Blog informasi seputar dunia pendidikan

Tampilkan postingan dengan label Kurtilas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurtilas. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

PAKEM Diterapkan Dalam Kurikulum 2013

Pendekatan  pembelajaran yang efektif untuk merangsang siswa menjadi seorang  kreatif, adalah dengan Pendekatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Pendekatan Pembelajaran ini sebenarnya bukanlah pendekatan Pembelajaran baru, melainkan pengembangan dari model yang sudah lama. Pada 1999, PAKEM dikenal dengan nama PAEM ( Pembelajaran Efektif, aktif, dan Menyenangkan). PAKEM sangat relevan dengan kurikulum 2013 karena pendekatan pembelajarannya adalah  Saintifik.

Pada pendekatan Pembelajaran konvensional, proses belajar selalu didomisasi oleh guru, adanya kecendrungan pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mengutamakan penghafalan konsep dari pada pemahaman, berbasis buku dan belajar mengajar searah kurang menarik bagi para siswa dan dinilai menjemukan. Cara belajar seperti ini tidak membuat anak menjadi kreatif, kritis, dan mandiri. Untuk itu guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan metode pembelajaran. Guru harus mengembangkan PAKEM dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013.

Pengertian PAKEM

Menurut Sidi (2005:71) “PAKEM adalah singkatan dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Aktif maksudnya dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif baik fisik maupun mental seperti bertanya dan mengemukakan gagasan serta aktif melakukan praktik dalam proses pembelajaran.

Kreatif artinya menghasilkan karya baru sebagai hasil pemikiran sendiri atau kelompok. Karya yang dihasilkan dapat berupa karya nyata seperti  tulisan, gambar, dan juga dalam bentuk gagasan, pendapat, dan ucapan. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. 

Efektif artinya pembelajaran harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencapai semua hasil belajar yang telah dirumuskan. Karakteristik efektif dari pembelajaran ini adalah penggunaan berbagai strategi yang relevan dengan hasil belajarnya.

Menyenangkan
maksudnya proses belajar mengajar berlangsung menyenangkan. Siswa memusatkan perhatian penuh pada belajar dan waktu curah perhatiannya (time on task) tinggi jika suasana belajar menyenangkan bagi siswa. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Menurut Muhammad Rasyid Dimas “ memetik senar kegembiraan pada anak akan memunculkan keriangan dan vitalitas dalam jiwanya”. Anak akan selalu siap untuk menerima perintah, peringatan, atau bimbingan apapun. Menabur kegembiraan dan keceriaan pada anak akan membuatnya mampu mengaktualisasikan kemampuannya dalam bentuk yang sempurna (Tate Qomariddin. 2005:19).  Belajar yang menyenangkan sejalan dengan Hakikat pembelajaran itu sendiri yakni memberi rasa nyaman dan betah  anak didik dalam menerima pelajaran. Jadi Belajar dikatakan menyenangkan jika anak memberikan pehatian yang tinggi terhadap tugas belajar sehingga hasil belajarnya meningkat.

Menurut Utami (2010:23) PAKEM adalah suatu proses pembelajaran yang komunikatif dan interaktif antara sumber belajar, pendidik, dan peserta didik. 

Karakteristik PAKEM
Dalam buku pelatihan awal program MBS kerjasama pemerintah Indonesia dengan UNESCO dan UNICEF (2003:3-4) digambarkan secara singkat tentang karakteristik atau cirri-ciri dari PAKEM, yaitu :
  1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat (learning to do)
  2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai acara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik dan menyenangkan bagi siswa.
  3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan ajar yang lebih menarik dan menyediakan “pojok baca”
  4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif dengan cara belajar kelompok.
  5. Guru memotivasi siswa untuk bisa menemukan sendiri dalam pemecahan suatu masalah dan mengungkapkan gagasannya.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Guru Dalam melaksanakan PAKEM

1.    Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu yang tinggi dan suka berimajinasi. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran menjadi wadah bagi mereka untuk mengembangkan kedua sifat tersebut. Peran guru dalam hal ini adalah memberikan reward berupa kata pujian atas hasil karya anak,  mengajukan pertanyaan yang menggali sifat rasa keingintahuan anak, dan memotivasi anak melakukan percobaan.

2.    Mengenal anak secara perorangan
Dalam PAKEM perbedaan individual perlu diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak harus mengerjakan kegiatan yang sama karena masing-masing anak memiliki kemampuan dan percepatan belajar yang berbeda. Dalam hal ini kita bisa menerapkan belajar dengan system tutor sebaya. Dengan mengenal kemampuan anak dapat memudahkan guru membantu anak yang mengalami kesulitan belajar sehingga belajar anak menjadi optimal.

3.    Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Anak-anak sangat senang bermain karena itulah dunianya. Mereka senang bermain dengan teman sebaya, berpasang-pasangan atau berkelompok. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Siswa dapat bekerja berpasangan atau berkelompok untuk menyelesaikan tugas atau membahas sesuatu. Dengan cara belajar berpasangan atau berkelompok siswa dapat berinteraksi dan bertukar pikiran serta dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. 

4.    Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Berpikir kritis dan kreatif berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Potensi itu akan berkembang jika dilayani sesuai dengan hakikat belajar anak.  Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya dengan cara sering memberikan tugas dan mengajukan pertanyaan yang terbuka. Misalnya dengan kata Tanya apa, berapa, kapan, dan bagaimana.

5.    Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajang di ruang kelas, sehingga memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Pajangan tersebut merupakan hasil kerja perorangan, pasangan, maupun kelompok. Ruangan kelas yang dipenuhi oleh hasil kerja siswa ditata dengan baik, dan karya siswa tersebut bisa dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah dalam proses pembelajaran.

6.    Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Proses belajar mengajar tidak hanya bisa dilaksanakan di dalam kelas . Lingkungan sekitar juga dapat dimanfaatkan sebagai media dan sumber belajar. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dapat membuat anak merasa senang dan tidak jenuh dalam belajar. Namun jika pembelajaran tidak memungkinkan dilakukan di luar kelas, bahan belajar yang bersumber dari lingkungan dapat dibawa ke raung kelas.

7.    Memberikan umpan balik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Hasil belajar akan meningkat jika terjadi interaksi antara guru dan siswa. Salah satu bentuk interaksi dalam belajar tersebut adalah dalam bentuk pemberian umpan balik dari guru kepada siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkapkan kelebihan atau kekuatan dari pada kelemahan siswa. Pemberian umpan balik harus dilakukan secara santun agar siswa lebih percaya diri dalam  dalam menghadapi dan menyelesaikan tugas  belajar selanjutnya. Hasil kerja siswa haruslah diperiksa secara konsisten oleh guru dengan disertai komentar dan catatan.

8.    Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Ciri dari PAKEM adalah siswa tidak hanya aktif secara fisik tetapi juga aktif mental. Siswa sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengemukakan pendapat merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut, misalnya takut dimarahi karena salah, takut ditertawakan, dan takut disepelekan. Guru harus menciptakan pembelajaran yang menyenangkan untuk menghilangkan penyebab rasa takut tersebut.

