Blog informasi seputar dunia pendidikan

Tampilkan postingan dengan label PDSP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PDSP. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2016

Para Guru, Inilah 7 Kunci Mencerdaskan Murid

 Ilustrasi proses belajar mengajar di kelas.

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur Dr. KH Asep Saifuddin Abdul Chalim menyebutkan sejumlah tips agar murid-murid sukses dalam menyerap ilmu pengetahuan.

Menurut Kiai Asep, kunci pertama adalah al-jiddu wal muwazhabah atau berkesungguhan dan ajeg dalam berkesungguhan. Berkesungguhan dan terus berkesungguhan.

Misalnya tidak benar apabila murid tidak diberi pekerjaan rumah (PR). Tetapi PR harus merangsang bersangkutan untuk kelanjutan proses belajar, tidak berhenti saat di sekolah saja.

“PR itu harus dimulai dari yang mudah, kemudian yang setengah sulit, baru agak sulit. Tetapi yang mudah itu bisa menggiring pada yang setengah sulit,” jelasnya, Kamis (27/10) di Mojokerto.

Kedua, taqlilul ghidza atau menyedikitkan makan. Murid harus dibiasakan jangan banyak makan atau makan tidak boleh sampai kekenyangan. Sebab menurut ilmu kedokteran, kenyang itu datang 10 menit setelah makan. “Sementara kenyang itu menghilangkan kecerdasan,” tambahnya.

Ketiga, mudawamatul wudlu’ yakni murid itu harus selalu mempunyai wudhu dan gurunya pun harus punya wudhu.

Keempat, tarkul ma’aashi, atau tidak boleh bermaksiat. “Di dalam Al-Quran disebutkan ‘dosa itu membebani dirimu’. Ketika seorang murid membawa pelajaran dari gurunya, membawa beban dipundaknya, secerdas apapun tidak akan mengerti dengan pelajaran yang dipelajarinya.”

Kelima, qira’atul Qurani nazhran, atau membaca Al Quran dengan dilihat Al-Qurannya. “Ketika kita membaca Al-Quran dengan melihat huruf-hurufnya, kita akan dipaksa untuk berkonsentrasi. Berkonsentrasi itu latihan kecerdasan.”

Keenam, melaksanakan shalat malam. Dengan shalat malam sebagai kendaraan untuk keberhasilan cita-cita.
Ketujuh, tidak boleh jajan di luar, di pasar. Dalam salah satu kitab kuning ada penjelasan bahwa makanan di luar lebih mendekati kepada ketidaksucian.

Jajan di luar itu di tempat terbuka, banyak orang yang melihatnya, lalu memiliki keinginan untuk memiliki atau menikmatinya. Namun tidak bisa membeli karena tidak punya uang. Kalau makanan terkondisikan seperti itu, hilang barakahnya.

“Akhirnya akan mengantuk dalam mengikuti pelajaran. Ketika kantuk dalam mengikuti pelajaran, murid tidak mungkin akan mengerti,” tegas kiai yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.



Share:

Jumat, 09 September 2016

PGRI Dukung Penerapan Pendidikan Karakter

Pelaksana Tugas Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan pihaknya mendukung penerapan pendidikan karakter yang sedang dirancang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Kami mendukung pendidikan karakter menjadi program prioritas pendidikan dan kebudayaan," ujar Unifah di Jakarta, Kamis (8/9).

Dia menyampaikan dengan memberikan prioritas terhadap pendidikan karakter menjadi ikhtiar untuk mengantarkan anak didik menjadi generasi emas berakhlak mulia, tekun, berbudi, teguh, serta gigih dalam mengahadapi berbagai tantangan.

"Dalam hal ini guru memegang peranan penting. PGRI sebagai organisasi profesi yang terus berusaha ikut memberikan yang terbaik bagi bangsa. Dalam upaya Kemendikbud ini menunjukan iktikad kuat, pemahaman mendalam tentang persoalan pendidikan dan menguraikannya," kata Unifah.

Sementara itu, Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan pendidikan karakter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam dalam proses pendidikan dan kebudayaan, dan menjadi bagian dalam proses belajar mengajar di sekolah. Mendikbud mengatakan kurikulum yang berlaku saat ini memerlukan perhatian pada penambahan proporsi pendidikan karakter tanpa harus merombak kurikulum.

"Untuk itu Kemendikbud menetapkan Program Penguatan Karakter (PPK) dengan menambahkan durasi waktu anak didik di sekolah ataupun di luar sekolah dalam tanggungjawab sekolah sebagai rumah kedua," jelas Mendikbud.

Dengan adanya PPK, kata Mendikbud, diharapkan dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan kondusif, sehingga para siswa merasa senang belajar di sekolah. Penempatan sekolah sebagai rumah kedua juga diharapkan para siswa dapat mengisi waktunya di sekolah dengan berbagai kegiatan yang positif.


Share:

Pendidikan Kebangsaan Ampuh Lawan Radikalisme Sejak Dini

Pengamat berpendapa pendidikan kebangsaan harus kembali ditekankan di sekolah-sekolah formal. Pendidikan kebangsaan sejak dini masih dianggap ampuh untuk melawan radikalisme.

“Sekarang, kecenderungan anak-anak remaja untuk menaruh perhatian pada paham radikal memang semakin banyak. Ini terkait dengan pola pendidikan formal yang sangat terbuka dan jika diperhatikan, sekolah-sekolah itu kian minim memberikan pendidikan kebangsaan kepada para siswa, padahal ini penting diajarkan sejak dini,” kata pengamat pendidikan, Darmaningtyas kepada media, Kamis (8/9).

