar diperoleh keuntungan yang maksimal dan kerugian yang minimal.

Negara-negara maju sudah mulai memanfaatkan internet dan media sosial dalam pendidikan mereka. Bahkan semakin banyak sekolah dan universitas di luar negeri yang membuka kelas daring dan bisa diikuti oleh siapa saja dari seluruh dunia. Masyarakat di negara maju pun mulai lebih memilih sekolah daring daripada sekolah konvensional. Sebuah survei yang ditujukan pada orang tua di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 72% orang tua memilih menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi daring.



 
Share:

Postingan Populer