Jadi PAKEM tidak hanya berlaku untuk siswa, namun juga dari sisi guru. Aktif dari sisi guru antara lain dengan selalu memantau kegiatan belajar siswa secara konsisiten, memberi feedback atau umpan balik, dan terampil dalam mengajukan pertanyaan pada siswa. Kreatif dari sisi guru adalah agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam yang memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa dan terampil dalam menciptakan dan mengembangkan media belajar (alat peraga). Efektif dari sisi guru artinya bahwa pembelajaran yang dilakukan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menyenangkan dari sisi guru yaitu mengkondisikan suasana belajar yang menumbuhkan rasa percaya diri anak, membuat anak berani bertanya, mengemukakan gagasan, dan juga berani mencoba.


Sumber : irawatiardi.blogspot.co.id

Share:

Kamis, 05 Januari 2017

DPR Berharap Kualitas Pendidikan Indonesia Membaik pada 2017


Peserta mengikuti permainan Rush Hour saat kegiatan belajar matematika dalam Pesantren Sains dan Matematika di Masjid At-tin, Jakarta, Sabtu (31/12). Republika/Tahta Aidilla

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fikri Faqih berharap kualitas pendidikan Indonesia pada 2017 membaik. Harapan tersebut khususnya disampaikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang memiliki tupoksi merumuskan kebijakan sedari dini, yaitu wajib belajar 12 tahun.

Menurut dia, Kemendikbud memiliki beban lebih berat. Karena di usia SD hingga SMA/SMK adalah masa emas seorang siswa tersebut dididik. "Jika kualitas di level ini membaik, maka jenjang setelahnya, baik di level perguruan tinggi maupun di dunia kerja, akan semakin mudah. Indikator keberhasilan Nawacita dapat tercermin di level ini,” ujar Fikri, semalam.

Dalam visi Nawacita atau sembilan agenda prioritas pembangunan nasional, pemerintahan Jokowi-JK memiliki fokus kerja untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia. Rumusan implementasi dari visi tersebut, tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019 di mana pembangunan pendidikan Indonesia dalam periode tersebut ditujukan untuk peningkatan daya saing global.

Dia berharap pada 2017 tidak banyak lagi persoalan politik yang menganggu kinerja pendidikan, seperti reshuffle kabinet. Oleh karena itu, pergantian kepemimpinan berkonsekuensi pada pergantian kebijakan di tataran riil. Padahal, kata Fikri, dunia pendidikan sejatinya bukanlah dunia coba-coba. Semua harus dirumuskan dengan bijaksana berdasarkan data.

Dalam Survei Programme International Student Assessment (PISA) yang dirilis terakhir tahun 2015, pendidikan Indonesia mengalami peningkatan enam peringkat, yaitu dari 71 ke 64 dibandingkan 2012. Survei ini dilakukan di 72 negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), yang melihat kemampuan membaca, sains, dan matematika pada anak yang berusia 15 tahun dengan dipilih secara acak. Hasilnya, kemampuan membaca naik 10 poin, sains 32 poin, dan matematika 17 poin.

Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan, membaiknya peringkat dunia tersebut tentu masih perlu digenjot. Singapura menjadi negara di ASEAN yang menempati urutan pertama survei PISA. Bahkan, mengalahkan Inggris, Jerman, Belanda. "Tentu, jika Indonesia ingin maju, maka mau tidak mau tiga kompetensi dasar tersebut harus terus ditingkatkan melalui perencanaan kebijakan yang matang di level kementerian,” kata dia.

Share:

Rabu, 20 Juli 2016

Fitur Baru! Verval Satuan Pendidikan via EMIS

Verval Satuan Pendidikan yang sebelumnya hanya memanfaatkan aplikasi berbasis web yang dikelola oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK) Kemdikbud, kini muncul juga di layanan EMIS SDM. Jika sebelumnya melalui situs  vervalsp.data.kemdikbud.go.id, kini menu dan tahapan yang nyaris serupa muncul juga di situs emispendis.kemenag.go.id/emis_sdm.

Namun belum ada konfirmasi resmi tentang layanan Verval Satuan Pendidikan melalui layanan Emis SDM ini. Pun belum ada petunjuk teknis tentang tahapan, tata cara, dan mekanisme dalam mengikuti Verval SP ini.

Menu-Menu dalam Verval SP EMIS SD

Menu-menu yang terdapat dalam Verval Satuan Pendidikan di layanan Emis ini antara lain:

1. Beranda Verval SP, berisikan peta lokasi RA/Madrasah
2. Verval Lembaga, yang terdiri atas:
    - Nama Lama Lembaga beserta status, NSM, kategori geografis, dan kategori wilayah
   - Nama Baru (sesuai nomenklatur baru) Lembaga beserta dengan status, NSM, kategori geografis, dan kategori wilayah
    - Alamat Lembaga

3. Piagam, yang terdiri atas
        - Nama Lembaga
        - Status
        - NSM
        - Nomor Piagam
        - Unggah File Piagam Pendirian (maksimal 200 kb dalam format jpg, png, gif, atau bmp)

4. Ijin Operasional, yang terdiri atas
        - Nama Lembaga
        - Status
        - NSM
        - Nomor Dokumen Ijin Operasional
        - Unggah File Ijin Operasional (maksimal 200 kb dalam format jpg, png, gif, atau bmp)
    
5. SK Akreditasi
        - Nama Lembaga
        - Status
        - NSM
        - Nomor SK Dokumen Akreditasi
        - Unggah File SK Dokumen Akreditas (maksimal 200 kb dalam format jpg, png, gif, atau bmp)
    
6. SK Kemenkumham
        - Nama Lembaga
        - Status
        - NSM
        - Nomor SK Dokumen Kemenkumham
        - Unggah File SK Dokumen Kemenkumham (maksimal 200 kb dalam format jpg, png, gif, atau bmp)
    
7. Konfirmasi

Kapan Verval SP Dimulai?

Meskipun periode Pemutakhiran Data EMIS Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 telah resmi dimulai berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dengan nomor 2211/DJ.I/Set.I/OT.01.2/07/2016, namun untuk verval SP ini karena merupakan hal yang baru di layanan EMIS, maka tentunya kita perlu menunggu terlebih dahulu instruksi atau juknis pengisiannya yang resmi dikeluarkan oleh Dirjen Pendis ataupun oleh Tim Emis Pusat.



Share:

Cara Memajukan Dunia Pendidikan Di Berbagai Negara

Ujian Nasional (UN) sudah menjadi agenda rutin di dunia pendidikan Indonesia yang diselenggarakan setahun sekali. Para siswa akan mengikuti ujian ini untuk menentukan apakah mereka layak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak. Bahkan sebelumnya, UN menjadi alat ukur sistem kelulusan siswa secara nasional.

Di sisi lain, beberapa negara maju di belahan dunia ini justru melakukan kebalikannya. Negara-negara maju ini tidak memberlakukan ujian nasional karena berbagai macam alasan. Berikut negara-negara maju yang tidak memberlakukan ujian nasional (UN) seperti dilansir cirebontrust.com.