Pendidikan kebangsaan ini menurut Darmaningtyas itu bisa berupa diadakannya upacara bendera setiap Senin. “Ketika siswa menghormati bendera, mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, mereka belajar tentang bagaimana menghargai sejarah bangsanya. Ditambah pengajaran tentang nilai-nilai pluralism, misalnya di siswa-siwa yang berasal dari suku dan agama yang berbeda,” kata Darmaningtyas.

Dengan menghargai sejarah bangsanya, maka diyakini para siswa akan memiliki sikap skeptis (mempertanyakan) ketika faham-faham radikal mereka dapat dari internet atau teman mereka. “Siswa yang mendapat pendidikan kebangsaan yang cukup dan memahami pluralisme dengan baik, akan bertanya kepada orang tua, atau guru jika mereka mendapat faham radikal dari sekelilingnya. Setidaknya mereka punya early warning terdahap faham itu. Itu cara ampuh untuk melawan radikalisme sejak dini,” kata Darmaningtyas.

Menurutnya, pengajaran kebangsaan yang seperti ini masuk dalam kartagori hidden kurikulum. "Hidden kurikulum ini justru gampang meresap di benak para siswa dibanding kurikulum formal yang diajarkan. Hidden kurikulum itu nilai-nilai yang diajarkan dan sesuai dengan pandangan Indonesia. Yang juga termasuk dalam hidden kurikulum ini adalah nilai-nilai sopan santun, cinta tanah air, kebangsaan dll," ucap dia.

Ironisnya sekarang ini, menurut Darmaningtyas, dengan mengatas-namakan otoritas sekolah, keterbukaan dll, sedikit sekolah yang mengajar faham kebangsaan. “Persoalannya bukan di kurikulum formal. Kini banyak sekolah-sekolah swasta bahkan negeri yang baru berdiri, tidak lagi melakukan hidden kurikulum itu yaitu upacara bendera atau kegiatan-kegiatan cinta tanah air yang lain. Mereka justru memberikan pemahaman yang sesuai dengan keyakinan atau pemahaman pendiri atau pemilik sekolah, dan mengesampingkan nilai cinta tanah air dan kebangsaan itu. Pemahaman pemilik sekolah itu kadang tidak berakar dari kondisi Indonesia yang pluralis dan mengandung hal-hal yang berbau radikal, meski tidak semua seperti itu,” kata Darmaningtyas.

Sedangkan sekolah-sekolah negeri dan swasta yang sudah lama berdiri, menurutnya, relative masih intens mengajarkan faham kebangsaan sejak dini. Para penilik sekolah yang mengontrol pengajaran di sekolah-sekolah sampai sekarang masih ada, tapi menurut Darmaningtyas, kurang berperan optimal. Mereka sekadar menjalankan tugas dibandingkan melakukan control secara intensif ke sekolah-sekolah,” katanya.

Dengan berbagai masaah di atas maka tidak heran jika paham radikalisme cepat menjalar ke siswa-siswa yang masih belia. Salah satu solusi untuk hal itu menurut Darmaningtyas, adalah ketegasan dari pemerintah soal pengajaran-pengajaran radikal di sekolah-sekolah dan himbauan kepada sekolah-sekolah untuk mengajarkan kembali hidden kurikulum, sehingga siswa bisa lebih menghargai sejarah dan berbagai perbedaan Indonesia.

 
Share:

Mendikbud Dukung Kebijakan Bupati Soal PR Diganti Tugas Kreatif

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi melarang pelajar diberikan pekerjaan rumah (PR) dan digantikan dengan tugas kreatif. Kebijakan pria yang akrab disapa Kang Dedi itu mendapat dukungan dari Mendikbud Muhadjir Effendy.

"Saya kira itu baik. Memang seharusnya seperti itu," ujar Muhadjir dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/9/2016).

Hanya saja menurut Muhadjir, itu bukan berarti Kemendikbud akan mengeluarkan kebijakan serupa untuk diterapkan di daerah lain. Namun ia menegaskan mendukung langkah Kabupaten Purwakarta tersebut yang dikeluarkan melalui Surat Edaran (SE) No 421.7/2014/Disdikpora tentang Pemberian Tugas Kreatif Produktif Pengganti Pekerjaan Rumah dan Larangan Penyelenggaraan Karya Wisata.

"Itu karena sekolah saat ini berada di dalam wilayah otonomi pemerintah daerah," kata Muhadjir.

"Tetapi semua kebijakan untuk pendidikan yang lebih bagus, pasti akan kami dukung," imbuh dia.

Seperti diketahui, Bupati Dedi mengeluarkan larangan pemberian PR dan Pemberlakuan Karya Wisata sejak SE dikeluarkan pada Senin (5/9). Kebijakan tersebut berlaku untuk sekolah SD, SMP, dan SMA/K se-Kabupaten Purwakarta.

Dalam surat edaran tersebut Dedi melarang guru untuk memberikan PR yang bersifat akademis. Namun PR diganti pada hal yang bersifat kreatif, produktif, dan sesuai dengan minat atau bakat anak.

"Kita ini terlalu memikirkan akademis, tapi sisi kreatifitas dan produktifitas tidak ada. Cukup saja hal yang akademis itu dihabiskan di sekolah, jangan dibawa ke rumah sebagai PR. Saya sering lihat anak di rumahnya malah depresi karena mengerjakan PR," ucap Dedi, Senin (5/9).

Dedi mencontohkan, pelajar yang seorang anak peternak bisa diberikan pekerjaan rumah seperti membuat puisi atau cerpen mengenai hewan peliharaannya sesuai bidang akademis Bahasa Indonesia. Sementara untuk pelajaran matematika, sang anak diberi tugas menghitung luas kandang miliknya agar kelak bisa membuat sendiri dengan luasan dan kualitas yang layak.

Sementara itu soal larangan karya wisata, Dedi memiliki alasan yang kuat. Menurutnya, selama ini karya wisata malah membebankan para pelajar seolah hal tersebut bersifat wajib. Sementara pelajar yang tidak ikut karya wisata dibebankan dengan tugas yang tidak relevan.

"Judulnya saja karya wisata atau study tour tapi kan itu intinya hanya main. Terus yang tidak ikut disuruh bikin makalah yang susah-susah biar kesannya mending ikut dibanding mengerjakan itu. Lebih baik piknik ya piknik saja, tidak ada keharusan," tutup Dedi. 


Share:

Kamis, 28 Juli 2016

GURU JANGAN MINDER DENGAN MINIMNYA INFRASTRUKTUR

Sekolah yang baik tidak identik dengan infrastruktur yang baik akan tetapi justru terletak pada gurunya yang baik dan berkualitas. Hanya guru yang berkualitaslah yang akan merubah kendala minimnya sarana prasarana menjadi sebuah tantangan untuk kreatif. "Karena itu marilah serentak memperbaiki guru", ujar Dr. H. Mohsen, MM selaku pejabat sementara (Pjs) menggantikan Direktur PAI sebelumnya Dr. Amin Haedari yang memasuki masa purna tugas sejak bulan Juli 2016. Di depan 60 peserta kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru PAI SD Angkatan 5 di Surabaya, 26 Juli 2016 Mohsen berharap selesai mengikuti pelatihan para GPAI mampu menebar keberkahan untuk sekelilinya terutama di daerahnya masing-masing di Jawa Timur.

Pelatihan Kompetensi Guru yang diselenggarakan Direktorat PAI merupakan upaya memperbaiki kemampuan guru yang terukur waktunya. Dengan didampingi instruktur yang mumpuni dan pendekatan assesment (penilaian) diharapkan para guru akan mendapatkan pengetahuan sekaligus skill yang memang menjadi kebutuhan saat ini. "Di negara maju, pendidikan tidak dimulai dengan kurikulum awal, akan tetapi berdasar pada kebutuhan apa di saat ini?" tambah Mohsen. Untuk itu agar guru berhasil, ia memberikan motivasi menarik. "mengajar jangan hanya dianggap tugas tapi bagian dari kesenangan sekaligus seni dalam kehidupan. Jika tidak dijadikan seni, maka mengajar tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri."

Sementara itu Kasubdit PAI SD Dr. Halfian Lubis, dalam pembukaan acara menyampaikan bahwa program PKG yang berbasis ICT ini merupakan upaya penting dalam mengatasi 5 permasalahan guru PAI yang lazim yakni rendahnya penguasaan materi keilmuan, lebih menekankan ranah kognitif, belum memadainya pengunaan media, sumber dan sarana, penguasaan metode yang masih berfokus pada guru (teacher centered learning) dan penguasaan ketrampilan penilaian pembelajaran yang masih rendah.



Share:

Rabu, 20 Juli 2016

Menentukan Sistem Pendidikan di Indonesia


Dengan ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki kondisi alam yang berbeda. Mulai dari pegunungan, hingga laut dan pantai. Perbedaan kondisi alam tersebut pun seharusnya menjadi dasar untuk menentukan sistem pendidikan.

"Anak-anak Indonesia kan ada yang tinggal di dekat gunung sampai pantai. Kenapa pendidikan yang ada tidak disesuaikan saja dengan kondisi tempat mereka tinggal. Kenapa standarnya harus menggunakan gedung sekian luasnya dan sejumlah standar lainnya. Kalau yang tinggalnya di Papua bagaimana?" ujar Konsultan ACDP Indonesia untuk Studi Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu PAUD, Dr Gutama dalam diskusi ACDP, "Apa Itu Sekolah Ramah Anak dan Mengapa Itu Sangat Penting?" di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (20/7/2016).

Menurutnya, sekolah ramah bukan hanya terbentuk dari standar-standar fisik seperti memiliki gedung sekolah dan fasilitas lengkap. "Namun sekolah ramah adalah sekolah yang bisa menyesuaikan kondisi mereka," ujarnya.

Gutama juga berpendapat bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi akar bagi terbentuknya pendidikan yang baik di masa mendatang. Apalagi masa PAUD adalah anak-anak dengan usia emas, sehingga perlu diberikan stimulasi yang tepat.

"Di Singapura, mereka sudah memperhatikan pendidikan sejak anak masih di dalam kandungan. Mereka juga sadar bahwa PAUD adalah fondasi untuk membentuk orang-orang hebat di masa mendatang. Anak usia dini itu membutuhkan stimulus yang terus menerus," katanya.

Gutama mengakui, perkembangan teknologi telah membuat metode pembelajaran menjadi lebih bervariasi dan mudah. Namun tetap saja, peran guru tidak boleh tergantikan.

"Teknologi boleh menjadi bagian dari pendidikan, tapi kunci dari pendidikan itu sendiri adalah guru. Karena gurulah yang akan memberikan inspirasi kepada siswanya," tambahnya.