1. Finlandia
Finlandia merupakan negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Tapi anehnya, pemerintah Finlandia tidak menerapkan ujian nasional untuk mengevaluasi para pelajarnya. Justru, mereka menganggap guru yang paling berhak mengevaluasi muridnya, bukan selembar kertas ujian atau pemerintah.

Guru di Finlandia dianggap paling tahu kemampuan muridnya. Oleh karena itu ujian nasional ditiadakan. Tak heran jika guru di Finlandia memiliki gaji tertinggi di dunia.

2. Jerman
Jerman adalah salah satu negara paling maju di daratan Eropa. Namun, pemerintah Jerman juga sama tidak menerapkan ujian nasional.

Sama halnya dengan di Finlandia, pemerintah Jerman mentiadakan ujian nasional karena guru dianggap yang paling tahu kemampuan muridnya. Selain itu, ujian nasional dihapus agar para pelajar bisa berkembang secara optimal dan tidak terbebani oleh soal ujian.

3. Amerika
Negeri Paman Sam ini dikenal banyak melahirkan orang-orang berpengaruh, misalnya saja sang pendiri Microsoft Bill Gates, pendiri Apple Steve Jobs, pendiri Facebook Mark Zuckerberg, dan masih banyak lagi.

Tapi jika melihat lebih ke dalam lagi, rupanya Amerika tidak menerapkan ujian nasional. Sistem pendidikan di Amerika mengharuskan seseorang untuk bisa membuat pekerjaan bukan memenuhi lapangan pekerjaan. Tak heran jika banyak perusahaan Amerika yang sudah menjelit ke berbagai negara di penjuru dunia.

4. Kanada
Kanada menganggap ujian nasional tidak ada sangkut pautnya dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi. Oleh sebab itu, ujian nasional di negara ini ditiadakan. Para siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka. Tak hanya berbekal ilmu, tapi diharuskan mempraktikannya di lapangan.



Share:

Rabu, 29 Juni 2016

Menerapkan Metode Debat dalam Pembelajaran, Bagaimanakah?

Ilustrasi debat kelompok siswa dalam proses pembelajaran.

Aktivitas pembelajaran berbasis interaksi dan keaktifan siswa harus terus dilakukan oleh guru agar kapasitas kepercayaan diri siswa meningkat. Dalam hal ini, mewujudkan kecerdasan psikomotorik tidak kalah pentingnya dengan kecerdasan kognitif dan afektif. Justru, ketiga kecerdasan yang masuk dalam Taksonomi Benyamin S. Bloom ini dapat ditumbuhkan dalam satu metode saja, yakni metode debat.

Metode debat dalam pembelajaran di sekolah ini tidak seperti debat pada umumnya yang terkesan otot-ototan tanpa memberikan substansi. Tetapi debat untuk keperluan pembelajaran siswa yakni diterapkan dengan sistematis dan terstruktur oleh guru sehingga siswa dapat memahami esensi berdebat. Langkah ini dilakukan agar proses berdebat tidak menonjolkan egoisitas, melainkan intelektualitas dengan berbagai argumen dan data.

Memahami esensi debat juga penting agar terhindar dari yang namanya debat kusir, yaitu debat persoalan sesuatu yang ujung-ujungnya menyerang pribadi dan individu sehingga menimbulkan permusuhan. Rasionalitas debat dapat dipahami melalui filososfi permainan sepak bola. Esensi debat mereka yaitu saling memainkan dan merebut bola dengan berbagai taktik dan teknik yang digunakan sehingga menghasilkan gol. Mereka saling respect tanpa mencederai lawan dengan sengaja. Setelah permainan selesai pun, mereka saling berjabat tangan bahkan kerap kali bertukar jersey satu sama lain walau salah satu tim menderita kekalahan.

Falsafah permainan sepak bola tersebut bisa menjadi pijakan filosofis dalam memaknai debat yang berkualitas sehingga menghasilkan keputusan yang bermanfaat. Karena dalam proses debat sejatinya muncul solusi atau kemungkinan persoalan baru yang dapat dikaji ulang sebagai sebuah penemuan. Semua harus terakumulasi oleh fasilitator debat yaitu guru.

Secara teoritis, Hendrikus (1991) seperti dikutip Sigit Setyawan (2013) menjelaskan bahwa debat secara umum adalah untuk mencapai kemenangan untuk satu pihak. Dalam proses pembelajaran, kemenangan argumentasi oleh siswa dapat ditentukan melalui keputusan guru sebagai juri atau voting oleh orang yang diangap paling sesuai dengan topik bahasan. Namun, perlu dicatat bahwa terma kemenangan di sini bukan berarti mengalahkan yang lain. Karena esensi debat akademis yaitu memunculkan solusi dan menemukan persoalan baru yang perlu dikaji ulang dan diteliti.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin debat kurang mendatangkan banyak manfaat. Namun dalam kegiatan belajar mengajar, metode ini dapat digunakan untuk membahas materi, permasalahan, ide-ide, agar siswa dapat memahami atau merumuskan pokok pikiran orang lain maupun dirinya sendiri. Selain itu, metode debat juga dapat digunakan untuk mencari penyelesaian atas suatu masalah agar siswa mengevaluasi, membandingkan, atau mendemonstrasikan kemampuan berpikirnya dalam susunan bahasa yang terstruktur.

Secara teknis, sebelum mengawali debat, guru harus menyiapkan materi atau topik debat. Kemudian guru membagi kelompok yang pro (afirmatif) dan yang kontra (negatif) terhadap topik yang dipilih. Agar proses debat berjalan dengan kondusif, guru harus membuat aturan debat yang tidak boleh dilanggar oleh masing-masing kelompok. Selain itu, guru juga harus memberikan batas waktu masing-masing kelompok untuk memaparkan argumennya, pun demikian dengan tanggapan balik kelompok lainnya.

Dalam proses debat ini, guru juga dapat memberdayakan siswa untuk menjadi pengawas waktu jika waktu yang diberikan telah selesai dengan isyarat tertentu. Terkait dengan peran juri, bisa dilakukan oleh guru sendiri atau guru menunjuk beberapa orang siswa untuk menjadi juri. Distribusi peran dalam proses debat ini juga memberikan pengalaman berharga kepada para siswa sehingga memahami proses yang terjadi.

Langkah terakhir, guru melakukan evaluasi terhadap proses jalannya debat. Tahapan ini penting agar siswa memahami dengan benar setiap proses yang terjadi. Dalam ilmu pedagogik, hal ini termasuk usaha menerapkan konsep learning by doing, belajar sambil melakukan. Kerap kali konsep ini lebih mudah membuat para siswa memahami suatu materi karena mereka terlibat langsung dalam uraian konsep yang dilakukan melalui sebuah praktik. Selamat mencoba!

Oleh Fathoni Ahmad
Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta.