Share:

Awali Pendidikan dengan Akal Sehat

Masa orientasi siswa baru sering menjadi momen yang ditakuti akibat budaya perpeloncoan, yang oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, disebut tak berakal sehat. Untuk menyehatkan momen awal pendidikan tersebut, Menteri Anies Baswedan menegaskan, atribut yang digunakan siswa baru saat menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah adalah atribut resmi sekolah, bukan yang  aneh-aneh dan terkesan merendahkan akal sehat. Aturan pun dirinci dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru.

“Jadi tidak ada topi aneh-aneh, tas dari kantong plasting atau karung, atau tugas yang tidak masuk akal, seperti menghitung beras, menghitung kacang hijau, berbicara dengan tanaman, atau berbicara dengan spion. Saya pernah mengalami disuruh berbicara dengan spion. Itu kan merendahkan akal sehat. Sekolah seharusnya menjadi tempat berkembangnya akal sehat,” ujar Menteri Anis dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis, 14 Juli 2016.

Lebih lanjut, Menteri Anis menegaskan, dalam Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016, diatur masa pengenalan lingkungan sekolah harus 100 persen diselenggarakan oleh guru. “Waktunya pun dilakukan saat jam pelajaran sekolah. Pengenalan lingkungan sekolah dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 3 hari pada pekan pertama awal tahun pelajaran,” ujarnya.

Agar peraturan ini dipahami dan tersebar dengan benar, sosialisasi tentang Permendikbud telah dilakukan, baik secara struktural maupun kampanye di berbagai media. “Kami memanggil semua kepala dinas (pendidikan). Kami lakukan sosialisasi secara detail. Kami juga sampaikan kepada para pengawas (sekolah). Peraturan sudah disebar ke setiap sekolah. Kami melakukan kampanye dengan berbagai media, misalnya media sosial dan media massa,” tutur Mendikbud.

Sebagai alat kontrol, dalam Permendikbud dilampirkan daftar kegiatan wajib dan kegiatan pilihan yang bisa dilakukan guru dan siswa baru untuk menjalankan masa pengenalan lingkungan sekolah. Pengenalan lingkungan sekolah wajib berisi kegiatan yang bermanfaat, bersifat edukatif, kreatif, dan menyenangkan. Kepala sekolah bertanggung jawab penuh atas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengenalan lingkungan sekolah.

Masyarakat juga diimbau melaporkan ke Kemendikbud jika menemukan penyimpangan atau tindakan perpeloncoan dalam masa pengenalan lingkungan sekolah. Tanpa perlu rebpot, kita bisa melapor secara online melalui sekolahaman.kemdikbud.go.id dan layanan SMS di 0811976929.

Dengan Permendikbud tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru ini, praktek perpeloncoan bisa dihilangkan. Masa pengenalan lingkungan sekolah dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa tindakan perpeloncoan yang mengabaikan akal sehat.



Share:

Sabtu, 16 Juli 2016

Tradisi Hari Pertama Sekolah di Berbagai Negara

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah. Dalam Surat Edaran tersebut Mendikbud Anies Baswedan mengimbau masyarakat untuk mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah. Momen menyambut hari pertama sekolah, khususnya di jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar, tidak hanya meriah di Indonesia, melainkan juga di negara lain.

Negara-negara yang memiliki tradisi khusus saat hari pertama sekolah antara lain Rusia, Jerman, India, Selandia Baru, dan Jepang. Di Rusia, sekolah dimulai pada tanggal 1 September. Hari pertama sekolah disebut sebagai hari pengetahuan. Merupakan hari yang sangat penting bagi anak yang pertama kali masuk ke sekolah. Sekolah mengadakan upacara penyambutan khusus untuk para murid baru beserta keluarganya. Anak-anak akan memakai baju yang terbagus miliknya dan membawa bunga untuk guru mereka. Di hari pertama ini, anak-anak mengikuti tradisi lonceng pertama. Salah satu anak kelas satu SD akan naik di pundak kakak kelasnya. Kemudian mereka akan memutari halaman sekolah sambil membunyikan lonceng sekolah. Semua orang tua yang datang akan bertepuk tangan memberikan semangat.

Hari pertama sekolah di Jerman bernama Einschulung. Tradisi ini hanya dilaksanakan oleh anak kelas satu SD. Ketika hari pertama datang ke sekolah, mereka akan menerima tas yang berbentuk kerucut. Tas ini namanya schultute, yang berarti tas sekolah. Di dalamnya terdapat permen, hadiah dan juga perlengkapan sekolah. Setelah isi di dalam tas kerucut itu diambil anak-anak, kemudian tas yang sudah kosong tersebut dikumpulkan kembali ke sekolah. Tujuannya untuk digantung di langit-langit kelas sehingga mengingatkan murid bahwa sekolah itu menyenangkan.

Upacara penyambutan anak baru di India disebut dengan praveshanolsavam. Berbagai cara yang dilakukan sekolah-sekolah dalam menyambut murid barunya. Ada yang menyelenggarakan pawai sekolah, semua anak baru akan keliling lingkungan sekolah dengan iringan arakan musik dan balon. Ada juga yang menyelenggarakan chendamelan, yaitu pertunjukan musik drum yang dilakukan sekelompak kakak kelas laki-laki untuk menyambut adik kelas mereka. Semua area sekolah dihias dengan indah dan murid baru akan mendapatkan hadiah permen.