 
Share:

Minggu, 19 Juni 2016

Presisi Kurikulum dan Materi Penting dalam Membangun Intelektualitas

Prie GS, Budayawan Nasional asal Semarang, Jawa Tengah.
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Budayawan nasional asal Semarang, Jawa Tengah Prie GS menyampaikan orasi budaya di hadapan instruktur nasional Pendidikan Agama Islam (PAI), akhir pekan lalu di Jakarta. Pria yang juga motivator ini menjelaskan terkait ketepatan (presisi) menyusun kurikulum untuk membangun intelektualitas yang mantap secara budaya.

Di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas pendidikan ini, Prie GS memberikan uraian presisi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari perspektif tokoh dan model tidur seseorang. Dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia ini, menurut Prie penting memahami presisi dan ketenangan.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Kemenag ini, dia memaparkan satu per satu model tidur yang selama ini diamatinya, mulai dari tidurnya seorang kepala kantor hingga anak-anak. Menurut Mas Prie, sapaan akrabnya, manusia bisa belajar dari kemurnian tidurnya anak-anak.

Anak-anak, menurutnya, bisa tidur dalam posisi apapun dan dimana pun. Kemurnian ini terkait dengan kehidupan manusia yang terkadang terlalu sibuk dengan kehidupan dunianya sehingga melupakan sisi kemanusiaan pada dirinya.

“Setingkat di bawah anak-anak adalah tidurnya seorang tunawisma. Bayangkan, mereka bisa tidur dengan tenang di atas jembatan tipis yang melintang di atas saluran air. Jika gerak dan miring sedikit saja, selesai itu,” ujar Prie menerangkan foto yang ditunjukkannya melalui slide presentasi diikuti riuh tawa ratusan peserta.

Hal ini, imbuhnya, terkait dengan ketepatan dan ketenangan. Sehingga dalam menyusun kurikulum dan materi pelajaran, para pendidik hendaknya tepat dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi anak-anak, khususnya di zaman modern seperti sekarang. Dia bukan tanpa alasan, karena generasi muda sering dijadikan sasaran agitasi bagi kepentingan kelompok tertentu.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Prie dengan memaparkan tokoh nasional dan internasional dari sisi budaya presisi dan ketenangan. Dia secara apik menjelaskan presisi yang dilakukan oleh pebalap Moto GP Valentino Rossi, pebalap Formula 1 Michael Schumacher, Aktor Holywood Tom Cruise, dan penyanyi internasional Maria Carey dalam menjalani profesinya.

Prie juga menjelaskan tentang Presisi budaya dan ketenangan dari seorang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang selama ini dia kagumi. Menurut Prie, Gus Dur mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Anehnya, kata dia, Gus Dur kerap hanya melempar joke atau humor dengan tenang. “Selesai masalah,” celetuk Prie diikuti gerrr peserta.
 
 
 
Share:

Selasa, 14 Juni 2016

Mengajar Asyik dengan Metode “Game”

Sebuah permainan tak selamanya kurang baik jika dilakukan dengan tujuan mendidik dan memahamkan sesuatu, artinya untuk keperluan belajar. Bahkan justru sebaliknya, membubuhi belajar dengan sebuah permainan (game) akan menciptakan atmosfir menarik, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Dalam proses pembelajaran di sekolah, guru sangat membutuhkan variasi mengajar untuk membungkus materi pelajaran agar siswa selalu tertarik untuk mengikuti setiap transfer materi. Di titik inilah mengajar dengan menerapkan metode game merupakan salah satu pilihan menarik bagi guru untuk meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa. Metode game diterapkan sesuai dengan materi apa yang akan disampaikan guru dalam proses pembelajaran.

Seperti contoh dalam mata pelajaran fisika tentang gaya dan tekanan, ketika diminta serius belajar, para siswa justru bermain-main sehingga mereka tidak mempelajari apa pun. Namun, ketika diminta untuk bermain, para siswa justru belajar banyak hal. Itulah yang membuat Bu Lathifah, guru fisika, memainkan sebuah game saat belajar materi gaya dan tekanan dalam ilmu fisika.

Dalam permainan ini, Bu Lathifah mempersilakan para siswa untuk masing-masing memegang botol plastik berisi air yang sebelumnya telah disiapkannya. Kemudian, para siswa memasang papan kecil yang bagian tengahnya dilubangi secara minimalis. Lalu, para siswa menuangkan air botol tersebut secara serta merta pada papan.

Aliran air sedianya lancar jika saja tidak dihalangi papan. Namun demikian, air tetap mengalir lewat lubang kecil di tengah papan tersebut. Setelah terus memperhatikan kondisi apa yang terjadi, air juga mengalir ke samping papan. Karena lubang yang sangat kecil membuat tekanan aliran air menjadi besar sehingga air tidak hanya mengalir ke lubang kecil, tetapi juga meluber ke samping papan.

Dari permainan ini, para siswa jadi memahami bahwa semakin besar tekanan air, ia akan memiliki banyak pola dan gaya untuk mengalir ke segala arah. Dari permainan yang dilakukan oleh para siswa tersebut, Bu Lathifah akhirnya menarik kesimpulan bahwa semakin besar tekanan suatu zat, maka gaya yang ditimbulkan juga semakin besar. Rumusan kesimpulan yang dipahami oleh siswa sendiri ini sesuai dengan hukum tentang gaya dan tekanan dalam fisika sesuai dengan yang dijelaskan oleh Bu Lathifah tersebut.

Menilik teori dari metode ini, game dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebuah kegiatan bermain sambil belajar atau kegiatan belajar sambil bermain (Sigit Setyawan, 2013: 24). Nicholas van Neumann pada 1950-an melahirkan game theory yang merupakan lintas studi ekonomi dan komputer. Teori tersebut kemudian diformalisasikan oleh Jhon Nash yang kemudian dia mendapatkan Nobel pada tahun 1984.

Game dapat dibedakan menjadi dua, yakni game kolaboratif dan game kompetitif (Miller, 2008). Game kolaboratif membuat para siswa bekerja sama satu dengan yang lain, sedangkan game kompetitif membuat orang atau kelompok bersaing dengan orang atau kelompok lain. Dalam kegiatan pembelajaran, kolaborasi atau kompetisi dapat ditentukan oleh guru. Game yang sam atau jenis lain dapat digunakan, baik untuk kolaborasi maupun kompetisi.

Terkait dengan kegunaan, metode game ini bermanfaat, pertama agar siswa mampu bekerja sama dengan orang lain dan mengetahui, memahami, dan mempraktikkan peraturan, prinsip-prinsip, serta prosedur-prosedur. Kedua, agar siswa berkompetisi dengan orang atau kelompok lain untuk mengenali, mengatur, menyimpulkan, atau menilai tindakan atau hasil.

Game yang digunakan atau ditentukan oleh guru bisa game berbasis teknologi, bisa juga game tradisional seperti permainan sehari-hari yang dilakukan oleh anak-anak di rumah dengan memanfaatkan alat dan bahan yang mudah didapat. Setelah melakukan praktik metode ini, guru hendaknya jangan lupa melakukan proses evaluasi seberapa efektif metode ini diterapkan dengan matrik dan alat ukur tertentu. Selamat mempraktikkan!


 
Share:

Revisi Kurikulum 2013, Guru Lebih Dimudahkan

Revisi terhadap dokumen Kurikulum 2013 telah dilakukan tahun 2016 ini. Dari hasil revisi Kurikulum 2013 ini, diharapkan para guru lebih mudah mengimplementasikannya. Hal tersebut dikatakan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud Tjipto Sumadi dalam sebuah dialog pendidikan yang membahas implementasi Kurikulum 2013 di Hotel Grand Inna Kuta Bali, Sabtu (11/6/2016). 
 
Tjipto menambahkan hasil revisi ini akan lebih memudahkan kerja guru, terutama dalam penilaian terhadap siswanya. "Kalau sebelumnya guru matematika harus menilai sikap spiritual dan sikap sosial semua siswa, sekarang tidak. Tugas itu dilakukan guru Agama dan Budi Pekerti serta guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) secara langsung. Namun guru matematika tetap berkewajiban menumbuhkembangkan karakter anak, agar anak-anak tidak tercerabut dari akar budaya bangsa kita," ujar Tjipto.
 
Tugas menumbuhkan karakter positif siswa menjadi tanggung jawab bersama. "Guru matematika jika melihat ketidakjujuran anak, tidak bisa mengatakan itu tugas guru agama dan guru PPKn saja. Itu tetap memnjadi tanggung jawab semua," tambahnya.
 
Terkait dengan implementasi Kurikulum 2013, Tjipto mengatakan Kemendikbud melakukan pelatihan instruktur secara berjenjang. Pelatihan instruktur dimulai dari pelatihan narasumber nasional, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan instruktur provinsi dan selanjutnya instruktur daerah. "Guru setelah dilatih, nanti mulai bulan Agustus atau September paling lambat akan didampingi tim pendamping," ujarnya.
 
Tim pendamping tidak didatangkan dari pusat namun memberdayakan sumber daya manusia dari masing-masing daerah. "Kita dorong agar tim pendamping kurikulum yang terdiri atas pengawas dan tim yang sudah terbentuk selama ini dari tiap daerah sebagai tokoh sentral. Jadi daerah tidak tergantung dari pusat namun daerah terus berkembang sesuai batas kemampuan masing-masing dan sesuai nilai-nilai yang berkembang di daerah tersebut," kata Tjipto yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta tersebut.
 
Tahapan implementasi Kurikulum 2013 sesuai kesepakatan Kemendikbud dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dilaksanakan secara bertahap. "Sebelumnya sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum 2013 sebanyak 6%, lalu sekarang tambah 19% menjadi 25%. Nanti kita naikkan lagi 35% menjadi 60%. Sehingga pada tahun 2018/2019 implementasinya ditargetkan sudah 100%," pungkas Tjipto.
 
 
 
Share:

Jumat, 06 Mei 2016

MI. NURUL FALAH CIATER MENERIMA PESERTA DIDIK BARU TA. 2016/2017


MADRASAH IBTIDAIYAH NURUL FALAH CIATER MENERIMA PESERTA DIDIK BARU TAHUN 2016/2017


VISI
Terwujudnya Sumber Daya Manusia Yang Cerdas, Terampil, Mandiri dan Berakhlak Mulia serta Mengenal IPTEK Berlandaskan IMTAQ.

MISI 
Membina Siswa Yang Berprestasi Pada Kecerdasan, Keterampilan, Mandiri, Membekali Diri Dengan Akhlak Mulia Mempunyai Kualitas Di Bidang IPTEK dan IMTAQ.


FASILITAS
  1. Ada 11 Ruang Kelas Yang Nyaman & Layak Sebagai Ruang Utama Dalam Proses Pembelajaran
  2. Lokasi Strategis & Dapat Dijangkau oleh Kendaraan
  3. Sarana Peribadatan Berupa Masjid Yang Terletak Dalam Lingkungan Madrasah
  4. Tenaga Pendidik Yang Profesional Dengan Jenjang Pendidikan Rata-rata S1
  5. Laboratorium Komputer
  6. Perpustakaan
  7. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
  8. Koperasi Sekolah
  9. Peralatan Marawis
  10. Toilet
  11. Dan Lain-lain  

PRESTASI
  1. Juara Umum Tingkat Temu Penggalang I Kecamatan Serpong & Serpong Utara Kota Tangerang Selatan Tahun 2013
  2. Juara Umum Tingkat Penggalang Akra V Kota Tangerang Selatan Tahun 2014
  3. Juara Umum Tingkat Penggalang Akra VI Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  4. Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Indonesia Putri Madrasah Ibtidaiyah (AKSIOMA) Tk. Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  5. Juara 2 Matematika MI (KSM) Tk. Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  6. Juara 1 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016
  7. Juara 2 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016
  8. Juara 3 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016

EKSTRAKURIKULER
  • Pramuka
  • Karate
  • Futsal
  • Marawis

Sarat Pendaftaran :
- Mengisi Formulir Pendaftaran
- Foto Copy Surat Kenal Lahir / Akte Kelahiran
- Foto Copy Ijazah RA / TK
- Foto Copy Kartu Keluarga
- Pas Photo Ukr. 3 x 4 = 2 Lembar

INFO LEBIH LANJUT :
08571503766 (KHATIB, S.Ag)
081399184241 (ANDI, S.Pd.I)
082114295817 (NADIH, S.Pd.I)
085782296694(HAYATUN, S.Pd.I)
085883331336(SYAHRONI, S.Pd)

Share:

Minggu, 01 Mei 2016

Upayakan Tambahan Anggaran, Penuhi Sarpras Madrasah



Yogyakarta—(madrasah.kemenag.go.id). Usaha-usaha untuk penambahan anggaran untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan madrasah senantiasa terus-menerus dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah.

“Saat ini sudah muncul kesadaran bersama, mulai dari BAPPENAS sampai anggota dewan di DPR terkait pentingnya tambahan anggaran untuk pendidikan agama khususnya madrasah,” ujar Direktur Pendidikan Madrasah, M. Nur Kholis Setiawan. Pernyataan ini diungkapkan saat membuka acara Workshop Pengembangan Laboratorium PAI Madrasah yang dilaksanakan pada 21-23 April 2016 di Indies Heritage Hotel Yogyakarta.

Direktorat Pendidikan Madrasah bersama DPD RI saat ini sedang membahas skema anggaran pendidikan melalui APBD. Bersama Panja Pendidikan Islam Komisi VIII, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri dan Direktorat Pendidikan Madrasah membedah permasalahan yang menghambat pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk sarana prasarana madrasah yang dirasa masih belum berjalan dengan baik. Pemerintah daerah diharapkan dapat ikut terlibat bertanggungjawab  dalam APBD yang mereka miliki melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) maka mudah mudahan dapat meningkatkan pemenuhan sarpras madrasah sesuai SPM.

“Kami berharap, hasil-hasil rapat dengan DPR dan Kementerian Dalam Negeri bisa menjawab persoalan kekurangan anggaran dalam pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di madrasah. Targetnya adalah pemenuhan SPM. Kami duduk bersama untuk mencari jalan keluar atas hambatan-hambatan prinsipil terkait ketimpangan anggaran yang masih belum berpihak kepada pendidikan madrasah,” tamban Nur Kholis.