Hari pertama sekolah di Selandia Baru dimulai pada bulan Februari. Di Selandia baru ada suku asli yang bernama Maori, oleh karena itu upacara penyambutan anak sekolah menggunakan adat suku Maori, yang disebut dengan Powhiri. Pada acara ini ada guru yang meneriakkan panggilan semangat selamat datang. Setelah itu sekelompok kakak kelas akan menarikan tarian selamat datang dengan penuh semangat. Tarian ini diikuti dengan hentakan kaki, tepuk tangan dan teriakan penuh semangat. Semua yang menyaksikan menjadi terbawa semangat baru pada tahun ajaran baru.

Berbeda dengan Selandia Baru, sekolah-sekolah di Jepang memulai hari pertamanya di tanggal 1 April.  Tanggal ini ditetapkan karena simbol dari mekarnya bunga sakura. Saat musim semi dimulai, murid-murid baru itu bagaikan bunga sakura, harapan bangsa. Hari pertama sekolah menjadi sebuah perayaan di Jepang. Para kerabat memberi hadiah pada anak yang jadi siswa baru. Hadiah utama adalah tas kotak dan keras yang disebut randoseru. Hadiah yang spesial adalah meja belajar baru di dalam rumah. Kemudian di sekolah-sekolah Jepang, siswa baru dan para orang tua disambut oleh nyugakushiki,  yaitu seremoni pintu masuk yang ditandai dengan potong pita. Kemudian para siswa dan orang tua dipandu berkeliling sekolah diiringi nyanyian selamat datang dari kakak-kakak kelas yang berbaris layaknya pagar ayu/ pagar bagus dalam pernikahan Jawa.

Terlepas dari beragam tradisi di berbagai negara, hari pertama sekolah tetap menjadi momen istimewa bagi anak, orang tua, dan guru. Karena itu Kemendikbud melakukan kampanye Hari Pertama Sekolah yang mengajak orang tua mengantar anaknya di hari pertama sekolah. Hari Pertama Sekolah menjadi kesempatan mendorong interaksi antara orang tua dengan guru di sekolah untuk menjalin komitmen bersama dalam mengawal pendidikan anak.



Share:

Rabu, 22 Juni 2016

Layanan Informasi dan Pengaduan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI



Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menghadirkan layanan informasi dan pengaduan terpadu. Pada laman ini, masyarakat dapat meminta informasi, menyampaikan pengaduan, bertanya, berdialog, memberikan saran dan masukan dengan nyaman dan memperoleh kepastian mendapatkan tanggapan yang baik dan profesional.

Sistem layanan terpadu ini, merupakan aplikasi web terintegrasi dengan email, SMS dan telepon. Kami berharap melalui layanan ini, masyarakat dapat memanfaatkannya dengan baik dan kami berupaya untuk terus meningkatkan pelayanan yang ada di Kemdikbud.
Selamat menggunakan dan semoga bermanfaat.


Sumber : Kemendikbud 
 
Share:

Minggu, 19 Juni 2016

Presisi Kurikulum dan Materi Penting dalam Membangun Intelektualitas

Prie GS, Budayawan Nasional asal Semarang, Jawa Tengah.
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Budayawan nasional asal Semarang, Jawa Tengah Prie GS menyampaikan orasi budaya di hadapan instruktur nasional Pendidikan Agama Islam (PAI), akhir pekan lalu di Jakarta. Pria yang juga motivator ini menjelaskan terkait ketepatan (presisi) menyusun kurikulum untuk membangun intelektualitas yang mantap secara budaya.

Di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas pendidikan ini, Prie GS memberikan uraian presisi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari perspektif tokoh dan model tidur seseorang. Dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia ini, menurut Prie penting memahami presisi dan ketenangan.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Kemenag ini, dia memaparkan satu per satu model tidur yang selama ini diamatinya, mulai dari tidurnya seorang kepala kantor hingga anak-anak. Menurut Mas Prie, sapaan akrabnya, manusia bisa belajar dari kemurnian tidurnya anak-anak.

Anak-anak, menurutnya, bisa tidur dalam posisi apapun dan dimana pun. Kemurnian ini terkait dengan kehidupan manusia yang terkadang terlalu sibuk dengan kehidupan dunianya sehingga melupakan sisi kemanusiaan pada dirinya.

“Setingkat di bawah anak-anak adalah tidurnya seorang tunawisma. Bayangkan, mereka bisa tidur dengan tenang di atas jembatan tipis yang melintang di atas saluran air. Jika gerak dan miring sedikit saja, selesai itu,” ujar Prie menerangkan foto yang ditunjukkannya melalui slide presentasi diikuti riuh tawa ratusan peserta.

Hal ini, imbuhnya, terkait dengan ketepatan dan ketenangan. Sehingga dalam menyusun kurikulum dan materi pelajaran, para pendidik hendaknya tepat dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi anak-anak, khususnya di zaman modern seperti sekarang. Dia bukan tanpa alasan, karena generasi muda sering dijadikan sasaran agitasi bagi kepentingan kelompok tertentu.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Prie dengan memaparkan tokoh nasional dan internasional dari sisi budaya presisi dan ketenangan. Dia secara apik menjelaskan presisi yang dilakukan oleh pebalap Moto GP Valentino Rossi, pebalap Formula 1 Michael Schumacher, Aktor Holywood Tom Cruise, dan penyanyi internasional Maria Carey dalam menjalani profesinya.

Prie juga menjelaskan tentang Presisi budaya dan ketenangan dari seorang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang selama ini dia kagumi. Menurut Prie, Gus Dur mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Anehnya, kata dia, Gus Dur kerap hanya melempar joke atau humor dengan tenang. “Selesai masalah,” celetuk Prie diikuti gerrr peserta.
 