Berdasarkan data postur anggaran pendidikan nasional, anggaran Pendidikan Islam yang terkucur ke madrasah mulai dari PAUD sampai menengah hanya 18,6 triliyun.  Sementara anggaran untuk pendidikan sekolah lebih dari 300 triliyun.

Dengan penuh optimis, Direktur Pendidikan Madrasah menyakini bahwa kedepan secara bertahap akan ada pemenuhan sarpras madrasah melalui penambahan anggaran untuk pendidikan madrasah.
 
 
Share:

Sabtu, 30 April 2016

ACUAN STRUKTUR KURIKULUM MADRASAH

Dokumen ini menjelaskan struktur kurikulum yang digunakan saat ini oleh SIMPATIKA dalam rangka membantu informasi kepada pengguna dalam menyelesaikan Isian Jadwal Kelas. Penggunaan struktur kurikulum yang dimaksud hanya berlandaskan pada KMA no. 207 tanggal 31 Desember 2014 tentang Pelaksanaan Kurikulum Madrasah. Struktur kurikulum yang digunakan saat ini dapat berubah sewaktu-waktu menyesuaikan dengan kebijakan resmi tentang pedoman pelaksanaan kurikulum madrasah terbaru yang akan diterbitkan resmi oleh Kemenag Pusat. 
A. Struktur Kurikulum KMA no. 207
Sesuai dengan KMA no. 207 Th. 2014 bahwa Pelaksanaan Kurikulum Madrasah pada jenjang MI, MTs dan MA mulai periode semester 2 (dua) Tahun Pelajaran 2014/2015 secara umum menggunakan standar KTSP untuk Mapel Umum. Adapun untuk Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab tetap menggunakan standar K13 sesuai dengan KMA 165 Th. 2014. 
Kombinasi KTSP dengan K13 (Khusus PAI & Bahasa Arab) dimaksud berdampak terhadap penyesuaian alokasi JTM per Mapel khususnya PAI dan Bahasa Arab dan total alokasi JTM per minggu pada setiap tingkat di semua jenjang Madrasah. Penyesuaian dimaksud sebagaimana pada Lampiran Struktur Kurikulum Madrasah terlampir. 
Tabel Struktur Kurikulum Madrasah (KTSP) yang telah disesuaikan tersebut digunakan sebagai dasar konfigurasi sistem di Layanan SIMPATIKA (modul Isian Jadwal Kelas) dalam hal menentukan Jumlah Tata Muka (JTM) setiap Mata Pelajaran dan batasan maksimal Total JTM yang berlaku pada setiap tingkat rombel/kelas di seluruh jenjang MI, MTS, dan MA. Adapun untuk Tabel Struktur Kurikulum 2013 (K13) tetap sesuai dengan KMA no. 165 Th. 2014. 
B. Pelaksanaan KTSP dan K13
Dengan diterbitkannya KMA no. 207 Th. 2014 maka seluruh Madrasah (MI, MTs, MA) diwajibkan menggunakan KTSP mulai semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 kecuali bagi Madrasah yang telah ditetapkan oleh SK Dirjen no. 481 dan no.5114 dapat menggunakan K13. Proses verfifikasi dan validasi Madrasah pelaksana K13 sepenuhnya dilaksanakan oleh Admin Kanwil Kemenag di wilayah provinsi masing-masing.

C. Kurikulum RA
Khusus untuk jenjang RA menggunakan kurikulum berbasis Tematik dengan perhitungan sebagai berikut:
· 1 Jam Pelajaran = 30 menit
· Minimal 150 menit per hari (5 JTM/hari) dan maksimal 180 menit per hari (6 JTM/hari).
· Minimal alokasi JTM per minggu = 30 JTM dan maksimal alokasi JTM per minggu = 36 JTM.

D. Isian Jadwal Kelas
Isian Jadwal Kelas menggunakan dasar kurikulum KTSP KMA 207 dan/atau K13 KMA 165 sebagaimana dijelaskan pada bagian A dan B. Isian Jadwal Kelas sebagai syarat untuk menentukan perhitungan alokasi JTM dari setiap Guru dan dasar dari penerbitan Keaktifan Kolektif (S25), SKMT dan SKBK dari sistem Layanan SIMPATIKA. 
Saat melakukan proses Isian Jadwal Kelas, sistem secara otomatis akan mendeteksi pemenuhan alokasi JTM per Mapel, alokasi maksimal JTM mingguan per kelas/rombel, alokasi JTM setiap Guru hingga bentrok Jadwal Mengajar Guru baik di Satminkal dan Non Satminkal. Mekanisme otomasi ini ditujukan untuk lebih meningkatkan akurasi data alokasi JTM agar sesuai dengan standar Kurikulum yang ditetapkan sesuai KMA no. 207 Th. 2014.

E. Linieritas Mapel Sertifikasi
Setiap Mapel yang diampu oleh Guru baik di Satminkal dan Non Satminkal akan dinilai kesesuaian/linieritas dengan Mapel Sertifikasi Guru pengampunya tersebut oleh sistem. SIMPATIKA secara otomatis dapat menentukan status Linier atau Tidak Linier dari setiap Mapel yang diampu Guru dengan Sertifikasi yang dimilikinya. Sertifikasi Guru yang diakui oleh sistem adalah yang telah melalui proses VerVal NRG hingga tuntas (permanen). Bilamana status VerVal NRG dari Guru belum tuntas (belum permanen) maka Mapel yang diampu oleh Guru tersebut tetap terekam dan diakui JTM nya di SIMPATIKA namun dengan CATATAN STATUS dinyatakan Tidak Linier dengan Mapel Sertifikasinya.

F. SKMT dan SKBK Online
SKMT (Surat Keterangan Melaksanakan Tugas) dapat dicetak setelah proses Isian Jadwal Kelas dan Keaktifan Kolektif (S25a) disetujui oleh Admin Kemenag Kab/Kota (S25b). Pada SKMT akan memuat informasi semua Mapel yang diampu oleh Guru bersangkutan termasuk status Mapel yang Linier dengan Sertifikasinya. Proses Keaktifan Kolektif (S25a) dan cetak SKMT hanya bisa dilakukan oleh Akun Kepala Madrasah atas ajuan dari setiap individu Guru di Madrasah yang dipimpinnya. 
SKMT Guru diproses oleh masing-masing Akun Kepala Madrasah Satminkal atau Non Satminkal tempat Guru mengajar. Oleh karena itu setiap Madrasah wajib memiliki Kepala Madrasah yang aktif baik yang permanen atau sementara yang telah diregistrasikan resmi oleh Admin Kemenag Kab/Kota masing-masing. 
SKBK hanya bisa dicetak oleh Kemenag Kab/Kota sebagai yang berwenang menerbitkannya. Syarat penerbitan SKBK adalah penyerahan berkas SKMT dari setiap individu Guru baik yang berasal dari Madrasah Satminkal atau Non Satminkalnya ke pihak Kemenag Kab/Kota masing-masing. 
SKBK dan SKMT dimaksud dapat dijadikan sebagai salah satu syarat pemberkasan untuk proses Tunjangan Profesi Guru atau sejenisnya sesuai kebijakan dari Kemenag Kab/Kota masing-masing. 
sumber : Simpatika
Share:

Selasa, 05 April 2016

153 Narasumber Nasional Siap Latih Instruktur Nasional Kurikulum 2013


 
Depok, Kemendikbud --- Revisi Kurikulum 2013 telah selesai. Saat ini perjalanan Kurikulum 2013 pascarevisi telah memasuki tahap pelatihan Instruktur Nasional (IN) yang akan menyosialisasikan hasil revisi Kurikulum 2013 kepada instruktur provinsi, kabupaten dan kota, hingga akhirnya sampai ke guru sasaran. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan pun mengukuhkan 153 Narasumber Nasional untuk memberikan pelatihan kepada 761 Instruktur Nasional.