 
 
Share:

Jumat, 10 Juni 2016

PENGUMUMAN REKRUTMEN, SELEKSI, PENEMPATAN PROGRAM SM-3T TINGKAT NASIONAL TAHUN 2016

Akan dibuka rekrutmen, seleksi dan penempatan calon Guru SM-3T Pendidikan Menengah oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendaftaran dimulai  6 Juni 2016 pukul 07:00 WIB – 4 Juli 2016 pukul 23:59 WIB. Syarat dan Jadwal Rekrutmen, Seleksi dan Penempatan adalah sebagai berikut:



PERSYARATAN PENDAFTARAN
  1. Warga Negara Indonesia dibuktikan dengan KTP / SIM yang masih berlaku.
  2. Sarjana dari program studi kependidikan minimal S-1 lulusan tiga tahun terakhir (2014, 2015, 2016) dari program studi  terakreditasi minimal B yang sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran dan atau bidang keahlian yang dibutuhkan; pas foto berwarna, soft copy ijazah dan transkrip nilai di up load bersama borang pendaftaran dari sistem informasi yang ada.
  3. Usia maksimum 27 tahun per 31 Desember 2016.
  4. IPK minimal 3,00; dibuktikan fotokopi transkrip nilai yang telah disahkan (legalisasi).
  5. Berbadan sehat; dibuktikan dengan surat keterangan dokter dari klinik terdaftar / Puskesmas.
  6. Bebas dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza)dibuktikan dengan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) serta Miras dari pejabat yang berwenang.
  7. Berkelakuan baik yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang dikeluarkan oleh Polres/Polresta.
  8. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti Program SM-3T yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterai 6000 rupiah.
  9. Belum pernah mengikuti program SM-3T pada tahun sebelumnya, dan sanggup mengikuti program PPG yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterai.
Bukti persyaratan nomor 1) s.d. nomor 9) dibawa pada saat tes wawancara. Pada saat wawancara peserta juga diminta membawa contoh RPP yang dibuat sendiri (berdasar topik tertentu yang dipilih). Khusus lulusan tahun 2016 yang belum memiliki ijazah, dapat menggunakan Surat Keterangan Lulus (SKL) yang ditandatangani dan/atau diketahui Pembantu/Wakil Rektor Bidang Akademik, sedangkan ijazah dan transkrip nilai asli wajib ditunjukkan pada saat wawancara.

NAMA PROGRAM STUDI YANG DIBUTUHKAN

  1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
  2. Pendidikan Sejarah
  3. Pendidikan Ekonomi
  4. Pendidikan Geografi
  5. Pendidikan IPS
  6. Pendidikan Sosiologi dan Antropologi
  7. Pendidikan Bahasa Indonesia
  8. Pendidikan Bahasa Inggris
  9. Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi
  10. Pendidikan Biologi
  11. Pendidikan Matematika
  12. Pendidikan Fisika
  13. Pendidikan Kimia
  14. Pendidikan IPA
  15. Pendidikan Teknik Bangunan
  16. Pendidikan Teknik Mesin
  17. Pendidikan Teknik Otomotif
  18. Pendidikan Teknik Elektro/Ketenagalistrikan
  19. Pendidikan Teknik Elektronika
  20. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Tata Boga
  21. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Tata Busana
  22. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Tata Rias
  23. Pendidikan Luar Biasa
  24. Pendidikan Guru Sekolah Dasar
  25. Pendidikan Guru Anak Usia Dini
  26. Bimbingan dan Konseling
  27. Pendidikan Seni Budaya (Drama, Tari, Musik)
  28. Pendidikan Seni Rupa

JADWAL REKRUTMEN, SELEKSI DAN PENEMPATAN PROGRAM SM-3T TINGKAT NASIONAL TAHUN 2016


 
Share:

Kemendikbud Pangkas Anggaran Hingga Rp 6.523, 9 miliar

Foto : merdeka.com
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memangkas sejumlah Rp 6.523, 9 miliar (Rp 6.5 T) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, menjadi sebesar Rp 42.605, 9 miliar. Hal ini tercantum di dalam Surat Kementerian Keuangan No. S-377/MK.02/2016. Jumlah penghematan terdiri dari Rp 3.633 miliar untuk efisiensi belanja operasional, dan Rp 2.890, 9 miliar efisiensi belanja lainnya. 

“Kita memangkas 6.5 T, jadi alokasi anggaran Kemendikbud menjadi Rp 42 T, dan ini memang dilakukan karena adanya pengurangan anggaran Kementerian,” jelas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, pada Rapat Kerja Badan Anggaran, di Gedung Dewan Perwakilam Rakyat, Senayan, Jakarta, Senin (6/6/2016). Dijelaskan Menteri Anies, sumber pengurangan berasal dari kegiatan yang bersifat pendukung. “Semua program prioritas kita aman, rehab, dan pembangunan kelas baru. 

Program yang banyak digeser adalah kegiatan-kegiatan yang sifatnya pendukung,” jelas Menteri Anies. Untuk perjalanan dinas (perjadin), Menteri Anies mengungkapkan akan tetap mempertahankannya karena melekat dengan program-program Kemendikbud. “Ini yang berbeda di kementerian lain ada anggaran perjalanan dinas tapi kalau di Kemendikbud itu, anggaran perjalanan dinas itu menempel dengan program,” ujarnya. Dia mencontohkan, ketika ingin melatih guru, Kemendikbud harus ‘menerbangkan’ para guru. 

Selain itu, penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional, ada sekitar 2500 siswa berlomba, yang dimasukkan perjadin. “Jadi, biaya perjadin itu bagian dari program,” ujarnya. Sehingga, terdapat dua strategi efisiensi anggaran yang akan dilakukan. Pertama, strategi penggunaan anggaran tahun 2016 lebih kepada pengurangan volume. “Jadi, yang diterapkan sekarang itu volumenya dikecilkan sebagian tetap jalan tapi volume dikecilkan,” ujarnya. Kedua, penyelenggaraan kegiatan akan lebih melibatkan pemerintah daerah melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK). “Itu strategi kedua, kegiatan tersebut tetap juga kita lakukan tapi dengan memasukkannya lewat Dana Alokasi Khusus (DAK),” ujarnya. Nantinya, Kemendikbud menyiapkan aturan, Petunjuk Teknis (Juknis) untuk melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan melalui anggaran Kemendikbud, tapi menjadi menggunakan anggaran daerah. “Selama kegiatan itu bisa dilakukan, misalnya kita kirim orangnya, sarananya tapi yang selenggarakan itu daerah,” jelasnya. Terkait juknis, Menteri Anies menjanjikan untuk tidak kaku, tapi tetap memberikan batasan-batasan tegas bagi daerah agar tidak disalahgunakan. Sehingga pemerintah daerah bisa lebih rileks, dan tidak kaku melaksanakannya. 

Harapannya, penyerapan anggaran daerah akan lebih baik. Selain itu, batasan-batasan tersebut agar kekuasaan itu tidak disalahgunakan. “Jadi, jangan sampai (aturan) terlalu ketat mereka ga bisa bergerak tapi terlalu longgar aturan itu malah jadi ada abuse dan disalahgunakan,” jelas Menteri Anies. Selanjutnya, terdapat usulan sumber penghematan anggaran, meliputi biaya operasional non gaji (belanja langganan daya, jasa dan pemeliharaan lainnya), pembangunan gedung baru ( yang masih diblokir karena moratorium), pengadaan tanah baru, perjalanan dinas yang tidak terkait dengan kegiatan prioritas, jasa konsultan dan jasa profesi, belanja barang non infrastruktur termasuk kendaraan yang belum terkontrak, dan bantuan pembangunan sarana pendidikan dan peralatan pendidikan yang diserahkan kepada masyarakat/daerah yang jika dikurangi tidak menimbulkan gejolak sosial. *** 

Jakarta, 6 Juni 2016 Biro Komunikasi dan 
Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Share:

Kamis, 02 Juni 2016

Menteri Agama Dorong Terwujudnya Sistem Pelayanan Terpadu

Foto : rmol.co
Menteri Agama memberikan perhatian besar untuk mewujudkan sistem pelayanan terpadu di lingkungan Kementerian Agama," terang Prof. Moh. Isom Yusqi, M.Ag (Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam) di hadapan para peserta Workshop Review SOP Ditjen Pendidikan Islam, Rabu, 1 Juni 2016 di Hotel Salak Heritage, Bogor. Acara tersebut akan berlangsung selama 3 (tiga) hari, yakni pada 1-3 Juni 2016.

Workshop Review SOP dibuka secara resmi oleh Isom Yusqi sekaligus membuka acara Sosialisasi Anugerah Konstitusi Tahun 2016. Dua kegiatan tersebut diselenggarakan pada waktu yang bersamaan tetapi dengan ruangan dan peserta yang berbeda. Peserta Workshop Review SOP adalah perwakilan dari tiap-tiap unit eselon II pada Ditjen Pendidikan Islam yang akan dibagi ke dalam empat kelompok untuk mereview seluruh SOP yang ada.

H. Aceng Abdul Aziz, M. Pd (Kabag Ortala dan Kepegawaian) menerangkan bahwa arti penting dari SOP adalah untuk meningkatkan pelayanan. Dengan prosedur kerja yang jelas dan terukur akan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja pegawai. "Sudah menjadi tugas Bagian Ortala dan Kepegawaian untuk menjalankan program-program yang bermuara pada terwujudnya good government," tuturnya.

Isom Yusqi menilai bahwa kendala yang ada pada Ditjen Pendidikan Islam adalah pada aspek pengimplementasian SOP. "Kita jago menyusun SOP, tetapi lemah dalam pelaksanaannya," tegasnya di hadapan para peserta workshop. Padahal, jika seluruh unsur pada Ditjen Pendidikan Islam komitmen untuk mengikuti SOP maka peningkatan pelayanan akan terwujud.

Terwujudnya sistem pelayanan terpadu sangat ditekankan oleh Menteri Agama. Melalui penerapan pelayanan terpadu akan mampu menyederhanakan alur birokrasi yang berbelit-belit, serta akan mampu menghindari penyimpangan-penyimpangan.

Perbaikan terhadap sistem terus dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas kinerja di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam. 



Share:

Sabtu, 28 Mei 2016

Jumat, 06 Mei 2016

MI. NURUL FALAH CIATER MENERIMA PESERTA DIDIK BARU TA. 2016/2017


MADRASAH IBTIDAIYAH NURUL FALAH CIATER MENERIMA PESERTA DIDIK BARU TAHUN 2016/2017


VISI
Terwujudnya Sumber Daya Manusia Yang Cerdas, Terampil, Mandiri dan Berakhlak Mulia serta Mengenal IPTEK Berlandaskan IMTAQ.