Pengukuhan 153 Narasumber Nasional Kurikulum 2013 berlangsung di Gedung Garuda, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kemendikbud, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, pada Minggu pagi (20/3/2016). Di hari yang sama, akan dimulai Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 untuk angkatan pertama di tahun 2016 ini, yang akan berlangsung hingga 24 Maret 2016.

Mendikbud menekankan besarnya tanggung jawab yang diemban para Narasumber Nasional dalam memberikan diklat kepada Instruktur Nasional. Ia mengatakan, pemahaman Narasumber Nasional ke Instruktur Nasional akan diteruskan ke instruktur provinsi, kabupaten dan kota, sehingga cara Narasumber Nasional mengelola materi dan paparan harus mencerminkan cara kurikulum bekerja.

"Narasumber Nasional merupakan orang-orang terpilih dan istimewa. Mereka adalah para guru, komponen akademisi, tim penyusun kurikulum, penulis buku, dan penyusun assessment, yang dituntut memiliki pemahaman lengkap, komprehensif dan substantif tentang Kurikulum 2013," katanya saat acara pengukuhan.

Mendikbud juga mengatakan Narasumber Nasional merupaka Duta Kemendikbud dalam menyosialisasikan perubahan Kurikulum 2013. Karena itu diharapkan para Narasumber Nasional bisa membawa nama baik Kemendikbud dan membawa pesan positif mengenai Kurikulum 2013. Selain itu, Narasumber Nasional juga mengemban tanggung jawab yang sangat penting sebagai hulu penyampaian Kurikulum 2013.

"Bapak dan Ibu sebagai Narasumber Nasional harus bisa membayangkan bagaimana paparan penjelasan materi yang Bapak/Ibu sampaikan akan sampai pula secara berjenjang hingga ke tingkat sekolah. Dalam seluruh proses itu, perhitungkan potensi deviasi. Perhitungkan potensi pemahaman yang berbeda. Pastikan semua pemahaman itu benar," tutur Mendikbud.

Terakhir, ia berpesan agar pata Narasumber Nasional bisa menjaga kebaruan, tidak hanya tentang materi Kurikulum 2013, tetapi juga dengan pendekatan atau metode yang tidak konvensional. Mendikbud berharap Narasumber Nasional bisa menjadi fasilitator yang merangsang munculnya pikiran-pikiran dan gagasan baru selain menyampaikan materi atau bahan yang telah disiapkan.

"Yang akan kita hadapi adalah anak-anak kita yang akan mengalami era yang berbeda. Saya berharap Bapak/Ibu menjalankan ini (diklat) dengan metode yang tidak konvensional. Seperti suasana proses belajar Kurikulum 2013 yang aktif, maka diklat Instruktur Nasional juga harus memiliki suasana pembelajaran yang aktif," katanya.

Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 akan berlangsung selama empat hari, yaitu 20 s.d 24 Maret 2016 di Pusdiklat Pegawai Kemendikbud, Depok, Jawa Barat. Para Narasumber Nasional yang akan melatih Instruktur Nasional itu telah mengikuti pelatihan sendiri pada 10 s.d 12 Maret 2016. Pemilihan Narasumber Nasional dilakukan oleh direktorat-direktorat di Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) berdasarkan jenjangnya, yaitu SD, SMP, SMA, dan SMK. Narasumber Nasional terdiri dari guru, pengawas, penulis buku, dan pejabat Kemendikbud yang terlibat dalam penyusunan Kurikulum 2013, yang ditunjuk dan ditetapkan direktorat-direktorat di Ditjen Dikdasmen.
Share:

Senin, 04 April 2016

Pelatihan Kurikulum 2013 Pascarevisi Gunakan Metode Pembelajaran Aktif


Depok, Kemendikbud --- Revisi Kurikulum 2013 telah selesai. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memulai pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 pascarevisi dengan metode yang berbeda dibanding pelatihan-pelatihan sebelumnya. Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 didesain secara interaktif dan partisipatif oleh Narasumber Nasional dan tim fasilitator. Selama pelatihan, para Instruktur Nasional dirangsang untuk mengelaborasi seluruh pemikiran dan kemampuannya dalam bentuk diskusi kelas.

"Kita ingin yang bisa jadi Instruktur Nasional adalah orang-orang yang mencerminkan kurikulumnya. Guru berubah peran sebagai fasilitator, yaitu fasilitator pembelajar, sehingga anak-anak juga belajar aktif," ujar Mendikbud Anies Baswedan usai penutupan Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 di Pusdiklat Kemendikbud, Depok, Jawa Barat, (24/3/2016).

Mendikbud mengatakan, dari 666 peserta pelatihan Instruktur Nasional, ada 598 orang yang ditetapkan lolos seleksi sebagai Instruktur Nasional. Pelatihan menggunakan metode diskusi dan pembelajaran aktif. Para peserta diberi pembekalan tentang materi Kurikulum 2013, kebijakan umum Kemendikbud, serta metode pembelajaran yang aktif. Sebagian besar Instruktur Nasional terdiri dari unsur guru. Mendikbud berharap pelatihan ini dapat mendorong guru memiliki sifat pembelajar, yaitu memiliki motivasi untuk terus belajar, juga mempunyai pikiran yang terbuka, serta dapat mengikuti perkembangan zaman.

"Kita ingin semua guru-guru kita adalah guru-guru yang mencerahkan dan membuat anak-anaknya cinta belajar," tutur Mendikbud.

Ia menuturkan, setelah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013, guru diharapkan dapat berubah peran menjadi fasilitator pembelajaran yang membuat siswa menyenangi kegiatan belajar-mengajar. "Jangan sampai kurikulum baru tapi cara mengajarnya masih (cara) lama," katanya.