MISI 
Membina Siswa Yang Berprestasi Pada Kecerdasan, Keterampilan, Mandiri, Membekali Diri Dengan Akhlak Mulia Mempunyai Kualitas Di Bidang IPTEK dan IMTAQ.


FASILITAS
  1. Ada 11 Ruang Kelas Yang Nyaman & Layak Sebagai Ruang Utama Dalam Proses Pembelajaran
  2. Lokasi Strategis & Dapat Dijangkau oleh Kendaraan
  3. Sarana Peribadatan Berupa Masjid Yang Terletak Dalam Lingkungan Madrasah
  4. Tenaga Pendidik Yang Profesional Dengan Jenjang Pendidikan Rata-rata S1
  5. Laboratorium Komputer
  6. Perpustakaan
  7. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
  8. Koperasi Sekolah
  9. Peralatan Marawis
  10. Toilet
  11. Dan Lain-lain  

PRESTASI
  1. Juara Umum Tingkat Temu Penggalang I Kecamatan Serpong & Serpong Utara Kota Tangerang Selatan Tahun 2013
  2. Juara Umum Tingkat Penggalang Akra V Kota Tangerang Selatan Tahun 2014
  3. Juara Umum Tingkat Penggalang Akra VI Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  4. Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Indonesia Putri Madrasah Ibtidaiyah (AKSIOMA) Tk. Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  5. Juara 2 Matematika MI (KSM) Tk. Kota Tangerang Selatan Tahun 2015
  6. Juara 1 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016
  7. Juara 2 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016
  8. Juara 3 Karate Putra & Putri (Sirkuit Karate Antar Dojo) Se-Kota Tangerang Selatan Tahun 2016

EKSTRAKURIKULER
  • Pramuka
  • Karate
  • Futsal
  • Marawis

Sarat Pendaftaran :
- Mengisi Formulir Pendaftaran
- Foto Copy Surat Kenal Lahir / Akte Kelahiran
- Foto Copy Ijazah RA / TK
- Foto Copy Kartu Keluarga
- Pas Photo Ukr. 3 x 4 = 2 Lembar

INFO LEBIH LANJUT :
08571503766 (KHATIB, S.Ag)
081399184241 (ANDI, S.Pd.I)
082114295817 (NADIH, S.Pd.I)
085782296694(HAYATUN, S.Pd.I)
085883331336(SYAHRONI, S.Pd)

Share:

Kementrian Agama Berikan BEASISWA S1 KE TIMUR TENGAH

Jakarta (Pendis) - Tanggal 07 - 15 Mei 2016, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) kembali membuka seleksi beasiswa dan non beasiswa ke sejumlah negara yaitu Mesir, Maroko dan Sudan. 

"Maksud Diktis Ditjen Pendis melakukan seleksi penerimaan beasiswa dan non beasiswa tersebut di dalam negeri adalah dalam rangka menjaga kualitas mahasiswa/i yang akan dikirim ke Timur Tengah dan juga mengantisipasi meningkatnya calon mahasiswa mahasiswi yang ingin melanjutkan studi ke kawasan Timur Tengah tersebut," kata Direkur DIKTIS, Amsal Bakhtiar (02/05/2016).

Mengenai pendaftaran, lanjut Amsal, dengan 2 (dua) cara sistem online dan offline. "Pendaftaran via online dilakukan pada tanggal 7 - 15 Mei 2016 melalui http://diktis.kemenag.go.id. Adapun formulir pendaftaran juga dapat di unduh via portal resmi DIKTIS itu juga. Jangan lupa serahkan juga pas foto dan legalisir ijazah. Semua berkas/hard copy harus diserahkan ke lokasi pendaftaran saat pelaksanaan seleksi pada hari Kamis, 19 Mei 2016," tegas alumnus Pesantren Gontor Ponorogo ini. 

Tempat pelaksanaan seleksi ada 9 (sembilan) lokasi yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sumatera Utara, UIN Syarif Kasim Pekanbaru, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Alauddin Makassar, IAIN Antasari Banjarmasin dan IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Mengenai materi ujian, terang mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini, terdiri atas ujian tulis dan ujian lisan.

"Dikarenakan tempat kuliahnya di Timur Tengah maka ujian tulis dan lisannya menggunakan Bahasa Arab. Ujian tulis meliputi pengetahuan Agama Islam, memahami teks, tata bahasa dan insya` (mengarang). Sedangkan ujian lisan mengenai hafalan/bacaan Al Qur`an minimal 2 Juz, percakapan (muhadatsah), terjemah dan pemahaman teks arab," terang Amsal.

Detail Informasi Silahkan Klik Link Di Bawah Ini :
 
Share:

Sabtu, 26 Desember 2015

PDSP Kemdikbud Publikasikan Alur Usul NUPTK Dan Non Aktifkan Tahun 2016

Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Dua mekanisme ini mencakup NUPTK bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag). Bedanya, NUPTK di bawah koordinasi Kemendikbud menggunakan aplikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sementara NUPTK di bawah koordinasi Kemenag masih manual. Rencananya, mekanisme penerbitan dan penonaktifan NUPTK itu akan diberlakukan mulai Januari 2016. Disini memiliki peran penting Verval PTK Kemdikbud yang panduannya lihat pada tautan dibawah Baca Panduan verifikasi dan validasi PTK Berikut gambar alur usul NUPTK dan Non Aktifkan NUPTK

 
Share:

Postingan Populer