Mendikbud juga berharap agar para Instruktur Nasional yang telah mendapat pelatihan di Pusdiklat Kemendikbud tersebut dapat menularkan metode dan motivasi selama pelatihan kepada rekan-rekannya di daerah. Para Instruktur Nasional juga harus dapat berimprovisasi, karena kondisi yang berbeda di tiap daerah. "Sehingga nantinya anak-anak kita benar-benar jadi anak-anak yang siap berkompetisi di abad 21," ucapnya.
Share:

Kamis, 31 Maret 2016

Ujian Nasional 
 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sampai saat ini terdapat sejumlah sekolah di Indonesia yang masih menggunakan Kurikulum 2006. Namun beberapa sekolah lainnya juga sudah ada yang menerapkan Kurikulum 2013 (K-13).

 Meski terdapat perbedaan dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan tidak ada perbedaan soal Ujian Nasional (UN).
"Yang diukur capaian kompetensi kelulusannya," ungkap Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kemendikbud, Nizam kepada wartawan di Gedung C, Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Senin (28/3). Menurutnya, perbedaan di kedua kurikulum ini hanya pada pembelajaraan atau praktiknya saja.

Nizam juga menambahkan, tingkat kesulitan soal antara UNBK dan UN Kertas Pensil (UNKP) juga sama. Keberagaman soal di dua jenis UN ini, dia melanjutkan, juga sangat banyak. Oleh sebab itu, tingkat kecurangannya pun diharapkan bisa berkurang dibanding tahun lalu.

Sebagai informasi, penyelengaraan UN termasuk UNBK dan UN Kertas Pensil (UNKP) di SMA akan dilaksanakan 4 – 6 April 2016 sedangkan SMK hingga 7 April. Ujian susulan pada tingkatan ini akan dilakukan pada 11 – 13 April sedangkan SMK sampai 14 April.

Selanjutnya pada tingkat SMP/sederajat akan diselenggarakan pada 9 – 12 Mei 2016. Sementara UN susulannya akan dilaksanakan pada 16-19 Mei 2016.

Sementara itu, Nizam juga menambahkan, sekitar 900 ribuan siswa dipastikan akan mengikuti UNBK 2016. Angka tersebut terdiri dari 144.992 di tingkat SMP dan 11.971 siswa Mts.
Pada tingkat SMA terdapat 284.114 siswa, 19.342 di Madrasah Aliyah (MA) dan 498.830 di SMK. Selanjutnya sebanyak 287 siswa mengikuti UNBK di SMP Terbuka.

Sumber : http://nasional.republika.co.id

 
Share:

Rabu, 30 Desember 2015

Silabus Kurikulum 2013 SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5, Dan 6

Gratis Download Silabus Kurikulum 2013 SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5, Dan 6

Silabus Kurikulum 2013 untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 telah diterapkan secara bertahap mulai tanggal 15 Juli 2013. Namun tidak ada salahnya kami berikan silabusnya kepada para pendidik untuk mempermudah kami rangkum dalam satu artikel.

Untuk membantu sobat pendidik semua, admin ingin berbagi sedikit yang admin dapat dari internet juga, Silabus Kurikulum 2013 untuk SD/MI. Silahkan di download, karena ini gratis atau free.
 
 
OK, langsung saja :
 
 
A. Download Silabus Kurikulum 2013 Kelas 1
 
 
B. Download Silabus Kurikulum 2013 Kelas 2
 
 
Download Silabus SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5, Dan 6 Kurikulum 2013
D. Download Silabus Kurikulum 2013 Kelas 4
 
 
E. Download Silabus Kurikulum 2013 Kelas 5
Tema 1 Benda-Benda di Lingkungan Sekitar disini
Tema 2 Peristiwa dalam Kehidupan disini
Tema 3 Kerukunan dalam bermasyarakat disini
Tema 4 Sehat Itu Penting disini
Tema 5 Bangga sebagai Bangsa Indonesia disini

Dan  Berikut Buku Pegangan Siswa nya:
1.BS Kelas V Tema 1 Klik disini
2.BS Kelas V Tema 2 Klik disini
3. Buku Kurikulum 2013 Kelas v Tema 3 klik disni
4. Buku Kurikulum 2013 Kelas v Tema 4 klik disini
5. Buku Kurikulum 2013 Kelas v Tema 5 Klik disini

F. Download Silabus Kurikulum 2013 Kelas 6
 
 
Demikian artikel Download Silabus SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5, Dan 6 Kurikulum 2013 yang dapat admin sampaikan, silabus ini sebagai bahan acuan dalam membuat RPP Kurikulum 2013 untuk menyampaikan materi yang anda ajarkan kepada murid anda.


source : www.sekolahku.xyz
Share:

Senin, 28 Desember 2015

Kurikulum Nasional Segera Ganti Kurikulum 2013......?

Polemik pemilihan kurikulum nampaknya belum akan menemui titik kejelasan yang pasti. Saat ini, yang sebagian sekolah sudah menerapkan K-13 (meski banyak yang belum) gagasan dari Menteri Pendidikan sebelum Anies Baswedan akan segera diganti dengan kurikulum yang baru lagi. Entah akan seperti apa model kurikulum baru yang recananya akan diberi nama dengan Kurikulum Nasional ini. Apakah dari K-13 hanya berganti nama saja namun dengan isi yang tetap sama atau justru sama sekali berbeda dengan kurikulum sebelumnya.
Menurut kabar yang santer beredar di beberapa media online, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan berencana segera meluncurkan kurikulum baru bernama Kurikulum Nasional. Kurikulum Nasional ini, nantinya akan menjadi pengganti kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum 2013 yang dibuat pada masa Menteri Pendidikan sebelumnya yaitu M. Nuh. Nama kurikulum baru ini hanya Kurikulum Nasional begitu saja, tanpa ada embel-embel tahun di dalamnya. Dengan keberadaan Kurikulum Nasional ini, menurut beberapa sumber nantinya K-13 bakal dikupas menjadi tiga bagian atau tiga jenis.
Tjipto Sumardi, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud tidak membantah bahwa Kurikulum Nasional nanti harus beraneka ragam. Karena hal ini sesuai dan sejalan dengan pasal 36 dan 37 UU 20/2003 yang membahas mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Dalam penyusunan kurikulum baru ini, pihaknya tidak hanya sendirian namun juga mengundang banyak pakar dan praktisi pendidikan untuk turut serta memberikan masukan serta arahan dalam penyusunan Kurikulum Nasional. Penyusunan ini dimaksudkan untuk membuat siswa tidak terlalu terbebani dengan mata pelajaran yang semakin berat.
Kemendikbud sendiri menegaskan bahwa meski nantinya Kurikulum Nasional ini mengganti K-13, namun tidak akan menambah jam belajar siswa per pekannya. Untuk evaluasi K-13 sendiri akan segera selesai pada bulan Januari 2016 depan. Dan sesuai arahan dari Mendiknas Anies Baswedan, hasil evaluasi K-13 harus bisa diaplikasikan pada tahun pelajaran 2016/2017 tahuun yang akan datang. Meski dalam beberapa kesempatan Anies Baswedan sering mengatakan bahwa evaluasi terhadap Kurikulum 2013 akan selesai pada tahun 2015, namun bisa selesai pada tahun 2016.
sumber : www.infoguruterbaru.com/2015/12/kurikulum-2013-segera-diganti.html
Share:

Postingan Populer